JAKARTA – Kementerian Perhubungan sebenarnya sudah memberikan surat teguran dan sanksi kepada maskapai Lion Air. Maskapai tesebut dikenai sanksi tak diberikan izin rute baru selama 6 bulan atas terjadinya keterlambatan penerbangan/delay berulang kali serta pemogokan pilot Lion Air pada 10 Mei 2016.

Namun demikian, alih-alih menanggapi sanksi yang dijatuhkan kepada maskapai yang kerap didera ‘delay’ tersebut, justru Lion Air mengajukan penghentian penerbangan selama sebulan penuh terhadap 227 frekuensi penerbangan.

Direktur Angkutan Udara, Kementerian Perhubungan Maryati Karma mengatakan Kementerian Perhubungan memberikan persetujuan penundaan sementara dari operasi penerbangan pada rute serta nomor penerbangan PT. Lion Air. Menurut Maryati, penundaan penerbangan disampaikan pada 16 Maret 2016.

Adapun jadwal penerbangan yang  diajukan untuk ditunda tersebut adalah sebanyak 93 rute domestik dengan frekuensi 217 penerbangan, dan 2 rute internasional dengan 10 frekuensi penerbangan.

Menurut Maryati, meski demikian Lion Air diminta tak membiarkan begitu saja terhadap penumpang yang sudah terlanjut memesan tiket penerbangan. Para penumpang yang sudah membeli tiket untuk diberikan jadwal penerbangan pada Angkutan Udara lainnya pada rute yang sama tanpa biaya tambahan. “ Lion Air bertanggung jawab untuk mengalihkan penumpang yang telah mempunyai tiket,” ujarnya dalam rilis Kemenhub di Jakarta, Kamis (19/5/2016).

Kemenhub juga mengingatkan apabila hingga batas waktu yang ditentukan tidak dilaksanakan yakni satu bulan sampai dengan 18 Juni 2016 maka kapasitas pada rute dan frekuensi yang tidak dilayani tersebut akan dicabut.

Kemenhub menegaskan sanksi yang diberikan sebelumnya kepada Lion Air agar memperbaiki manajemen operasi penerbangan secara keseluruhan. Kemenhub hanya merinci perbaikan yang harus dilakukan Lion Air adalah terkait SDM, rotasi pesawat, frekuensi penerbangan dan maintanance pesawat. (asr)

 

Share

Video Popular