JAKARTA –Survei yang dilakuan Nielsen menyebutkan belanja iklan di TV dan media cetak masih didominasi oleh iklan Rokok, Partai Politik dan instansi pemerintahan. Pertumbuhan belanja iklan di kuartal pertama tahun 2016 menunjukkan peningkatan yang cukup besar.

Belanja iklan total TV dan media cetak tumbuh sebesar 24% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut adalah angka pertumbuhan kuartal yang tertinggi dalam dua tahun terakhir. Demikian menurut data Nielsen Advertising Information Services.

“Setelah sempat melemah sejak semester dua tahun 2014, optimisme pasar sekarang sudah kembali menguat. Hampir semua top kategori menunjukkan peningkatan dalam belanja iklan. Tanda-tanda pemulihan sudah terlihat dari kuartal ke tiga tahun 2015 kemarin dan sekarang kita lihat angka pertumbuhannya sudah kembali seperti sedia kala,” kata Hellen Katherina, Direktur Media, Nielsen Indonesia dalam rilisnya diterima Erabaru.net, Kamis (19/5/2016).

Dilihat dari sisi kategori produk, untuk periode sepanjang Januari-Maret 2016, kesepuluh kategori yang paling tinggi belanja iklannya mengalami pertumbuhan yang positif. Di urutan pertama adalah kategori Rokok Kretek yang memberikan kontribusi yang paling tinggi untuk belanja iklan di kuartal pertama, yaitu sebesar Rp 1,9 Triliun, dengan pertumbuhan sebesar 76%.

Di urutan berikutnya adalah kategori Pemerintahan dan Organisasi Politik dengan total belanja iklan sebesar Rp 1,8 Triliun dan juga tumbuh sebesar 76%, yang didorong oleh kampanye Kementrian Kesehatan untuk memberantas Polio.  Di urutan ketiga adalah kategori Produk Perawatan Rambut dengan belanja iklan mencapai Rp 1,3 Triliun dan tumbuh sebesar 36% dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2015.

Survei Nielsen (Nielsen Indonesia)
Survei Nielsen (Nielsen Indonesia)

Sementara itu, dilihat dari merek-merek yang beriklan, Dunhilll (rokok kretek) menjadi merek yang belanja iklannya tertinggi di sepanjang kuartal pertama tahun 2016 dengan angka belanja iklan mencapai Rp 420 Miliar.

Berada di bawah merek tersebut, Indomie sekali lagi turut menjadi kontributor belanja iklan utama dengan nilai Rp 272 Miliar dan tumbuh sebesar 12% dibandingkan kuartal pertama tahun lalu. Di urutan ketiga adalah merek rokok kretek lainnya, yaitu Djarum Super Mild, dengan angka belanja iklan sebesar Rp 200 Miliar dan tumbuh sebesar 428% atau lebih dari empat kali lipat.

Di antara sepuluh produk dengan belanja iklan tertinggi juga terdapat Kementerian Kesehatan yang ikut mendorong pertumbuhan dengan angka belanja iklan sebesar Rp 165 Miliar dan meningkat sangat signifikan hingga 25.356% dibandingkan kuartal pertama tahun 2015. Dengan angka belanja iklan tersebut, Kementerian Kesehatan berada di urutan ke enam untuk belanja iklan tertinggi sepanjang kuartal pertama tahun 2016.

Dari jenis medianya, pertumbuhan belanja iklan di periode Januari-Maret 2016 sangat didorong oleh pergerakan yang positif di TV, yaitu meningkat sebesar 33%. Media cetak menunjukkan pergerakan yang lebih konstan, di mana belanja iklan koran tumbuh sebesar 1% dan majalah/tabloid tetap dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (asr)

 

Share

Video Popular