JAKARTA – Pasca pemilu presiden peta dukungan partai politik kepada pemerintah terus bergerak dinamis setelah Partai Golkar resmi mendukung pemerintahan Jokowi-JK. Bahkan Golkar akan mengusung Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.  Kini tercatat 7 partai yakni PDI-P, PKB,Hanura, Nasdem, PAN, PPP dan Partai Golkar sebagai pendukung pemerintah.  Namun tak mudah juga bagi Jokowi ketika bergerak bersama dengan koalisi yang gemuk.

Pengamat politik dari Poltracking Indonesia, Hanta Yuda menilai koalisi gemuk yang dibangun oleh pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla justru akan menghadapi kemungkinan sejumlah persoalan baru dalam roda pemerintah mendatang. Memang dalam kalkulasi politik untuk menjalankan kerja pemerintahan hampir sudah lolos dari dukungan parlemen.

Persoalan apa yang akan dihadapi Jokowi ke depan? menurut Hanta, Jokowi akan berhadapan dengan koalisi partai-partai yang tentunya tak memiliki pemikiran dan konsep yang sama. Apalagi adanya keniscayaan friksi-friksi dalam kubu partai-partai pendukung pemerintah tentu tak dapat dihindari.

“Tantangannya semakin berat adalah membangun relasi kuasa dalam koalisi kegemukan, pasti akan melahirkan kompleksitas,” ujarnya dalam diskusi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (21/5/2016).

Bergabungnya 7 partai politik, ujar Hanta, berarti bahwa koalisi Partai Politik yang dibangun oleh pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla sudah terlalu besar. Walaupun sebelumnya Jokowi pernah menegaskan akan membangun koalisi ramping dan tanpa syarat, namun gagasan-gagasan tersebut nyatanya hampir gugur dalam peta perpolitikan saat ini.

Walaupun tentunya sudah menjadi kabar baik bagi pemerintah, juga menjadi catatan kaki dalam pekembangan demokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, Hanta mengingatkan kepada Partai Gerindra dan PKS untuk tetap berada di luar pemerintahan Jokowi-JK sebagai penyeimbang keberadaan pemerintah.

Tak hanya soal relasi kekuasaan dalam kegemukan, Hanta menilai akan ada persoalan mengenai sosok yang akan didudukkan sebagai pimpinan partai politik koalisi pendukung pemerintah. Berbeda periode sebelumnya, tentunya Susilo Bambang Yudhoyono langsung dianggap sebagai koalisi parpol dengan rekam jejak pemenang pada Pemilu Legislatif sebelumnya.

Tentunya, prediksi Hanta, tantangan pada koalisi internal partai pendukung pemerintah akan berlangsung menarik beberapa waktu mendatang. Namun demikian, tentunya Jokowi tak akan tergantung 100 persen kepada PDI-P yang sebelumnya selalu mengeluarkan pernyataan kontroversial atas kebijakan Jokowi karena ada kawan baru yakni Partai Golkar.

”Kita lihat koalisi partai ini tidak akan selalu memiliki pemikiran yang sama, tentu ada friksi atau faksi-faksi, paling tidak jokowi tak tergantung kepada PDIP karena ada teman baru,” ujar Hanta. (asr)

Share

Video Popular