JAKARTA – Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah Penganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Perppu tersebut mengatur hukuman terhadap kejahatan seksual seperti hukuman kebiri.

Seperti dikutip dari situs sekretariat kabinet, Perppu tersebut mengatur pemberatan pidana bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak mulai dipidana mati, seumur hidup, pidana penjara paling singkat 10 tahun dan paling lama 20 tahun.

“Perppu ini dimaksudkan untuk mengatasi kegentingan yang diakibatkan terjadinya kekerasan seksual  terhadap anak yang semakin meningkat secara signifikan,” kata Presiden Jokowi saat mengumumkan Perppu tersebut, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (25/5/2016).

Kepala Negara menuturkan kejahatan seksual terhadap anak telah merusak kehidupan pribadi dan tumbuh kembang anak, serta kejahatan yang telah mengganggu rasa kenyamanan, ketenteraman, keamanan dan ketertiban masyarakat.

Presiden mengatakan Perppu ini juga mengatur pidana tambahan yaitu pengumuman identitas pelaku, tindakan berupa kebiri kimia, dan pemasangan alat deteksi elektronik. Menurut Presiden, penambahan pasal-pasal tersebut akan memberikan ruang  bagi hakim untuk memutuskan hukuman seberat-beratnya bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

Melansir data yanng dipublikasikan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak)  secara keseluruhan berdasarkan data yang bisa dipertanggungjawabkan bahwa sebanyak 21.689.987 anak menjadi korban pelanggaran kejahatan dan kekerasan. Adapun kejahatan seksual paling dominan diikuti 42% kasus kekerasan fisik, pelantaran, penculikan, eksploitasi perdagangan anak untuk komersial.

Data yang dihimpun pada 34 provinsi dan 179 kabupaten/kota seluruh Indonesia sepanjang 2010-2015 angkanya terus mengalami peningkatan. Dibandingkan pada 2010 terjadi sebanyak 2000 kasus yang didominasi kejahatan seksual dan terus meningakat pada 2014. Angka kejahatan itu rinciannya terdiri 52 persen kejahatan seksual.

Menurut Komnas Anak bahwa pelaku kekerasan anak adalah anggota keluarga, tetangga, teman, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain. Umumnya tindak kekerasan tersebut terjadi di ruang privat sebesar 62% dan ruang publik seperti rumah, sekolah, panti asuhan, lembaga keagamaan dan lainnya sebanyak 38%. (asr)

Share

Video Popular