KTT G7 yang diselenggarakan selama 2 hari di Ise Shima Jepang telah berakhir. 7 pemimpin negara menyampaikan komitmen bersama untuk mengupayakan pertumbuhan ekonomi global, menghindari perang mata uang dan secara bersama-sama mengatasi resiko yang menghambat pertumbuhan ekonomi global, termasuk serangan teroris dan kekerasan oleh kelompok ekstremis yang mengancam tatanan internasional.

Reuters memberitakan, dalam deklarasi Ise Shima setebal 32 halaman itu pemimpin AS, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Italia dan Jepang sepakat untuk mengedepankan pertumbuhan ekonomi global dan mengatasi ancaman utama yang menghambat pencapaian tujuan tersebut.

Dalam deklarasi itu disebutkan bahwa ekonomi global saat ini tumbuh jauh di bawah harapan.

“Kita akan menghadapinya dengan memanfaatkan segala kebijakan ekonomi, termasuk kebijakan moneter, fiskal dan kebijakan struktural, baik melalui kerjasama antar individual maupun antar negara agar permintaan global menguat,” bunyi deklarasi tersebut.

Rencana menggunakan kebijakan yang lebih kuat dan seimbang untuk mempercepat pencapaian pola pertumbuhan yang imbang dan berkelanjutan.

Deklarasi juga menyerukan kepada pasar internasional agar tetap terbuka, memerangi segala bentuk proteksionisme dan mendesak negara-negara bersangkutan untuk menghindari devaluasi mata uang, fluktuasi nilai tukar akibat adanya kompetisi.

Selain masalah ekonomi, deklarasi juga menyinggung sejumlah isu termasuk Brexit, imigrasi. Mengingatkan juga soal kelebihan produksi besi dan baja telah berdampak negatif terhadap ekonomi global.

Central News Agency melaporkan bahwa untuk menghadapi kelompok militan IS, negara-negara G7 sepakat untuk memainkan peran utama dalam kontra-terorisme. Sepakat menganggap serangan, kekerasan, pelanggaran HAM yang dilakukan IS dan organisasi teroris lainnya adalah ancaman terbesar bagi perdamaian dan keamanan internasional, nilai serta prinsip-prinsip kemanusiaan.

“Kita ingin memotong rantai kekerasan dan kebencian untuk mencegah terjadinya radikalisme kekerasan, perluasan. Meskipun perbedaan pendapat, budaya dan keyakinan tidak dapat dihindari, tetapi hidup berdampingan secara damai, menghargai keberagaman, toleransi, inklusivitas dialog semestinya lebih didahulukan,” demikian bagian dari isi deklarasi.

Deklarasi juga melampirkan sebuah rancangan tentang operasi anti terorisme, aksi kekerasan ekstremisme. Selain itu, KTT juga membicarakan masalah pengungsi, menghimbau negara-negara untuk memperkecil perselisihan dan membantu dengan memberikan tempat bagi pengungsi Timur Tengah.

Rakyat Ingris akan menyelenggaran referendum pada 23 Juni 2016 untuk menentukan apakah Inggris akan tetap berada atau keluar dari Uni Eropa. Untuk itu, G7 dalam deklarasi tersebut mengingatkan bahwa jika Inggris memutuskan untuk menarik diri dari Uni Eropa akan menimbulkan resiko bagi pertumbuhan ekonomi global. Upaya-upaya Uni Eropa dalam memperkuat perdagangan global, penanaman modal dan kesempatan kerja akan mengalami kemunduran.

Deklarasi juga menyampaikan rasa kekhawatiran atas perkembangan situasi di Laut Tiongkok Timur dan Selatan yang belakangan ini terus memanas. Menghimbau negara-negara terkait agar tidak menyelesaikan sengketa wilayah melalui kekuatan. Tetapi menyelesaikan sengketa kedaulatan atau perbatasan melalui perundingan untuk menghindari ketegangan kawasan. Penyelesaian sengketa secara damai dan menghormati kebebasan navigasi perlu dijunjung tinggi.

Menyangkut isu-isu lingkungan, pemimpin G7 juga mencapai konsensus untuk memberlakukan keputusan yang dihasilkan oleh Kesepakatan Iklim Paris sebelum Desember 2016.

Deklarasi mengacu pada krisis pengungsi di benua Eropa menyatakan bahwa masalah pengungsi tersebut merupakan tantangan global yang harus dihadapi oleh seluruh negara. Karena itu, perlu penambahan bantuan dari  lembaga-lembaga keuangan internasional dan negara donortur. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular