Oleh: Qin Yufei

Tumpukan baja di pekarangan RRT telah menggunung. Stok baja di pelabuhan mencapai lebih dari 100 juta ton, diprediksi kelebihan pasokan baja dari negara pemasok nomor satu dunia ini akan merusak harga. Pihak asing menuding RRT telah mengobarkan “perang” baja, yang akan menimbulkan dampak destruktif terhadap harga baja di berbagai tempat di dunia.

Menurut data dari Shanghai Steel House Information Technology Ltd, minggu ini stok baja Tiongkok naik sebesar 1,6% mencapai 100.450.000 ton. Angka ini adalah angka stok tertinggi sejak Maret 2015 silam, dan dari awal tahun ini sampai sekarang stok baja telah meningkat sebesar 7,9%.

Selama dua bulan terakhir, investor Tiongkok berbondong-bondong menggoreng harga komoditas bahan baku di pasar berjangka, seiring dengan tekanan dari pihak pengawas, telah membuat investor samar-samar melihat tanda-tanda akan pecahnya efek gelembung ini. Di bawah stimulus lonjakan harga, kapasitas produksi pabrik baja Tiongkok pada April memecahkan rekor. BHP Billiton minggu ini memprediksi, stok baja di pelabuhan RRT mungkin akan terus menanjak.

Jum’at lalu (20/5) harga bijih besi dengan kandungan kadar besi 62% telah naik 2,7% hingga menyentuh angka USD 54,89 per ton. Tapi dibandingkan dengan harga USD 70 per ton pada bulan April lalu, harga tersebut telah merosot 22%.

RRT Lakukan Perang Baja, Bukan Transaksi Baja

Meskipun RRT telah mengisyaratkan akan mengambil tindakan untuk mengurangi kelebihan produksi baja ini, namun para pimpinan mitra asing menuding RRT telah melancarkan “perang” baja yang menimbulkan dampak merusak harga baja di berbagai tempat di dunia.

Beberapa tahun terakhir ini produksi baja yang berlebihan selalu menjadi duri dalam daging, harga baja yang tertekan membuat banyak perusahaan baja sulit bertahan. Biaya produksi baja yang rendah pada perusahaan baja RRT selalu dituding sebagai biang kerok dari kelebihan pasokan baja. Apalagi karena menurunnya permintaan di dalam RRT, negara ekonomi kedua terbesar dunia itu dituduh melakukan dumping di pasar global untuk memperoleh market share. Namun demikian, pihak PPartai Komunis Tiongkok/ PKT menyangkal ada tindakan tidak terpuji tersebut, dan mengatakan biaya produksinya memang lebih rendah daripada para produsen lainnya.

Direktur merangkap CEO Cliffs Natural Resources Inc. bernama Lorenzo Gonzales, Kamis lalu (19/5/2016) mengatakan pada CNBC, tindakan RRT ini adalah tidak fair.

“RRT adalah pelaku kejahatan, mereka adalah inti masalah, mereka bisa saja ikut membahas masalah ini dalam forum OECD, tapi mereka memilih untuk tidak turut serta… RRT terus menghindar dari negosiasi transaksi,” kata Gonzales.

Menurut World Steel Association, produksi baja mentah dunia pada kuartal pertama tahun ini adalah 385,7 juta ton atau turun sebesar 3,6% dibandingkan tahun lalu. Akan tetapi sebaliknya, produksi baja mentah RRT pada Maret tahun ini sebesar 70,7 juta ton atau justru naik sebesar 2,9% dibandingkan tahun lalu.

Gonzales mengatakan, hanya angka ini saja bisa dikatakan RRT adalah masalah terbesar. Ia menuding RRT tidak mentaati peraturan dagang internasional.

“Jika daya saingnya adalah berlandaskan pada menipu peraturan dagang internasional, maka RRT tidak berhak menyebut dirinya memiliki daya saing. Perdagangan yang tidak didasari cara dagang yang adil tidak bisa disebut perdagangan, itu adalah perang,” katanya.

Merusak Industri

Untuk menangkal dampak negatif akibat baja murah dari RRT ini, Amerika Serikat telah menaikkan bea masuk plat baja gulungan dari RRT hingga mencapai 522% dan menuding RRT tidak mau bekerja sama dalam investigasi anti-dumping. Tindakan aksi balas RRT terhadap aksi AS menaikkan bea masuk ini adalah, ia akan terus memberikan kompensasi pajak yang kontroversial kepada perusahaan pengekspor baja dengan tujuan membantu sektor ini agar restrukturisasi kembali dan mengurangi produksinya.

Direktur merangkap CEO perusahaan baja Amerika Esmark yakni James Bouchard berpendapat, tindakan RRT “tidak diragukan” merupakan aksi dumping baja, ia mengatakan hal ini akan berdampak “merusak” terhadap industri lainnya.

Bouchard mengatakan pada CNBC, bagaimana pun perusahaan lain menurunkan harganya, perusahaan RRT selalu masih bisa masuk ke pasaran dengan memberikan harga yang lebih rendah, sepertinya harga baja RRT sama sekali tidak ada batas bawahnya. Mereka selalu bisa merebut order, hal ini mengakibatkan tekanan yang sangat agresif terhadap harga baja di AS. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular