Oleh: Luo Ya dengan Chen Pokong

Chen Pokong (dibaca: Jen Bou Gung), komentator politik ketika diwawancarai Epoch Times mengatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok/ PKT dalam rangka menyambut peringatan 50 tahun Revolusi Kebudayaan bersikap menyangkal terhadap Revolusi Kebudayaan. Mekanisme transfer kekuasaan tertinggi PKT sudah tidak berlaku lagi. Rezimnya berada disaat keruntuhan sedangkan perebutan kekuasaan level atas PKT mempercepat runtuhnya rezim komunis. Dalam situasi saat ini, tidak peduli demi perkembangan Tiongkok atau keselamatan pribadi dikemudian hari, Xi Jinping seharusnya bertindak dahulu menumpas Jiang sampai keakarnya.     

Situs people.cn mengeluarkan artikel larut malam menyangkal apatis terhadap Revolusi Kebudayaan

Dalam rangka perenungan Revolusi Kebudayaan dari pihak resmi PKT mengeluarkan suara penolakan Revolusi Kebudayaan, “Mengakui bahwa Revolusi Kebudayaan adalah sebuah kesalahan aksi yang diprakarsai oleh sang pemimpin, mendatangkan bencana kekacauan dalam negeri yang sangat serius bagi negara dan rakyat, kerugian yang ditimbulkan adalah menyeluruh dan sangat serius dan lain-lain.”

Chen Pokong berpendapat, walaupun pada 1976 pimpinan PKT Hua Guofeng mengumumkan Revolusi Besar Kebudayaan telah berakhir namun pada kenyataannya Revolusi Kebudayaan tidak pernah berakhir. Ia menganalisa, karena kediktatoran satu partai yang menopang Revolusi Kebudayaan ini masih eksis, sistem kediktatoran satu partai ini masih ada, sistem semacam ini merupakan api dalam sekam yang memungkinkan Revolusi Kebudayaan ini berkobar kembali. Revolusi Kebudayaan tetap eksis dalam bentuk lain, terkadang malah masih bisa membangkitkan klimaks kecil.

Mekanisme transfer kekuasaan tertinggi PKT sudah tidak manjur lagi

Chen Pokong berbicara mulai dari perebutan kekuasaan level atas PKT dalam Revolusi Kebudayaan, melihat perebutan kekuasaan level atas PKT sekarang ini dia berpendapat bahwa mekanisme transfer kekuasaan PKT sekarang ini sudah tidak efektif lagi.

“Diawalnya adalah Mao Zedong (penguasa otoriter RRT 1949-1976) menggulingkan Liu Shaoqi (kepala negara RRT 1959-1968), klimaksnya adalah Mao Zedong menggulingkan Lin Biao (yang notabene adalah wakilnya sendiri), ketika berakhirnya Revolusi Kebudayaan dan meninggalnya Mao, penerus yang ditunjuk oleh Mao Zedong tertangkap semua,” kata Chen.

Mao menunjuk Jiang Qing (istri ketiga Mao) sebagai penerus. Mao Yuanxin (keponakan Mao) adalah penerus lintas generasi, tapi mereka diringkus tuntas oleh pejabat tinggi tidak ternama (Hua Guofeng). Hari ini perebutan kekuasaan level atas PKT juga sedang berlangsung dikarenakan transfer kekuasaan PKT sudah tidak efektif dan tidak manjur lagi, selain tidak demokratis juga tidak otoriter.

Pemimpin PKT bukan hasil pemilu, karena itu ia bukan diberi kekuasaan oleh rakyat, ia terbentuk dan ditetapkan oleh sekelompok kecil politisi gaek elitis yang mengatur anggota ‘kabinet’ bagi dirinya. Baik Hu Jintao (kepala Negara 2002-2012) atau kepala Negara sekarang Xi Jinping, mereka adalah pemimpin yang diawasi ketat, itu sebabnya mereka sulit mengonsentrasikan kekuasaan.

“Sekarang ini ada kejanggalan sedemikian rupa, Hu Jintao dan Xi Jinping setelah menjadi pemimpin, mereka melalui perebutan kekuasaan untuk mengukuhkan kekuasaan mereka, diri sendiri lantas memegang kekuasaan politik-hukum, militer dan propaganda,” analisa Chen.

