Oleh: Li Jing

Baru-baru ini pihak pemerintahan Indonesia mendapati adanya jejak-jejak pemikiran komunis “berkobar kembali” di Indoneisa. Simbol paham komunis yakni palu dan arit dicetak di baju dan disebarkan. Saat ini POLRI telah mengeluarkan pengumuman nasional bahwa penyebaran paham komunis dalam bentuk apa pun, baik itu Leninisme atau Marxisme, akan dihukum maksimal 12 tahun penjara.

Anehnya berita ini dikutip dan disiarkan ulang oleh berbagai media massa RRT, seiring dengan berbagai topik diskusi mengenai paham komunis yang dikecam masyarakat internasional pun beredar di media sosial di Tiongkok.

Ada netter RRT menyatakan, “Jika paham komunis ibarat tikus got atau wabah dunia, maka hampir seluruh negara dunia akan menghindarinya. Dulu ketika terjadi kerusuhan rasialis anti-RRT di banyak negara Asia Tenggara sebenarnya adalah untuk menghancurkan partai komunis yang telah merasuk ke dalam negara tersebut hingga ke akar-akarnya, karena takut berubah menjadi komunis, partai komunis yang berbuat, etnis Tionghoa yang menanggung akibatnya.”

Seminar Pemberantasan Komunis Indonesia, Renungan “Pembantaian Massal Paling Tragis di Abad ke-20”

April 2016 lalu, digelar seminar selama dua hari, merenungkan kembali aksi pemberantasan komunis yang berlangsung antara tahun 1965-1966. Seminar perdana membahas topik yang masih dianggap terlarang itu, diprakarsai oleh Dewan Penasihat Presiden dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Para peserta meliputi menteri kabinet, Jaksa Agung, Kapolri dan Menteri Kehakiman, serta politisi lainnya. Disamping itu banyak korban yang selamat dan perwakilan dari militer menghadiri seminar yang belum pernah ada sepanjang sejarah itu.

Badan intelijensi Amerika Serikat yakni CIA pernah menyebutkan periode pemberantasan komunis di Indonesia ini sebagai “salah satu pembantaian massal paling tragis di abad ke-20.” Tokoh HAM menyebutnya sebagai peristiwa kerusuhan paling parah abad lalu yang terjadi di Indonesia, dan mengakibatkan perpecahan masyarakat yang serius. Presiden Joko Widodo pernah berjanji pada Komnas HAM untuk menghadapi sejarah ini.

Satu Kalimat Zhou Enlai, Sulut “Anti- Komunis” yang bernuansa rasialis di Asia Tenggara

Jumlah anggota Partai Komunis Indonesia menempati posisi ketiga di seluruh dunia pada waktu itu, yakni mencapai lebih dari 2 juta orang. Zhou Enlai yang menjabat sebagai Perdana Menteri Partai Komunis Tiongkok/ PKT, pada 1965 menyatakan pada Uni Soviet dan negara komunis lainnya, “Di Asia Tenggara terdapat begitu banyak etnis Tionghoa, pemerintah komunis Tiongkok mampu mendoktrinkan paham komunis lewat para etnis Tionghoa tersebut, dan dalam satu malam saja Asia Tenggara akan berubah warna.”

Berbagai kalangan berpendapat, pernyataan inilah yang memicu Soeharto untuk melancarkan “kudeta” dan memvonis partai komunis sebagai organisasi terlarang.

30 September 1965, seorang anggota PKI bernama Untung yang waktu itu merupakan Komandan Batalyon Pengawal Presiden Soekarno, menyandera dan membunuh 6 orang jendral TNI yang bersayap kanan. Di bawah komando Soeharto, TNI AD kemudian melakukan pembersihan besar-besaran terhadap partai komunis. Karena sebagian komunitas etnis Tionghoa adalah partai/ kelompok afiliasi PKI maka tak ayal menyebabkan banyak etnis Tionghoa lainnya yang bukan anggota PKI pun ikut menjadi korban pembantaian.

Militer juga menggerakkan serangan massa terhadap partai komunis hingga ke daerah pedesaan dan menewaskan sebagian warga desa yang tidak berdosa. Menurut statistik yang berbeda, jumlah korban yang tewas mencapai 100.000 jiwa hingga 3 juta jiwa, tapi kalangan akademisi sepakat jumlah korban adalah sekitar 500.000 jiwa.

Perintah Rahasia Jiang: Koran Dilarang Beritakan, Pemerintah Tidak Campur Tangan

13-16 Mei 1998, peristiwa kerusuhan rasialis anti-Tionghoa di Indonesia mengguncang dunia, peristiwa itu juga dikenal dengan “Black May.” Akibat tekanan dan opini dunia, pada  3 November 1998, “tim investigasi bersama” yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia merilis laporan yang menyatakan, sebanyak 1.250 orang etnis Tionghoa tewas, sementara 24 orang lainnya luka-luka, dan sebanyak 85 orang wanita telah diperkosa dan mengalami pelecehan seksual lainnya. Tapi angka tersebut sangat diragukan oleh banyak pihak.

