Oleh: Petr Svab

Teleskop ruang angkasa Kepler milik NASA telah menemukan 1.284 planet baru, dua kali lipat lebih banyak dari planet temuannya sebelum. Sembilan di antara planet-planet baru itu hampir seukuran Bumi, atau sedikit lebih besar, dan mengorbit bintang mereka pada jarak yang memungkinkan eksisnya air cair, sehingga membuat mereka berpotensi dihuni, menurut pernyataan badan antariksa AS itu pada 10 Mei 2016 lalu.

Penemuan itu dimungkinkan berkat metode baru yang dapat menyaring data Kepler dan memvalidasi ratusan planet baru dalam hitungan hari, bukan tahun.

Metode ini disusun oleh Timothy Morton dari Princeton University di New Jersey, AS.

Morton menemukan teknik otomatis yang dapat menentukan kemungkinan apakah sinyal yang berasal dari salah satu bintang yang diamati Kepler mengindikasikan ada planet yang mengorbit.

Kepler telah menemukan sekitar 150.000 bintang dalam kurun sekitar empat tahun. Mereka mampu mendeteksi ketika sebuah planet melintas di depan mereka.

Sebelum Kepler, para ilmuwan telah melakukan pencarian planet melalui teleskop berbasis darat, tetapi 60 sampai 70 persen dari sinyal yang diterima dari benda langit yang berpotensi sebagai planet mengindikasikan bahwa hal itu palsu, menurut Natalie Batalha, ilmuwan misi Kepler di Ames Research Center NASA di Moff ett Field, California, AS.

Hal itu karena beberapa bintang tetangga mungkin lewat di antara bintang yang tengah diamati dan teleskop melakukan kesalahan dengan menghasilkan sinyal sebuah planet. Hanya melalui pengamatan lanjutan yang memakan waktu lama yang mampu membedakan hal itu sebagai “tipuan.”

Ketika misi Kepler dimulai, para ilmuwan juga mengantisipasi banyak dari “calon” planet yang harus dihentikan juga, menurut Batalha pada telekonferensi NASA yang mengumumkan temuan Kepler pada 10 Mei 2016.

Namun Morton punya ide lain. Alih-alih membenarkan setiap sinyal planet potensial dengan pengamatan di atas tanah, dia melihat penampakan planet potensial dan mengombinasikannya dengan probabilitas umum bagaimana “tipuan” itu bisa berada di Galaksi Bima Sakti kita.

Ia telah menemukan bahwa hampir 1.300 dari 4.300 “kandidat” Kepler, memiliki kemungkinan lebih dari 99 persen cenderung menjadi planet.

Lebih dari 1.300 “calon” lainnya mungkin juga dapat menjadi planet, tetapi tidak mencapai ambang probabilitas 99 persen. Selain itu, 984 planet yang sebelumnya divalidasi dikonfirmasi dengan metode baru.

Hanya 9 planet baru yang telah divalidasi berpotensi huni. Itu berarti mereka memiliki ukuran kurang dari 1,6 kali ukuran Bumi dan jarak yang tepat dari bintang mereka untuk memiliki air cair pada permukaannya.

“Ini adalah planet-planet yang paling sulit untuk ditemukan,” tutur Batalha.

Untuk benar-benar menjadi planet yang layak huni, faktor lain juga ikut berperan, seperti berapa banyak radiasi yang diterima planet dari bintang dan seperti apa atmosfernya.

Namun, setelah mengkalkulasi 100 miliar bintang di galaksi kita, Batalha memperkirakan mungkin ada puluhan miliar planet yang berpotensi huni di Galaksi Bima Sakti.

Misi Kepler diperkirakan akan berlangsung hingga akhir September 2017. (Epochtimes/Zzr/Yant)

Share

Video Popular