Oleh: Gao Tianyun

Drama terpanas Korea Selatan “Descendants of the Sun (Keturunan sang Mentari)” sekali lagi telah mendatangkan gelombang baru (new wave) Korea Selatan. Sebuah seri drama yang telah menyemarakkan Asia, dengan kuat menggerakkan ekspor ekonomi dan kebudayaan. Tapi apakah akan ditayangkan di TV Indonesia hingga kini masih belum ada kepastian.

Bersamaan dengan pujian meriah dari banyak penonton Asia, Presiden Korea Selatan Park Geun-hye juga sempat berpromosi dan memuji, “Drama tersebut telah berperan aktif secara tepat bagi tegaknya pendidikan patriotisme Korea Selatan dan bimbingan pandangan kenegaraan bagi kaum muda.

Selain itu, drama ini juga merupakan jendela untuk mempromosikan kebudayaan Korea Selatan, sehingga meningkatkan perhatian para turis luar negeri terhadap Korea Selatan. Isi kebudayaan yang positif bukan saja membangun nilai ekonomi dan kebudayaan, bahkan dapat berjasa dalam memajukan turisme.”

Ciri khas “Descendants of the Sun” (selanjutnya disingkat DOTS) sangat menyolok, di satu sisi melanjutkan kebiasaan drama Korea Selatan tentang romantika nan indah, di sisi lain menunjukkan kedalaman horison spiritualitas. Seorang perwira tentara khusus United Nations Peacekeeping Forces berjumpa dengan seorang dokter ahli bedah yang cantik, mengisahkan lika-liku romantika asmara di medan perang.

Mereka hilir mudik antara tanah air dan luar negeri, di dalam hujan badai mereka semakin mendekat, memasuki relung hati masing-masing. Iramanya hidup dan riang, pemandanganya indah cerah, bahasanya menggairahkan, dimainkan dengan tulus, sehingga membuat penonton sendu dan senyum, tak hentinya pujian pun terlontar.

Mengapa drama ” DOTS” sedemikian digemari? Apakah karena perpaduan pria tampan dan wanita cantik? Apakah karena banyaknya panorama di luar negeri? Apakah karena pasukan khusus yang misterius?

Semua ini memang merupakan unsur sukses, namun selain itu kunci suksesnya adalah kandungan spiritual dari karya tersebut. Sang sutradara melalui kontradiksi antar tokoh dalam drama, mewujudkan tema kesetiaan, ini merupakan penyebab sesungguhnya yang menyentuh hati penonton. Pria dan wanita dalam drama, baik pemeran utama maupun pemeran pembantu, semuanya setia kepada negara, pekerjaan dan cinta mereka.

Kesetiaan dalam hati mereka, terwujud di dalam tindakan, kata-kata dan sorot mata. Pantang mundur demi kehormatan untuk maju ke garis terdepan, saling pandang dan menyalurkan pernyataan dengan cinta yang mendalam, menjanjikan saling setia sepanjang hidup ini dan kehidupan mendatang.

Pengambilan sumpah pada bagian akhir merupakan hal yang membuat cerita menjadi semakin hidup, syutingnya lancar dan menyentuh hati. Adegan menunjukkan upacara wisuda dua kelompok anak muda pada saat yang bersamaan. Satu sisi adalah pembacaan “Sumpah Hipokrates (Hippocratic oath)” edisi masa kini bagi wisudawan fakultas kedokteran, di sisi lain adalah pengambilan sumpah perwira pasukan khusus. Sumpah yang berbeda,dan sama khidmatnya.

“Aku akan setia pada Negara dan rakyat, mentaati konstitusi dan hukum, dengan setia melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diserahkan kepada saya. Mulai sekarang memperoleh izin praktek dokter, saya akan menggunakan hati nurani dan kehormatan untuk mengamalkan ilmu kedokteran, saya hanya akan melaksanakan kewajiban saya pada pasien, melampaui suku bangsa, agama, kewarganegaraan, partai politik dan kedudukan dalam masyarakat. Sekalipun mendapat ancaman, juga tidak akan menggunakan pengetahuan saya untuk melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan peri kemanusiaan.”

Setelah pemeran utama wanita Kang Mo-yeon menghadiri upacara wisuda fakultas kedokteran, hatinya sangat tersentuh. Di jalanan musim dingin dia berjalan, terdengar lirik lagu, “Sekalipun mendapatkan ancaman, di hadapan malapetaka apapun juga tidak akan mundur, di hadapan senjata apapun juga akan melindungi perdamaian tanah ini. Hari ini, tak terhitung jumlah Yo Shi-jin dan Kang Mo-yeon yang berikrar dengan khidmat, sumpah mereka, dijaga di atas petak setiap tanah di dunia, di bawah sinar mentari.”

Pada saat itu, makna inti drama tersebut telah dinyatakan secara sempurna. Makna kehidupan pribadi telah meningkat dalam menjaga kebenaran dan pelaksanaan sumpah setia.

Pada 2015, dalam acara unjuk kebolehan acting akhir tahun yang diadakan oleh tiga stasiun televisi besar Korea Selatan, seorang pimpinan televisi dalam pidato sambutan tahun baru mengatakan, “Tahun 2016, kami akan mempersembahkan lebih banyak lagi nilai-nilai universal kepada pemirsa sedunia.”

Ternyata, tahun ini, Hallyu (arus trendy dari Korea Selatan) telah mendatangkan keharuan baru. Silakan mendengarkan kata-kata yang menyentuh, seperti Tanah air, tidak boleh kehilangan tentara seperti diriku, Haruslah datang menemuiku, meski dalam inkarnasi yang akan datang juga harus, Atasilah berbagai macam kesulitan hidup dengan cinta.

Sehat, segar, membubung, harapan, kepercayaan, pantang mundur, cinta. Nilai spirit yang berkilauan itu melampaui batas negara, sehingga membuat bergelora perasaan hati para pemirsa dengan kewarganegaraan berbeda. Dengan hati penuh kesetiaan, berjuang di bawah sinar mentari, ini mungkin merupakan asal usul judul drama TV “DOTS.” (pur/whs/rmat)

Share

Video Popular