Dua tahun lalu, seorang bocah perempuan bernama Ya-yue (10), bukan hanya nafsu makannya yang tiba-tiba menjadi besar, tapi sering merasa lapar lagi meski sudah makan, sehingga membuat ibunya keliru mengira selera makan putrinya itu bagus dalam masa pertumbuhan, namun tak diduga berat badan putrinya justru secara bertahap menurun drastis, sering buang air kecil di tengah malam, dan baru diketahui menderita diabetes tipe I setelah diperiksa.

Menurut statistik, jumlah penderita diabetes tipe 1 di seluruh Taiwan pada tahun 2015 lalu itu ada sekitar 10.800 orang, sepertiganya adalah penderita remaja di bawah usia 18 tahun, atau usia rata-rata penderita dikisaran 6 – 7 tahun, bahkan gejala itu pernah ditemukan pada balita usia 1 tahun 3 bulan, kata Lin Jian-ming, dokter pediatrik endokrinologi di Tri-Service General Hospital, Taipei Taiwan.

Menurut penuturan Lin Jian-ming, bahwa sejauh ini, mekanisme patogenesis diabetes tipe 1 belum diketahui, hanya tahu mungkin karena pengaruh genetik, atau pengaruh lingkungan, penelitian di masa lalu juga menemukan bahwa infeksi virus mungkin memicu timbulnya diabetes tipe 1, begitu terjangkit penyakit ini maka harus dilakukan suntikan insulin seumur hidup untuk mengontrol kadar gula darah.

Sementara itu, rekan satu profesi dokter Lin Jian-ming di Tri-Service General Hospital, yakni Zhu De-ming, yang juga merupakan spesialis pediatrik endokrinologi mengatakan, “banyak makan, sering minum (dahaga abnormal), sering buang air kecil, berat badan menurun,” adalah tanda dari penyakit diabetes tipe I, namun, banyak orang tua yang keliru menafsirkan bahwa itu adalah nafsu makan anak-anak yang bagus, sehingga mengabaikan sinyal terkait suatu penyakit (diabetes), dan setelah mengalami diabetic ketoacidosis hingga muncul gejala sakit perut, napas terengah-engah (sesak napas), demam dan gejala semacam flu, baru diketahui ternyata biang keladi dari semua itu adalah diabetes.

Selain gejala tersebut di atas, jika pada usia 6 atau 7 tahun, si anak masih mengompol, atau mudah memancing kerumunan semut di sekitar air kecing si anak, maka sebaiknya waspada dan lakukan pemeriksaan awal, namun, selama terkontrol dengan baik, dapat menekan risiko komplikasi dan perubahan patologis pada saraf, ginjal dan mata atau organ lainnya, tambah Zhu De-jiang. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular