Apakah Anda menghadapi pertengkaran dengan kemarahan yang meledak-ledak atau Anda memilih untuk diam seribu bahasa. Perilaku saat konflik dengan pasangan berkaitan dengan masalah kesehatan tertentu di kemudian hari, demikian penelitian melaporkan.

Penelitian, didasarkan pada bagaimana pasangan berperilaku selama konflik, menunjukkan amarahnya cenderung mengalami masalah kardiovaskular di kemudian hari. Sedangkan, memendam kemarahan atau “diam seribu bahasa” berisiko penyakit muskuloskeletal seperti otot punggung yang pegal atau otot menjadi kaku.

“Temuan kami menunjukkan tingkat ketepatan yang baru dalam hal bagaimana emosi berkaitan dengan kesehatan, dan bagaimana perilaku kita dari waktu ke waktu dapat cenderung menimbulkan masalah kesehatan,” kata Robert Levenson, peminpin penelitian, seorang psikolog di University of California, Berkeley, AS.

Percakapan selama 15 Menit

Penelitian, yang diterbitkan dalam jurnal Emotion yang berdasarkan data yang dikumpulkan selama 20 tahun memantau faktor usia, pendidikan, olahraga, merokok, penggunaan alkohol, dan konsumsi kafein.

Secara keseluruhan, hubungan antara emosi dan masalah kesehatan paling menonjol terjadi pada suami, tetapi pada beberapa kasus juga ditemukan pada istri.

“Kami melihat percakapan dalam konflik rumahtangga hanya berlangsung selama 15 menit dan dapat memprediksi masalah kesehatan yang akan terjadi lebih dari 20 tahun kemudian pada suami berdasarkan pada perilaku emosional yang tunjukkan selama percakapan 15 menit,” kata pemimpin studi, Claudia Haase, asisten profesor pembangunan manusia dan kebijakan sosial di Northwestern University.

Peneliti mengatakan bahwa temuan ini dapat memacu seorang pemarah untuk mencegah timbulnya kemarahan yaitu berusaha mengendalikan kemarahannya supaya tidak jadi marah, sementara individu yang menarik diri selama konflik mendapat manfaat karena menahan diri untuk memendam emosi.

“Konflik terjadi pada setiap pernikahan, tetapi individu yang terlibat menghadapinya dengan cara yang berbeda. Beberapa orang menghadapinya dengan kemarahan yang meledak-ledak; sebagian orang menghadapinya dengan cara diam, “kata Haase. “Penelitian kami menunjukkan bahwa perilaku emosi yang berbeda dapat memprediksi terjadinya masalah kesehatan yang berbeda dalam jangka panjang.”

Kemarahan dan diam seribu bahasa

Salah satu penelitian yang dipimpin oleh Levenson, meneliti apa yang dilakukan orang yang sudah lama mengarungi hidup berumahtangga. Pesertanya adalah 156 pasangan heteroseksual setengah baya dan lebih tua di daerah Teluk San Francisco yang masalah kehidupan berumahtangganya telah dilacak oleh Levenson dan rekan peneliti sejak tahun 1989.

Pasangan hidup yang berpartisipasi dalam penelitian ini sekarang telah berusia 60-an tahun, 70-an tahun, 80-an tahun, dan bahkan 90-an tahun.

Setiap lima tahun, pasangan direkam video di laboratorium ketika mereka membahas peristiwa ketidaksepakatan dan kenikmatan dalam hidup rumahtangganya. Ahli sandi perilaku menilai interaksi pasangan terhadap berbagai emosi dan perilaku berdasarkan ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara. Selain itu, pasangan harus menjawab pertanyaan di kuesioner yang menanyakan masalah kesehatan tertentu secara rinci.

Dalam penelitian terbaru ini, para peneliti memusatkan perhatian pada masalah kesehatan yang terjadi akibat kemarahan dan perilaku memendam emosi yang disebut sebagai “diam seribu bahasa”. Penelitian ini juga melihat kesedihan dan ketakutan sebagai alat memprediksi masalah kesehatan, tetapi tidak terdapat hubungan yang nyata .

“Temuan kami menunjukkan emosi tertentu misalnya marah-marah dan diam seribu bahasa memberi kecenderungan terjadinya masalah kesehatan tertentu,” kata Levenson.

Bibir, alis, mata

Para peneliti memantau percakapan yang direkam dalam video yang menunjukkan ekspresi perilaku ketika marah, seperti bibir terkatup, alis yang naik, suara yang melengking atau rendah di luar nada normal mereka, dan rahang yang mengatup.

Untuk mengenali perilaku diam seribu bahasa, peneliti menyebutnya sebagai perilaku “menghindar”, meliputi wajah yang kaku, otot leher kaku, dan sedikit atau tidak ada kontak mata. Data ini kemudian dikaitkan dengan gejala kesehatan, yang diukur setiap lima tahun selama rentang 20 tahun.

Pasangan yang diamati sering mengakhiri percakapan lebih dulu cenderung berisiko menderita nyeri dada, tekanan darah tinggi, dan masalah kardiovaskular lainnya dari waktu ke waktu.

Pasangan yang diam seribu bahasa atau jarang berbicara dan menghindari kontak mata cenderung menderita sakit punggung, kaku leher atau sendi, dan ketegangan otot secara umum.

“Selama bertahun-tahun, kita sudah tahu bahwa emosi negatif berkaitan dengan masalah kesehatan, tapi penelitian ini menggali lebih dalam untuk menemukan apakah emosi tertentu berkaitan dengan masalah kesehatan tertentu,” kata Levenson. “Ini adalah salah satu dari banyak cara di mana emosi kita menjadi sarana sekilas pandang akan kualitas hidup masa depan yang penting.”(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular