Erabaru.net. “Kamu telah belajar arsitektur selama 7 tahun dan sekarang menulis artikel setiap hari, sama sekali tidak berhubungan dengan arsitektur, tidakkah merasa waktu 7 tahun itu layak dicampakkan?” Suara di  seberang sana terdengar suara ibu melalui telepon.

Belasan tahun lalu, ketika aku menulis e-mail dari Jerman ke orang tua dan memberitahu mereka bahwa diriku ingin melepaskan profesi arsitek, mereka sangat terkejut dan sedih.

Tidak hanya mereka, dosen di universitas Jerman saya juga menyarankan aku berpikir berulang kali, teman ibuku seorang arsitek di Berlin malah secara terus terang mengatakan, “Jangan kau lakukan hal seperti itu!”

Memikirkan kembali “masa” dulu, tentu aku dapat memahami perasaan orang tua.

20 tahun silam, saya lulus tes masuk ke jurusan arsitektur di sebuah universitas bergengsi di Tiongkok. Universitas ini adalah universitas impian setiap lulusan SMA di Tiongkok, dan arsitektur adalah salah satu jurusan yang terkenal  paling sulit penyeleksiannya.

Perasaan bangga orang tua, pujian kerabat, rasa kagum para teman sekelas adalah tema utama dari musim panas kala itu.

Aku masih ingat dengan jelas, tak lama setelah diterima masuk universitas, suatu kali bersama seorang teman sekelas berjalan-jalan di luar dan menemukan setiap pengendara yang menyalip kami dari belakang selalu membalikkan kepala melihat kami sekilas.

Awalnya kami heran dan saling memandang, ternyata menemukan, di belakang T-shirt yang kami kenakan tertulis nama Jurusan Arsitektur di Universitas tersebut.

Bagi  kami yg ketika itu berusia 18 tahun yang baru saja lulus dari SMA, itu sudah merupakan kebanggaan terbesar.

Masa kuliah 5 tahun berakhir, begitu lulus aku segera ke Jerman melanjutkan belajar arsitektur.

Selama 2 tahun merasakan suka-duka yang sepertinya melebihi 23 tahun sebelumnya, tetapi juga telah menimbulkan berbagai kegalauan yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan.

Dengan terkejut kutemukan bahwa ternyata diriku begitu tertarik pada bahasa asing. Tentu saja, di Tiongkok saya juga belajar bahasa Inggris, dari sekolah dasar sampai ke sekolah menengah, sampai ke perguruan tinggi tingkat 4 sampai 6.

Dapat dianggap langkah demi langkah berjalan dengan lancar. Para teman sekelas di universitas saya di Tiongkok, kebanyakan akan mengambil ujian TOEFL, pada langkah terakhir ini saya tidak mengikuti arus.

Hasil belajar selama 10 tahun, orang lain mungkin merasakan bahasa Inggrisku pasti bagus, tapi minatku terhadapnya sebenarnya sedang-sedang saja.

Alasannya sangat sederhana, jarang sekali bisa praktik konversasi, bahasa Inggris pasif ala orang gagu sungguh tidak berarti.

Setelah sampai di Jerman, dapat dikatakan bahasa Jermanku adalah dari nol.

Selain menghafal tata bahasa yang membuat orang menggaruk-garuk kepala, saya belajar seperti anak kecil, mendengarkan orang lain bagaimana berbicara, lantas membeo mengikutinya.

Entah bagaimana hal itu terasa sangat menyenangkan.

Seiring dengan peningkatan kemampuan bahasa, aku pun memiliki pemahaman multi-level dari bangsa Jerman ini.

Manusia, benar-benar adalah suatu panorama yang tak habis dipandang, apalagi bangsa yang berbeda, pemandangannya juga sangat berbeda.

Bahasa dan humaniora, nampaknya dalam hatiku secara perlahan terbuka suatu jendela lain.

Tapi aku masih suka menikmati bangunan, melihat arsitektur Gothic yang megah, melihat arsitektur Baroque yang cantik, dan melihat gaya Modernisme Awal yang ringkas.

Bagaimanapun arsitetur di dalam benakku masih sangat indah, tetapi tampaknya seperti lanskap yang tiada manusianya, tiada kehidupan, gersang.

Saya, sepertinya lebih tertarik pada manusia di dalam lanskap itu.

Entah dimulai sejak kapan, di hatiku mulai timbul secercah kebosanan terhadap gambar.

Jika menggunakan sebuah kata untuk menggambarkan perasaanku disaat itu, mungkin dapat meminjam istilah dari Cao Cao (曹操 dibaca: Jao Jao, 155-220 merupakan seorang tokoh Zaman Tiga Negara/Sam Kok.

Ia dikenal sebagai pemikir ulung, ahli strategi dan juga ahli perang) ketika di dalam barak mengatakan kepada seorang tentara untuk menggambarkan perasannya waktu itu yakni: Iga Ayam (Ji Lei).

Kata itu lantas digunakan ke seluruh kamp sebagai kata sandi di malam itu, oleh seorang staf tata bukunya yang bernama Yang Xiu dimaknai sebagai: dimakan tidak lezat, tapi dibuang sayang alias hambar.

Jika arsitektur di mata saya telah menjadi tulang ayam yang sudah digigit, itu sih sederhana, dibuang ke tempat sampah, habis perkara.

Jika arsitektur itu seperti daging paha ayam yang aromatis, persis seperti dosen arsitek yang menyarankan saya untuk tidak melepaskan arsitektur, dia merasa telah memilih arsitektur yang merupakan pilihan yang paling tepat dalam hidupnya.

Bagi dirinya arsitektur bukan saja seperti paha ayam, malah merupakan sarang burung atau kuliner yang serba lezat.

Jika saya memiliki kegairahan seperti dirinya, maka semua hal akan menjadi sangat sederhana, mengulum sarang burung sudah cukup, seumur hidup akan merasakan aroma tersebut.

Tetapi yang terjadi justru adalah sebuah “kehambaran/ iga ayam,” karena aku telah kepincut pada sebuah “paha ayam” yang lain, nampaknya lebih sesuai dengan seleraku, tapi siapa tahu itu mungkin hanyalah paha ayam palsu yang terbuat dari plastik? Jika benar-benar dikunyah, tak tahu bagaimana rasanya?

Harus bagaimanakah saya? Pada usia 25 tahun, untuk kali pertama aku berdiri di persimpangan jalan hidupku.

Di belakangku ada 7 tahun hasil study di jurusan arsitektur, di dalam kehidupan ini ada berapa kali 7 tahun lagi?

Selain itu, di tahapan usia emas antara usia 18-25, dicampakkan tuntas, apakah pantas?

Di depanku masih ada jalan yang belum kulalui, dan mungkin masih ada 2×25 tahun yang begitu lama menungguku.

Apakah aku benar-benar siap mental menerimanya, di usia 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun atau bahkan 60 tahun masih menggambar teknis disana?

Apakah aku benar-benar telah siap menjadi seorang arsitek?

Seperti telah berpacaran dengan seseorang selama 7 tahun, hubungan yang telah terjalin stabil, semua orang di sekitarku pun merasa bahwa pernikahan adalah suatu kepastian, hanya soal waktu.

Namun, setelah akan menikah, mendadak timbul keraguan di hati Anda, dan bertanya pada nurani diri sendiri, “Orang ini, apakah benar-benar kurela bersamanya menjalani sisa hidupku?”

Jangankan di usia 60 tahun nanti, di saat itu terpikir di usia 40 tahun saja masih harus menggambar, wah, ternyata yang terlintas di pikiran pertama, sangat mengerikan!

Baiklah, meskipun usia 25 tahun dibandingkan 18 tidak muda lagi, tapi lebih muda bila dibandingkan dengan 30 tahun atau 40 tahun.

Mungkin mumpung aku masih muda, bergegaslah mencoba sesuatu yang lain. Jika tidak ingin “menikah” dengan profesi arsitektur, maka jangan ragu lagi harus segera bertindak, segera carilah masa depan yang lain.

Namun, dimanakah masa depan baru itu? Ia masih tertutup oleh kabut misteri, tidak jelas terlihat apakah berwajah buruk atau cantik? Jika belajar bahasa, kelak apa yang bisa kulakukan, sebagai penerjemah? Pemandu wisatakah? Aku tak tahu, sama sekali tidak pernah terpikir.

