JAKARTA – Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa rokok kretek merupakan komoditi penyebab terbesar mempengaruhi garis kemiskinan di Indonesia. Pasalnya, uang yang dimiliki oleh masyarakat dihabiskan untuk alokasi membeli rokok kretek. Survei ini mengingatkan efek rokok dari segi keuangan dan kesehatan dalam rangka memperingati hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada Selasa (31/5/2016).

Mengutip hasil survei yang disampaikan oleh BPS pada April 2014 dan Maret 2015 menunjukkan bahwa rokok kretek masih menduduki salah satu komoditi sebagai penyumbang garis kemiskinan di Indonesia.

Pada Maret 2014, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,28 juta orang (11,25 persen), berkurang sebesar 0,32 juta orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2013 yang sebesar 28,60 juta orang (11,46 persen), dan bertambah sebesar 0,11 juta orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2013 yang sebesar 28,17 juta orang (11,36 persen).

Survei yang digelar oleh BPS pada saat itu menunjukkan bahwa komoditi rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap Garis Kemiskinan sebanyak 9,68 perse di perkotaan dan 8,64 persen di pedesaan.

Selama periode September 2013-Maret 2014, Garis Kemiskinan naik sebesar 3,34 persen yaitu dari Rp292,951 perkapita perbulan pada September 2013 menjadi Rp302,735 perkapita perbulan pada Maret 2014. Sementara pada periode Maret 2013-Maret 2014 menunjukkan Garis Kemiskinan Naik sebesar 11,45 persen yaitu dari Rp271.626 perkapita perbulan pada Maret 2013 menjadi Rp302,735 perkapita perbulan pada Maret 2014.

Sedangkan data BPS menyebutkan, pada bulan September 2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,51 juta orang (11,13 persen), berkurang sebesar 0,08 juta orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2015 yang sebesar 28,59 juta orang (11,22 persen).

Sedangkan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2015 sebesar 8,29 persen, turun menjadi 8,22 persen pada September 2015. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan turun dari 14,21 persen pada Maret 2015 menjadi 14,09 persen pada September 2015.

Garis kemiskinan yang dimaksud BPS adalah batas menjadikan penduduk miskin dan tidak miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Pada periode Maret-September 2015 yaitu dari Rp 330.779 perkapita perbulan pada Maret 2015 menjadi Rp 344.809 perkapita perbulan pada September 2015.

Komponen Garis Kemiskinan terdiri Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM). Namun sumbangan angka kemiskinan terbesar berasal dari Garis Kemiskinan Makanan. Angka ini lebih besar dibandingkan Garis Kemiskinan Bukan Makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan.

Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan relatif sama dengan di perdesaan, diantaranya rokok kretek filter sedangkan, untuk komoditi bukan makanan diantaranya adalah biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi. (asr)

Share

Video Popular