Oleh: Tara Macisaac

Pada tahun 1990-an, Catherine Ryan Hyde adalah seorang penulis biasa yang memiliki tumpukan surat penolakan dari perusahaan penerbit. Namun ia tidak menyerah begitu saja, dan akhirnya dia membuat novel terobosan “Pay It Forward” yang diterbitkan pada tahun 1999, dan menjadi buku terlaris nasional.

Pada tahun 2000, buku itu diangkat ke layar lebar dan menjadi hit, dibintangi oleh Kevin Spacey dan Helen Hunt, serta melahirkan sebuah gerakan menyebar kebaikan di seluruh dunia selama 16 tahun hingga kini.

“Saya adalah seorang penulis yang sangat tidak diperhitungkan pada waktu itu,” tulis Catherine di emailnya kepada Epoch Times. “Tujuan saya hanya untuk melihat Pay It Forward berada di toko buku suatu hari nanti! … Saya pasti tidak pernah berpikir bahwa saya cukup kuat untuk membuat perubahan di dunia nyata.”

Buku ini berkisah tentang seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang mendapat tugas penelitian sosial untuk “memikirkan sebuah ide bagi perubahan dunia, dan memasukkannya ke dalam tindakan”. Idenya adalah melakukan perbuatan baik untuk tiga orang dan meminta masing-masing orang untuk “membayarnya dimuka” dengan melakukan perbuatan baik untuk tiga orang lagi.

Tiga perbuatan baik dengan cepat menjadi 9, kemudian 27, kemudian 81, dan seterusnya.

Catherine menggambarkan salah satu momen pertama yang dia ketahui bahwa novelnya telah menjadi kenyataan. Pada tahun 2000, dia membaca sebuah cerita di Buffalo News tentang seorang wanita yang kehilangan cek pembayaran mobilnya dalam perjalanan ke kantor pos.

Sepasang suami istri menemukan cek tersebut, yang bernilai hanya setengah dari nilai tagihan wanita tersebut. Disertai dengan catatan permintaan maaf karena membayar sebagian dan meminta lebih banyak waktu untuk membayar lunas.

Lantas pasangan ini menuliskan sebuah cek untuk sebagian nilai dari tagihan itu dan mengirimkan kedua cek tersebut kepada wanita tersebut. Mereka telah menonton film Pay It Forward pada malam sebelumnya dan menjadi terinspirasi.

Gerakan berantai Pay It Forward terpanjang yang pernah tercatat berlangsung di Jembatan Golden Gate, AS, dimana orang membayar biaya tol untuk orang lain yang ada di belakang mereka; atau di Starbucks, di mana orang membayar pesanan orang yang berada di belakangnya.

Catherine bercermin pada semua kisah dari orang-orang yang melakukan pay it forward selama bertahun-tahun: “Anda tahu, ada begitu banyak. Dan ada banyak yang begitu besar dan meluas, serta berkelanjutan. Namun saya masih terus berpikir tentang sebuah catatan yang ditulis oleh murid kelas kedua kepada saya.”

“Dia bilang ingin mengunjungi panti jompo dan berbicara dengan orang-orang di sana karena dia pikir mereka kesepian. Tidak ada yang benar-benar melebihi dari itu. Setidaknya, tidak untuk saya. Hanya saja begitu sangat murni,” katanya.

Catherine pernah menerima tindakan kebaikan kecil pertama kali, sehingga mem¬berinya ide untuk menulis bu¬kunya.

Suatu ketika mobilnya mogok dan dia dibantu oleh dua orang asing yang ia tidak sempat untuk mengucapkan terima kasih. Dia mulai berhenti bagi pengendara yang menemui masalah dan melakukan tindakan baik lainnya secara acak untuk “membayarnya”.

“Saya melihat bahwa kita sering kali merasa curiga terhadap orang asing. Pada dasarnya, kita saling takut sama lain. Saya ingin membuat skenario fiksi (dalam buku) yang memungkinkan konsep Pay It Forward bisa menyebar sehingga orang mengerti bahwa ini benar-benar memberikan tindakan tanpa pamrih-dengan kata lain tidak ada pamrih,” katanya. “Kemudian … hidup meniru seni. Dan Anda bisa mengetuk saya dengan sehelai bulu.”

Catherine mendirikan Yayasan Pay It Forward pada bulan September 2000 untuk memelihara agar gerakan berkembang. Hari ini, fokus utama yayasan memberikan buku itu ke sekolah-sekolah serta mendorong diskusi dan tugas yang akan membantu anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa yang baik.

David Goodwin, direktur eksekutif yayasan, mengatakan, “Kami berusaha untuk bertumbuh dan mengajar kebaikan. Kami berharap bahwa melalui itu, kami dapat melakukan lebih.”

Daripada berfokus membantu individu yang membutuhkan seperti yang dilakukan oleh banyak organisasi layanan sosial besar lainnya, menurut David yayasan akan difokuskan pada “mengajar orang muda tentang filosofi kebaikan di antara orang asing dan etos pay it forward.”

Inisiatif sekolah ini dimulai pada tahun 2014, ketika Catherine menerbitkan edisi pembaca muda, yang sedikit dimodifikasi dari aslinya agar menjadi lebih cocok untuk anak-anak. Pada bulan September 2014, yayasan tersebut mengirimkan sekitar 300 buku untuk beberapa sekolah; pada musim gugur 2015, telah diperluas menjadi 3.000 buku untuk 28 sekolah di seluruh Amerika Serikat, dan terus bertambah.

Tanggal 28 April lalu, telah menjadi Hari Pay It Forward untuk tahun ke-9. Tanggal itu, pertama kali diprakarsai oleh Blake Beattie di Australia, yang sejak itu telah bekerja secara paralel dengan yayasan untuk mempromosikan gerakan ini.

Setelah bertahun-tahun, Catherine mengatakan, ia telah menjadi terbiasa seberapa jauh idenya tersebar untuk digunakan, akan tetapi terkadang ia masih merasa heran. “Saya akan menonton TV dan mendengar beberapa selebriti mengatakan tiga kata itu disaat tidak saya duga. Dan saya akan berpikir, waah bagaimana bisa dari dalam kepalaku keluar ke semua tempat-tempat umum?”

Pay It Forward pada awalnya ditolak oleh agen penerbit, tapi Catherine tidak patah semangat dan akhirnya berhasil menemukan penerbit. Kini, dia telah menerbitkan sekitar 30 buku, buah hasil ketekunan melalui lebih dari 1.500 penolakan. Dia juga membimbing penulis lain dan mendorong mereka untuk bertahan dari kritikan.

Catherine menggambarkan “pikiran yang mengagumkan” di belakang Pay It Forward: “Kita semua mengatakan ingin hidup di dunia yang lebih ramah. Dan itu tidak sulit untuk menjadi lebih ramah. Tentu akan sulit untuk mengubah seluruh dunia dari malam menjadi siang, akan tetapi bangun di pagi hari dan menambah kebaikan kepada dunia adalah mudah.”

“Jadi pertanyaannya adalah, jika kita semua ingin hidup dalam dunia yang ramah, dan kebaikan adalah mudah, kenapa tidak kita lakukan saja? Mengapa tidak memulainya?” (Epochtimes/Ajg/Yant)

Share

Video Popular