Oleh Lan Minghao

Situasi Semenanjung Korea kembali memanas sejak Kim Jong-un melakukan uji coba senjata nuklir pada awal Januari tahun ini. Sebuah media Inggris baru-baru ini mengunjungi Pyongyang untuk mengetahui sejauh mana perkembangan hubungan antara AS – Korea Utara – Tiongkok.

Kesimpulan yang mereka peroleh cukup mengejutkan yaitu, Rezim Pyongyang sudah terang-terangan menunjukkan sikap bermusuhan dengan Tiongkok, tetapi kalau diijinkan untuk memilih,  Kim Jong-un lebih bersedia untuk beraliansi dengan AS ketimbang RRT.

Wartawan Financial Times mengunjungi Republik Demokrasi Rakyat Korea pada 9 Mei 2016. Dengan disertai oleh petugas keamanan yang ditunjuk pemerintah ia mengadakan wawancara dengan  sejumlah warga Korut. Hal mengejutkan yang diperoleh dari wawancara itu adalah bahwa, semua orang baik itu pejabat pemerintah maupun warga biasa mereka bersikap permusuhan dengan Tiongkok, tetapi anehnya sikap itu sampai derajat tertentu justru mendapat dukungan dari pemerintah.

Meskipun pemerintah Korut terus melakukan indoktrinasi, mencuci otak publik, menyebut hubungan dengan Tiongkok itu “diperoleh melalui pertumpahan darah dalam perjuangan  kemerdekaan Korea Utara.” Namun, sikap kebencian dan permusuhan masyarakat Korut terhadap Tiongkok itu terlihat dengan jelas keluar dari lubuk hati yang paling dalam.

Partai Buruh Korut menyelenggarakan kongres nasional ke 7 pada awal Mei ini. Meskipun Korut merupakan sekutu pemerintah Tiongkok, tetapi Beijing memilih tidak mengirim pejabat menghadiri kongres yang baru kembali diselenggarakan setelah 36 tahun.

Laporan menyebutkan bahwa kerusakan hubungan antara Tiongkok dengan Korut itu karena beberapa alasan. Rezim Pyongyang ingin mengembangkan senjata nuklir yang mampu menjadi ancaman bagi AS. Tetapi rezim Beijing khawatir terhadap ambisi besar Kim Jong-un, bahkan menerapkan sejumlah sanksi kepada Korut.

Beijing sering memamerkan kepada Washington tentang pengaruhinya terhadap Korut. Namun menurut sumber yang mengetahui masalah bahwa Beijing bahkan tidak tahu menahu saat  Pyongyang menguji bom hidrogen pada tahun ini dan mencapai keberhasilan.

Pada Desember 2013, Kim Jong-un mengeksekusi pamannya Jang Sung-taek. Pada waktu itu ada beberapa analis beranggapan bahwa Jang dibunuh karena ia memiliki hubungan erat dengan pejabat  Tiongkok dan ingin mempertahankan hubungan ekonomi dan politik dengan Tiongkok.

Selain itu, abang Kim Jong-un yang lain ibu Kim Jong-nam hidup di Beijing sebagai warga pengasingan memperoleh perlindungan dari pemerintah Tiongkok.  Hal ini menimbulkan kecurigaan Kim Jong-un mengapa pihak Beijing mau melindungi abangnya itu,  jangan-jangan Jong-nam dipersiapkan oleh pihak Beijing untuk menggantikan kedudukannya suatu saat nanti.

Laporan juga menyebutkan bahwa rezim Pyongyang juga semakin was-was terhadap rezim Beijing dalam kegiatan untuk memulihkan bagian wilayah di selatan dan timur Laut Tiongkok yang hilang. Mereka khawatir Beijing mungkin saja akan mengkhianati kepentingan Korut sebagai bagian dari perjanjian strategis yang lebih besar dengan AS.

Sementara itu, media Korea Selatan Daily NK mengutip ucapan dari sumber yang dekat dengan pejabat senior Korut baru-baru ini melaporkan bahwa Kim Jong-un menyikapi partisipasi aktif  Tiongkok dalam memberikan sanksi dengan rasa tidak puas. Oleh karena itu, ia langsung memerintahkan pihak berwenang untuk melakukan uji coba nuklir untuk yang kelima kalinya.

“Tunjukkan kelihaian kita kepada Tiongkok yang memihak AS dan ikut-ikutan memberikan sanksi”, kata Kim Jong-un.

Dari pihak AS baru-baru ini, calon presiden AS dari Partai Republik Donald Trump dalam kampanyenya mengatakan bahwa setelah menjabat presiden nanti, ia tidak merasa canggung untuk menyakiti perasaan Tiongkok demi dialog langsung dengan Kim Jong-un. Bila itu benar-benar terealisir, maka ini akan menjadi satu pembalikan kebijakaan AS terhadap Korut yang sudah berlangsung selama dekade.

Financial Times mengutip sejumlah pandangan dari para pengamat politik Korea Utara menyebutkan bahwa meskipun dunia luar mungkin akan mentertawainya, namun demikianlah, kalau diijinkan untuk memilih, memang Kim Jong-un lebih mengharapkan untuk beraliansi dengan negara adidaya AS yang berlainan benua daripada dengan negara tetangganya Tiongkok. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular