Melalui konfirmasi sebelumnya, media Korea Selatan JoongAng Ilbo melaporkan bahwa bantuan minyak mentah Tiongkok kepada  Korea Utara yang selama 3 tahun berturut-turut tercatat di data statistik pemerintah Tiongkok sebagai nol (0) atau tidak ada pengiriman, ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya karena penyaluran minyak lewat pipa masih tetap berlangsungg sampai sekarang.

Pada Minggu (15/5/2016) yang turun hujan, 2 kereta api yang masing-masing terdiri dari 25 rangkaian tangki minyak terlihat sedang berhenti di pangkalan minyak yang terletak di pinggiran kota Dandong, Liaoning untuk membongkar minyak mentah muatannya melalui pipa minyak ke dalam tangki raksasa penyimpanan yang berada dalam lokasi ‘Depot Minyak 83.’

Di atas menara pengawas, terlihat ada tentara garda membawa senapan sedang mengawasi sekeliling. Dan di sekitar sana juga terpasang sejumlah kamera sirkuit tertutup yang menampakkan ketatnya  penjagaan.

Kereta api dengan rangkaian tangki tersebut membawa minyak mentah yang dihasilkan oleh  ladang minyak Daqing di propinsi Heilongjiang. Minyak-minyak itu kemudian disalurkan lewat pipa ke tempat yang berfasilitas penyulingan minyak, yang terletak di Pihyon, P’yongan-buk do, Korea Utara. Demi kepentingan penyaluran jarak jauh minyak mentah itu perlu dipanaskan sampai 89 ° Celcius, karena itu akan mengepulkan asap.

Seorang pemilik toko yang berdagang di depan pintu gerbang depot mengatakan, “Penyaluran minyak mentah dari sini ke Korea Utara sudah berlangsung sejak jamannya Mao Zedong, dan sekarang masih saja beroperasi.”

Sehari sebelumnya, seorang penjual makanan ringan yang warungnya berada di dekat rel KA jalur pengiriman minyak juga mengatakan, “Hampir setiap hari ada saja KA dengan rangkaian tangki minyak yang lewat di sini. waktunya yang tidak menentu, kadang siang kadang juga malam hari.”

Untuk mengetahui perkembangan pengiriman minyak mentah Tiongkok ke Korut sebelum dan sesudah diberlakukannya sanksi, penulis menanyakkan kepada pemilik toko yang berada di depan pintu gerbang depot tentang frekuensi lewatnya KA yang dikatakan, “Sekarang sudah berkurang, sehari sekali paling banyak 2 kali lewat, di waktu lalu lebih sering.”

Ketika di desak soal dahulu yang ia maksudkan itu kapan, ia menjawab, kira-kira 20 – 30 tahun lalu.”

Ini membuktikan bahwa jumlah minyak yang disalurkan memang menurun.

“Kita (Tiongkok–Korut) ini bersekutu, bagaimana mungkin Tiongkok akan menghentikan bantuan  minyak untuk Korut?” pancing penulis kepada seorang kakek berusia sekitar 70 tahun yang ditemui di sekitar toko.

“Sanksi dan bantuan perlu dipisahkan,” tegas Kakek itu.

Ia kemudian menjelaskan bahwa walaupun ia mendukung bantuan kemanusiaan yang tidak boleh terganggu oleh alasan apapun. Namun setelah Korut melakukan uji coba nuklir untuk yang ketiga kalinya, pemerintah Tiongkok mulai Januari 2014 sudah mencatatkan angka 0 (nol) pada data statistik ekspor atau pengiriman minyak mentah ke Korut.

Seorang yang mengetahui cukup banyak informasi tentang Korut dan akrab dengan hubungan antara Korut dengan Tiongkok menjelaskan, “Akibat Tiongkok sudah menyatakan secara terbuka untuk membantu minyak kepada Korut, sehingga ia mengalami kesulitan dan terpaksa mengatasinya dengan bermain angka di data statistik. Sekitar tahun 2007, pemerintah Tiongkok hanya sesekali mengirim minyak ke Korut untuk menjaga agar pipa-pipa minyak itu tidak tersumbat.” (Secretchina/sinatra/rmat)

Share

Video Popular