Perebutan kekuasaan dalam tubuh PKT akan mempercepat kemusnahan

Chen Pokong menyimpulkan bahwa sekarang ini adalah peirode PKT menjelang menghadapi kemusnahan. Mao Zedong sendiri juga mengatakan segala sesuatu mempunyai proses terjadi, berkembang lalu musnah. PKT juga disebut ‘Dinasti Merah (komunis)’, dinasti dalam sejarah Tiongkok ada yang sangat pendek hanya 10 tahun, juga ada yang 300 tahun lamanya seperti dinasti Tang dan lain-lain, tidak peduli itu berlangusung 10 tahun atau beberapa ratus tahun pada akhirnya pasti musnah. Lagi pula kekuasaan yang absolut membawa kebobrokan yang absolut pula, kebobrokan semacam ini adalah proses kerajaan dari awal berdiri hingga makmur lalu menjadi lemah hingga musnah, maka dari itu Dinasti Merah PKT hari ini berada dalam keadaan ekstrim korup melebihi dinasti-dinasti sebelumnya, maka kebobrokan seperti ini pasti akan mendatangkan kemusnahan dan perebutan kekuasaan dalam tubuh PKT sendiri serta akan mempercepat keruntuhannya.

Demi perkembangan Tiongkok maupun keselamatan pribadi Xi Jinping seharusnya menumpas tuntas Jiang

Sejak “Kongres Nasional PKT XVIII” 2012, berlangsung perebutan kekuasaan antara Xi Jinping dan faksi Jiang Zemin, Chen berpendapat, dewasa ini perebutan kekuasaan Xi Jinping terhadap kekuatan faksi Jiang sudah mencapai kemenangan yang signifikan. Ia meraih kekuasaan besar Komite Hukum dan Politik, berhasil menggenggam kekuasaan besar di bidang organisasi pengkaderan partai dan menguasai lebih dari separoh hak kemiliteran, namun kekuasaan bidang propaganda masih belum ia kuasai.

Padahal pengaruh kekuasaan moncong propaganda itu masih sangat besar sekali, arena peperangan dimasa damai yang tidak berapi dan berasap, gagang pena lebih efektif daripada gagang senapan, selama Xi masih belum menguasainya secara total maka perebutan kekuasaan kedua belah pihak masih belum ada penentuan.

Ia selanjutnya menganalisa, dilihat dari “Kongres Nasional PKT XIX” 2017 mendatang, orang dari faksi Jiang yang bisa masuk Komite Sentral Tetap Politbiro (kepemimpinan tertinggi kolektif ala pemerintahan komunis yang saat ini beranggotakan 7 orang) sangat sedikit, pada dasarnya tidak ada penerusnya. Dari sudut pandang makro, Xi Jinping berada di atas angin. Jika pada “Kongres Nasional PKT XIX” nanti Xi Jinping berhasil menggenggam kekuasaan riil, ia kemungkinan bisa mendorong maju kebijakannya sendiri pada masa jabatannya yang kedua, tanpa dikontrol lagi oleh para politisi gaek.

Untuk itu Chen Pokong berpendapat bahwa langkah paling penting Xi Jinping adalah harus melakukan secara tuntas yakni menghapus sistem orang tua, artinya harus menindak Jiang Zemin karena jika tidak mencabut kekuasaan Jiang Zemin sampai tuntas maka kekuatan faksi Jiang masih bisa melancarkan serangan balasan sewaktu-waktu.

“Suatu saat Xi Jinping nanti mengundurkan diri, Xi ataupun Wang Qishan (asisten Xi dalam pemberantasan korupsi) akan menerima pembalasan, karena dalam proses anti korupsi mereka telah melengserkan dan menghukum para kader partai yang korup dalam jumlah sangat banyak, terutama orang-orang dari faksi Jiang. Itu sebabnya demi perkembangan Tiongkok atau demi keselamatannya sendiri di kemudian hari, saya rasa Xi Jinping seharusnya menumpas faksi Jiang sampai ke akar-akarnya,” katas Chen Pokong. (lin/whs/rmat)

Share

Video Popular