Pernah berpikir untuk periksa ke dokter atau ke rumah sakit untuk medical check-up, tapi naas, justru jiwa melayang karena kesalahan medis (malpraktek). Tentu saja, saat membicarakan hal ini (malpraktek), pasti akan membuat kita was-was dan takut, tapi kesalahan medis ini merupakan risiko nyata yang harus dihadapi banyak orang.

Kesalahan medis atau malpraktek merupakan faktor ketiga terbesar penyebab kematian setelah penyakit jantung dan kanker. Namun, untuk mengidentifikasi angka yang pasti atas kematian yang disebabkan kesalahan medis itu tidaklah mudah, perhitungan kasar diperkirakan antara 210,000 – 400,000 orang setiap tahun, demikian laporan studi yang dirilis British Medical Journal, Inggris, Selasa, 3 Mei 2016.

Studi ini dipimpin oleh profesor Martin Makary, spesialis bedah dari The Johns Hopkins University School of Medicine, Amerika Serikat. Sementara hasil laporannya dirampungkan bersama dengan rekannya, Michael Daniel. Mereka menuturkan : “Sejauh ini, Amerika Serikat belum menetapkan kematian akibat kelalaian medis itu dikategorikan sebagai penyebab kematian”, lagipula hal tersebut berhubungan dengan kurangnya data kematian terkait kesalahan medis. Sebagai Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, saat ini belum menetapkan kesalahan medis itu sebagai salah satu faktor penyebab kematian, karena formulir sertifikat atau akta kematian saat dikeluarkan akan berubah sesuai dengan hasil investigasi.

Mereka berharap melalui laporan terkait, dapat membantu masyarakat memahami skala dari kesalahan medis dan cara mengatasinya. Sementara itu, dalam analisa terkait, Makary dan Daniel telah mengumpulkan dan menganalisis data penelitian yang berbeda sejak tahun 1999, dan memperkirakan kematian rata-rata tahunan akibat kesalahan medis. Mereka menyimpulkan bahwa ada sekitar 250,000 orangmeninggal setiap tahun akibat kesalahan medis. Meski begitu, jumlah 250 ribu orang tersebut hanyalah sebuah prediksi, mengingat kesalahan medis tidak pernah dijadikan sebagai penyebab kematian yang dicantumkan dalam surat pernyataan kematian seseorang.

Mereka mengatakan, bahwa nilai perkiraan angka tersebut mungkin masih rendah. Karena subyek penyelidikan mereka hanya terbatas pada rekam jejak kesalahan medis yang terdapat dalam catatan yang sehat, selain itu juga hanya pada kasus kematian dalam lingkup di rumah sakit.

Sementara itu, masih ada beberapa kasus yang tidak disertakan, contoh misalnya ketika harian “The New York Times” mengutip artikel ini, mereka mengambil contoh kasus seorang pasien yang mendapatkan diagnosis medis yang buruk, sehingga mengkibatkan kerusakan organ hatinya. Hingga akhirnya penyebab kematian itu mungkin dicatat sebagai penyakit kardiovaskuler, bukan malpraktek atau kesalahan medis.

Kesalahan penghitungan atau pengukuran dosis dapat menyebabkan overdosis. Seorang perawat bisa saja menyuntikan obat penghilang rasa sakit saat menangani pasien yang sebenarnya membutuhkan suntikan penicillin, yang menjadi salah satu kesalahan fatal yang terjadi pada 2006.

Ketika dokter Anda salah mendiagnosa apa yang terjadi dengan Anda, maka dapat dipastikan Anda juga akan melakukan prosedur yang tidak penting, yang malah dapat meningkatkan risiko komplikasi. Tidak hanya itu, kesalahan diagnosa juga dapat menyebabkan tertundanya perawatan yang seharusnya dapat segera dilakukan.

Belum lagi infeksi yang disebabkan oleh prosedur sterilisasi yang dilakukan tidak sesuai dengan jalurnya, ataupun miskomunikasi karena tidak menerima informasi yang krusial antar instansi kesehatan.

Apa itu “kesalahan medis atau malpraktek” ?

Kesalahan medis biasanya didefinisikan sebagai “Intervensi perawatan medis apa pun yang menyebabkan kematian yang dapat dicegah”, termasuk serangkaian kesalahan, mulai dari dokter yang salah bedah, salah memilih organ, atau “lupa” dengan perangkat medis yang tertinggal di dalam tubuh pasien, hingga perawat yang salah mengambil obat untuk diminum pasien dan kesalahan fatal lainnya.

Miskomunikasi atau kurangnya komunikasi juga merupakan salah satu penyebab dari kesalahan medis. Misalnya, ketika satu departemen menerima pasien dari departemen lain, tidak tertutup kemungkinan juga menerima pesan yang salah atau informasi yang tidak komprehensif, dimana semua kesalahan kecil ini dapat berakibat fatal dan menyebabkan konsekuensi serius, kata Martin Makary saat diwawancarai Washington Post.

Melansir laman “The LA Times (Los Angeles Times)”, dalam beberapa situasi, kita tidak bisa selalu mengecam dokter, perawat atau petugas profesional lainnya yang merawat pasien. Kadang-kadang terjadi eror pada program komputer, dimana hal ini juga bisa menyebabkan terkirimnya informasi yang keliru.

Jika Anda curiga keluarga Anda meninggal karena kesalahan medis, maka Anda perlu seorang pengacara yang berpengalaman. Ia dapat membantu Anda menelusuri secara menyeluruh dan menemukan apa sebenarnya yang terjadi. Pengacara dapat membantu Anda mendapatkan catatan medis di rumah sakit, dan mengundang ahli yang berkualifikasi untuk meninjau dan mengkaji catatan terkait, untuk memastikan apakah ada kesalahan medis yang berimbas pada kematian pasien. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share

Video Popular