Ilmuwan Brasil kembangkan sejenis terapi kanker baru yang bisa secara langsung menyerang sel kanker. Inset : salah satu jenis kanker(Fotolia)

Kemoterapi adalah terapi standar dalam pengobatan kanker, namun terapi ini selain membunuh sel kanker, juga dapat membunuh sel-sel sehat, dan memiliki efek samping yang kuat. Sehubungan dengan ini, ilmuwan Brasil kini sedang mengembangkan sebuah teknologi dosis (obat) yang lebih akurat, untuk mengurangi kemungkinan kekeliruan pembasmian atas sel-sel sehat.

Dalam penelitian yang dikembangkan bersama antara Centro Nacional de Pesquisa em Energia e Materiais dengan Universidade Estadual de Campinas di Brasil ini, para ilmuwan memberikan obat terhadap sel kanker prostate menggunakan nanopartikel silikon dioksida (SiO2). Nanopartikel ini dilapisi dengan asam folat, yang merupakan vitamin yang dengan sendirinya akan tertarik pada sel-sel kanker.

Karena efek metabolisme yang unik dari sel kanker, mereka memiliki 200 kali lebih banyak reseptor asam folat daripada sel normal di permukannya. Dengan demikian, nanopartikel yang dilapisi dengan asam folat dan disertai dengan obat itu akan menghindari sel normal dan fokus pada targetnya yakni menyerang sel kanker, ujar peneliti.

Hasil uji coba terkait menunjukkan, nano-nano partikel ini berhasil membunuh sekitar 70 persen sel-sel kanker, dan hanya 10 % dampaknya terhadap sel normal dari keturunan yang sama.

Penggunaan asam folat dan silikon dioksida (silika) oleh para peneliti, karena mereka (asam folat & silika-red) dapat mengatasi beberapa obat non larut ketika ditransmisikan dalam air atau cairan. Saat molekul obat meresap ke dalam pori-pori nanopartikel silika, mereka cenderung akan mengendap, karena lingkungan ini jauh lebih stabil dibandingkan cairan yang mereka sebarkan.

Selain itu, karena silika bersifat padat, sehingga reaksi kimia bisa dengan mudah diterapkan di permukaannya, dan nanopartikel juga bisa berefek secara langsung.

Saat ini, para ilmuwan sedang mengatasi kendala utama atas metode ini. Kendala utamanya berhubungan dengan protein dalam darah, karena proten ini akan menutupi permukaannya ketika terkontak dengan silika, sehingga menghambat peran identifikasi dari asam folat.(Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: Headline KESEHATAN

Video Popular