Waktu itu, seluruh dunia marah dan mengutuk perbuatan jahat tersebut. Dewan Kongres AS dan UNCHR mengeluarkan kecaman, banyak pemimpin politik dan ormas dunia melontarkan kecaman keras terhadap pemerintah Indonesia. Media massa melakukan investigasi mengungkap fakta dan pemberitaannya. Etnis Tionghoa di seluruh dunia mendidih, mereka menuntut pemerintah RRT agar menyatakan sikap kecaman.

Pada saat itu, ternyata Jiang Zemin yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi PKT menurunkan instruksi rahasia: peristiwa kerusuhan di Indonesia adalah urusan dalam negeri Indonesia, terhadap peristiwa ini media massa RRT tidak boleh memberitakannya, dan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok tidak akan campur tangan. Seluruh media massa memblokir berita tersebut dan tidak diberitakan bagi rakyat Tiongkok pada waktu itu.

Setengah bulan pasca peristiwa itu baru ada satu dua artikel pendek mengenai hal itu. Di saat yang sama, bantuan raksasa bagi Indonesia tetap dikucurkan sesuai rencana semula. Sikap pemerintah Indonesia yang hanya berpangku tangan menyaksikan tragedi itu terjadi dan tidak mengambil tindakan apa pun untuk meredam kerusuhan, sangat erat kaitannya dengan sikap Jiang Zemin pada saat itu.

Keterangan foto: Foto adalah patung Lenin yang dibongkar di salah satu Negara Eropa Timur pasca runtuhnya komunisme di Uni Soviet dan Eropa Timur . (wikipedia)
Keterangan foto: Foto adalah patung Lenin yang dibongkar di salah satu Negara Eropa Timur pasca runtuhnya komunisme di Uni Soviet dan Eropa Timur . (wikipedia)


Paham Komunis Marx Adalah Ajaran Setan Versi Modern

Dalam buku “Disintegrasi Budaya Partai” tertulis, pada saat dimunculkannya, paham komunisme dipenuhi dengan corak warna paham idealisme, dengan cita-cita menciptakan “surga” di dunia. Paham ini menarik begitu banyak orang-orang yang antusias ke dalamnya, hasilnya adalah bencana merah menyebar ke belasan negara, ratusan juta orang menjadi budaknya, dan ratusan juta lainnya mati sia-sia. Rezim yang hanya menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaannya tidak akan bertahan lama, setiap kali “melakukan seribu kejahatan” PKT harus “mengatakan sejuta kebohongan,” yakni harus menggunakan kebohongan untuk membuat penjelasan yang “masuk akal” atas pembantaian yang telah dilakukannya.

Kebohongan seperti ini dikemas sedemikian rupa dengan teori komunis, terlihat begitu indah dan sempurna, tidak hanya membela pembantaian yang terjadi, juga harus memiliki sebuah teori untuk menguasai dan mengarahkan politik, ekonomi, militer, hukum, iptek, pendidikan, sosial, pengobatan, perumahan, pensiunan bahkan sampai kehidupan rumah tangga, dan masih harus lagi membuat penjelasan mengenai sejarah. Di sisi lain, PKT juga menguasai segala aspek dalam masyarakat.

Selama lebih dari 100 tahun, teori sesat komunis telah mendatangkan bencana dan penderitaan bagi manusia.  PKT telah menghancurkan peradaban Tiongkok dengan sejarah gemerlapnya selama lebih dari 5000 tahun, lantaran berpaham atheis PKT telah menghancurkan agama kepercayaan di Tiongkok, mengacaukan dataran Tiongkok selama nyaris seabad, dan menyebabkan kematian (langsung maupun tidak langsung) 80 juta jiwa rakyat Tiongkok.

Akhir 2004, surat kabar “Dajiyuan (Epoch Times)” menerbitkan buku “9 Komentar Tentang Partai Komunis” telah mengungkap sifat asli dan kejahatan PKT, buku ini telah memicu ratusan juta jiwa warga Tiongkok ramai-ramai melakukan “San Tui (Pernyataan pemunduran diri dari Partai, Liga dan Barisan yang dinaungi oleh komunis).” Saat ini, jumlah orang yang menyatakan dirinya “San Tui” telah mencapai lebih dari 230 juta orang di seluruh dunia. “San Tui” adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan jiwa dari orang-orang yang telah keracunan indoktrinasi oleh PKT. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular