Peringatan puncak Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati tiap 31 Mei, hari ini diwarnai seruan untuk “Sehari Tanpa Rokok.” Rangkaian acara puncak peringatan digelar di TIM oleh Kementrian Kesehatan RI, adalh dialog interaktif “Pengendalian Tembakau Bersama Masyarakat.”

Tingkat perokok di Indonesia cukup tinggi, karena menduduki rangking puncak untuk kategori perokok pria. Sedangkan untuk perokok wanita mulai menunjukkan tren kenaikan. Apalagi di usia remaja, prevalensinya menunjukan peningkatan prosentase. Ingat kasus anak-anak yang aktif sebagai perokok, seperti kasus Sandi Adisusanto di Malang dan Aldi dari Banyuwangi yang telah ‘nyandu’ rokok sejak usia dini?

Terkait usia remaja perokok ini, data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI,  tentang prevalensi perokok remaja usia 15-19 sejak 1995 – 2013 menyebutkan bahwa pada 1995, ada 13 % perokok laki-laki artinya ada 1 orang perokok di antara 10 orang.

“Namun pada 2010 – 2013, ada sebesar 37%, artinya ada 1 orang perokok diantara 3 orang yang merokok,” jelas dr. Theresia Sandra Diah Ratih, MHA, selaku Kepala Sub Direktorat Penyakit Paru Kronik dan Gangguan Imunologi, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM), Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, saat menjadi pembicara di acara Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2016 di Ditjen P2P Kemenkes RI Gd D Lantai 4 Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta, Selasa (24/5/2016) yang lalu.

Masih dari sumber yang sama, jika dilihat proporsi perokok pemula usia 10 – 14 tahun pada 1995 – 2013, terjadi kenaikan 2 kali lipat.  Usia 10-14 tahun adalah usia SD!

Smoke Free Agents (SFA), sebuah komunitas melawan rokok,  mengatakan bahwa remaja saat ini menjadi sasaran utama dari industry rokok. Mereka mengetahui tentang image rokok yang keliru dari ikland an promosi. SFA mencatat bahwa ada  87,7 % remaja terpapar iklan rokok luar ruang dan 76,2 iklan rokok di majalah/ Koran. Masih ada lagi dari berbagai pentas musik, rock, jazz.

Iklan rokok  terselubung dalam simbolisasi juga marak. Bahkan dipakai dalam “hestek-hestek” di sosial media yang sering digunakan sebagai kendaraan untuk promosi. Padahal payung hokum larangan promosi, iklan dan semacamnya telah diberlakukan.

“Mirisnya, anak-anak muda disasar menjadi kendaraan baru bagi pemasaran industri rokok,” jelas Hasna Pradityas, perwakilandari SFA,  di Jakarta, Selasa (24/5/2016) yang lalu.

Kecemasan Tyas, bukan tanpa alasan, pasalnya meski di Ibukota sudah bisa dibilang bersih dari baliho iklan rokok, namun sering terselubung dalam acara-acara yang bersegmen anak muda, seperti pentas music. Apalagi di daerah-daerah masih marak.

Theresia mengemukakan, bahwa konses pada remaja menjadi perlu karena anak-anak remaja kemungkinan adiksinya lebih tinggi dibanding orang tua yangg merokok. 90% adiksi.

“Suarakan kebenaran tentang bahaya merokok,” katanya.

Apalagi Phillip Morris, produsen rokok berkelas dunia memiliki motto,  “Remaja hari ini, adalah pelanggan tetap hari esok!” Motto yang perlu diwaspadai, agar remaja-remaja generasi bangsa tidak terjerumus menjadi konsumen rokok di masa nanti. Dan peringatan sehari tanpa rokok, memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2016 ini menjadi momentum untuk hidup sehat tanpa rokok. (rmat)

Share

Video Popular