Tampaknya aku telah menapaki sebuah jalan kecil yang tiada akhir.

Dibawah kesempatan takdir pertemuan, setelah aku meninggalkan jurusan arsitektur di universitas favorit tersebut dan melanjutkan di jurusan Penerjemahan di sebuah universitas.

Beberapa tahun setelah lulus aku menjadi penerjemah profesional selama beberapa tahun, ini adalah pekerjaan formal pertama dalam hidupku.

Semasa belajar di jurusan penerjemahan, aku mulai menulis artikel, pada awalnya hanya berhasil menulis satu artikel dalam beberapa bulan, sampai belakangan ini dalam satu bulan mampu menulis beberapa artikel, dari mencari tema dengan susah payah, bergulat dengan ide, dan dengan ragu menyusunnya menjadi kata-kata, sampai ke taraf, begitu mendongak dan menoleh melihat di sekeliling kita ternyata penuh dengan tema, ide-ide akan berterbangan datang, masa ini telah kulewati puluhan tahun.

Orang tua yang shock dan sedih atas keputusanku beberapa tahun sebelumnya, telah lama legawa.

Apakah itu berita atau esai, selalu kupilihkan beberapa artikel yang menarik untuk diteruskan kepada mereka.

Suatu kali ibu mengatakan kepadaku, “Kamu benar-benar sangat cocok menjadi penulis.

Dari saat aku berdiri di persimpangan jalan kehidupan, sampai mendengar kata-kata ini, waktu telah berlalu lebih dari sepuluh tahun.

Tentu saja, dari perspektif uang, jika diriku menjadi seorang arsitek di RRT, pendapatanku tentu jauh lebih banyak.

Menjadi arsitek bisa menghasilkan banyak uang, hal ini kuketahui dari saat kami masuk universitas.

Ketika masih kuliah di Tiongkok, guru jurusan Arsitektur sibuk melakukan pekerjaan pribadi, jika terlalu sibuk akan mencari siswa untuk membantu mereka, hanya beberapa hari saja akan mendapat beberapa ratus atau beberapa ribu Yuan, itu sudah lumrah, disaat itu sudah sejumlah uang yang tidak kecil.

Kubayangkan, masih mahasiswa sudah demikian, apalagi ketika telah lulus?

Namun, lobak dan kubis memiliki pecintanya masing-masing, menulis artikel, melakukan apa yang ingin dilakukan, kehidupan seperti ini tampaknya lebih cocok untukku.

Bagiku, hal menyenangkan ini tidak dapat dibeli dengan uang.

“Aku tahu kau tidak menyesal memilih menjadi penulis, tapi waktu 7 tahun kuliah, sama sekali adalah belajar hal lain, toh sekarang tidak bisa digunakan, apakah kau tidak menyesal?” Lanjut ibu melalui telepon.

“Tidak ada penyesalan, belajar arsitektur membuatku bisa menggambar, membuatku mengerti sejarah seni, sejarah arsitektur, dan dengan demikian hidupku penuh dengan warna-warni.

Kehidupan seseorang tidak hanya demi sebuah target saja, tetapi menikmati proses. Sejumlah hal yang nampaknya untuk mencapai tujuan sepertinya tidak relevan sama sekali, tetapi ia dapat menempatkan kehidupan ini lebih kaya makna, bukankah hal itu sangat berarti?” Tukasku.

Beberapa bulan yang lalu, aku dan keluarga pergi bertamasya, dari  jauh terlihat diantara rerumputan hijau berdiri sebuah retro pavilliun putih bergaya Yunani, aku berceloteh dengan tangan menunjuk sana sini, “Kolom ini tampaknya terlalu tinggi, jika dipotong 70 cm, proporsinya lebih seimbang…” Bukan arsitek, tetapi masih memiliki sedikt sense “penyakit profesi arsitek.”

Di dalam kehidupan ada beberapa riak gelombang kecil semacam ini, bukankah merupakan hal yang menarik? Ibu yang berada di telepon seberang lautan, juga mengiyakan dan mengikuti saya tertawa lembut.  (hui/whs/rmat)

Share
Tag: Kategori: Headline

Video Popular