Oleh: Zhou Xiaohui

Belum lama ini keseharian bagi Liu Yunshan, salah seorang Anggota Tetap Politbiro Pusat Partai Komunis Tiongkok/ PKT dari kubu Jiang Zemin yang mengendalikan Departemen Propaganda, mungkin tidak begitu menyenangkan. Kultus pemimpin ala Revolusi Kebudayaan yang niatnya dikobarkan melalui “lagu merah” untuk menciptakan “pencitraan negatif” terhadap Xi Jinping guna mengacaukan situasi, ternyata justru menjadi batu besar yang menimpa kakinya sendiri. Saat ini, setidaknya ada tiga indikasi yang telah membuktikan bahwa Liu Yunshan saat ini berada dalam kondisi “lumpuh kedua lengannya.”

Indikasi pertama adalah pada 17 Mei tengah malam, surat kabar pemerintah “The People’s Daily” menyebutkan, “Revolusi Kebudayaan” adalah tindakan salah seorang pemimpin dan dimanfaatkan oleh kelompok anti-revolusi, menyebabkan kekacauan dalam negeri yang bersifat bencana parah bagi bangsa dan masyarakat, kerusakan yang disebabkan bersifat menyeluruh dan sangat serius. Peristiwa seperti “Revolusi Kebudayaan” mutlak tidak boleh terulang lagi, harus bercermin pada sejarah, pelajaran sejarah itu harus betul-betul diingat dengan lekat.

Pada saat yang sama, surat kabar “Global Times” yang selama ini merupakan pengikut setia Liu Yunshan dalam hal memperkeruh situasi, juga telah menerbitkan artikel menyatakan, “Revolusi Kebudayaan” telah sepenuhnya ditepis, “Revolusi Kebudayaan” tidak akan dibiarkan terjadi lagi di dataran Tiongkok. Di situs internet juga muncul pandangan keliru, “Meskipun digembar-gemborkan, hal ini telah terlepas dari perhatian konkrit masyarakat Tiongkok, dan pada akhirnya tak akan menimbulkan gejolak besar.”

Dua artikel yang secara mencolok menyampaikan pemikiran para petinggi ini sangat jelas menyampaikan satu hal pada rakyat Tiongkok, terutama terhadap para kaum intelek yang beranggapan bahwa indikasi pencitraan negatif kultus individu dan “lagu merah” menandakan “Revolusi Kebudayaan” sedang bangkit kembali, bahwa Revolusi Kebudayaan mutlak tidak akan muncul lagi di Tiongkok, sedangkan “suara” yang timbul itu memang ada yang memperkeruh suasana di dalamnya, tapi pada akhirnya tidak menjadi apa pun.

Ini juga dengan sendirinya menjadi peringatan bagi Liu Yunshan yang menjadi dalang di balik layar mengendalikan para anteknya. Jelas, Liu Yunshan yang menguasai Departemen Propaganda telah kehilangan kuasanya, bahkan surat kabar “Global Times” yang biasa selalu menurut pun sekarang telah “berpaling.” Ini membuktikan kekuasaan Liu Yunshan terhadap media massa semakin melemah.

Kantor berita BBC Inggris juga mengonfirmasikan, pada 16 Mei adalah hari peringatan 50 tahun “Revolusi Kebudayaan” yang dipandang sebagai “Malapetaka Dekade” bagi Tiongkok. Pada hari itu pihak pemerintah sama sekali tidak melakukan peringatan apa pun, media massa pemerintah juga bungkam tak bersuara menyambut 50 tahun “Revolusi Kebudayaan” ini.

Akan tetapi tidak sedikit netter melakukan renungan akan tragedi “Revolusi Kebudayaan” ini. Namun media ofisial surat kabar “The People’s Daily” setelah sempat bungkam selama sehari, keesokan harinya 17 Mei tengah malam menerbitkan artikel opini berjudul “Bercermin Pada Sejarah Untuk Lebih Maju” yang menekankan sikap pemerintah adalah penyangkalan terhadap “Revolusi Kebudayaan.”

Indikasi kedua adalah pagelaran musik membawakan “lagu merah” di Balai Kota Beijing pada 2 Mei lalu, serta pawai “haluan kiri Mao Zedong” yang digelar di kota Dalian, pada14 Mei lalu, media massa pemerintah dan portal internet pada dasarnya tidak ada yang memberitakannya. Bisa dikatakan, berita terkait telah disensor habis, dan berita di luar negeri menyebutkan Kantor Administratif Pusat sedang menyelidiki maksud di balik layar yang sebenarnya digelarnya konser musik “lagu merah” tersebut. Jika Liu Yunshan tidak kehilangan kendalinya atas media massa, setidaknya Departemen Propaganda pasti akan menurunkan instruksi kepada media terkait untuk membesarkan berita tersebut, tapi kondisi seperti itu ternyata tidak terjadi. Apa artinya semua ini, Anda pasti mengerti.

Selain itu, beberapa instansi yang menghadiri konser musik “lagu merah” itu pun telah menyatakan sikap. Setelah pihak China Opera and Dance Theatre dan Komisi Budaya Distrik Xicheng menyampaikan kritik “merasa tertipu”pada 16 Mei lalu, Oriental Culture and Art Institute dan Beijing Quansheng Cultural Ltd. masing-masing menyatakan permintaan maaf terhadap pihak luar. Penjelasannya, karena ada kesalahan staf yang mendata nama perusahaan mereka sebagai panitia penyelenggara tanpa adanya persetujuan dari “China Future Star.”

Semua tindakan itu hanya menjelaskan satu hal, pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan Liu Yunshan selaku penanggung jawab utama konser ini, sehingga semua pihak yang mengetahui situasi sebenarnya berbondong-bondong membersihkan diri dari tanggung jawab.

Indikasi ketiga adalah kasus seorang tokoh penting di Dewan Rakyat bernama Lei Yang, tewas tanpa diketahui penyebab kematiannya secara pasti. Dari penjelasan kepolisian yang penuh dengan celah tak lazim mulai diragukan para netter dan ramai dibicarakan di internet, pihak Departemen Propaganda sepertinya juga tidak mengeluarkan perintah untuk menyensor forum tersebut dan membiarkan saja netter membahas hal itu.

Kemudian tiga situs pemerintah masing-masing Guangming Network, The People’s Daily dan Xinhua Net juga merilis kritik terhadap pihak kepolisian, dengan mengatakan “menghadapi keraguan publik, yang diuji disini adalah kemampuan pihak kepolisian menanggapi opini yang mempertanyakan rekaman video, catatan komunikasi, detil keterlibatan kasus, berita acara perkara terkait, apakah boleh diumumkan atau tidak, kapan diumumkan, bagaimana diumumkan dan lain-lain.”

Terutama situs berita Guangming yang merupakan milik Departemen Propaganda, yang sebelumnya mengecam keras komentar Ren Zhiqiang yang dianggap “anti-partai,” juga menyatakan kematian Lei Yang memerlukan jawaban dengan rantai bukti dan logika yang lengkap. Selain karena editornya yang pro pada kubu Jiang Zemin, juga menjelaskan batasan Liu Yunshan “bisa bersuara” menjadi semakin kecil, dalam hal “menjalankan pemerintahan sesuai hukum” Liu Yunshan telah kehilangan kendali.

Begitu Liu Yunshan yang mengendalikan propaganda telah kehilangan kekuasaan dalam hal memberi opini terhadap peristiwa besar, kehilangan “benteng” yang digunakannya untuk membuat kekacauan, bisa dikatakan telah berada dalam kondisi lumpuh, dan apa makna semua ini, Liu Yunshan pasti sudah sangat paham, para pejabat seluruh dinasti ini juga paham, para penonton juga perlahan-lahan mulai memahami kondisi ini. (whs/rmat)

Share

Video Popular