Oleh: Gao Tianyun

Di suatu tempat di padang rumput Afrika, luas dan keras. Malam itu, di saat malam kelam, Simba, si singa muda jantan menatap bintang-bintang, mengenang kembali masa silam. Trauma masa kecil menghantuinya sejak lama belum dapat ia campakkan. Ia seharusnya memilih untuk melupakannya, atau untuk menyongsong tantangan dan memenuhi tanggung jawab kehidupan?

Film The Lion King yang diproduksi pada tahun 1994 adalah sebuah karya yang bersifat tonggak sejarah dari Walt Disney. Ia menciptakan sejarah keberhasilan jawara box office film animasi yang digarap secara manual tradisional, dengan efek animasi yang indah, musik orisinil dan plot cerita yang menuai pujian penonton seluruh dunia.

Mufasa Lion King memimpin kerajaan “The Pride Land.” Para satwa tunduk di bawah tongkat keadilannya dan hidup bahagia bersama. Simba kecil lahir, yang bakal menjadi raja mendatang, yang menyebabkan Scar, adik dari Mufasa lantas iri hati dan memendam benci. Scar sudah sejak lama mendambakan takhta kerajaan, ia merencanakan membunuh saudara tuanya dan mengusir si kecil Simba, demi merebut tahta.

Di hari-hari berkelana, Simba tumbuh di padang rumput dan memahami makna hidup. Ia pun kembali ke kerajaan dan mengalahkan Scar. Si jahat berhasil dikalahkan dan kemakmuran merebak, “The Pride Land” memperoleh kembali kegairahan hidupnya.

 Roda peruntungan

Iman, harapan dan tanggung jawab adalah tema menyolok dari “The Lion King.” Pada saat yang sama, misteri dari nasib mengombinasinya secara menakjubkan.

Simba kecil pernah mengikuti ayahnya mengenal kebesaran kerajaan dan bersama-sama menyanyikan lagu “The Circle of Life.” Aura lirik lagu yang lepas menunjukkan prinsip kehidupan, “Siklus hidup adalah siklus nasib, adalah membubungnya iman dan penghubung harapan. Ada yang terjatuh di pinggir jalan, ada pula orang yang berlompat mengarah langit berbintang, ada yang dapat melewati nasib buruk, ada pula orang yang dengan bekas luka melanjutkan perjalanan.”

Di bawah gemerlap sinar bintang, Simba yang kesepian teringat sang ayah pernah berkata: Para leluhur akan memperhatikannya dari kerumunan bintang-bintang itu. Ayah, dimanakah engkau?

Simba dengan kecewa mendesah dan sempat berputus asa. Disaat itu, muncul segumpal kabut asap, yang mendadak menjelma menjadi kelopak bunga dan daun serta dalam sekejap bergerak menjauh. Di kampung halamannya, teman lama sang ayah, si Babun Rafiki menangkap awan bunga yang melayang menghampiri, ia pun mengendus aroma nafas Simba cilik, “Singa Muda masih hidup!” Ia berjingkrak kegirangan, dan pergi mencari si tuan muda.

Dengan bantuan Rafiki, Simba menemukan ekspresi Lion King di dalam refleksi air, juga mendengar dorongan semangat dari Mufasa di langit. Ternyata yang dikatakan sang ayah adalah benar, langit berbintang nan jauh, ternyata memang berkelap-kelip sorot mata dari para leluhur. Roda nasib, menunjukkan kekuatannya, memperteguh kepercayaan Simba dan menentukan arahan masa depan. Ia harus menyelesaikan tugas yang belum dikerjakan, itulah harapan sang ayah, dan harapan dari rakyat kerajaan.

Cinta yang tulus dan sejati

Lagu/sound track film ini, “Can You Feel the Love Tonight?” sempat populer secara global. terutama di Eropa dan Amerika Serikat, telah memukau ratusan jutaan penggemar serta menduduki puncak tangga lagu hits. Melodi yang bernada tinggi, lirik yang hangat penuh kasih, dengan kuat menggaris-bawahi emosi yang berbeda antara para lakon, membuat hati pendengar ikut bergejolak.

Simba cilik yang polos, masuk ke dalam perangkap Scar. Disaat genting, ayahnya muncul dari langit dan memasukkannya ke dalam mulut dan mengirimnya ke daerah aman. Sementara dirinya sendiri telah terluka, dan Scar mendorongnya ke dalam jurang. Simba mengejar turun, dengan gemetar mendorong ayahnya, “Ayah, bangunlah.”

Tapi sang ayah tak lagi mampu bergerak, tak lagi mampu melindungi dan menemaninya. Iringan lagu suara anak-anak yang polos, mengharu-biru para penonton di depan layar.

Ketika terlunta-lunta, Simba bertemu dengan meerkat Timon dan celeng Pumbaa, mendapatkan bantuan dan dukungan keduanya. Mereka bertiga menjalin persahabatan dan bekerja bergandengan tangan. Ketika Simba memutuskan untuk kembali ke “The Pride Land” dan berduel dengan Scar, Pumbaa dan Timon, tanpa menghiraukan bahaya, memutuskan bersatu membantunya.

Nala, teman sejak kecil juga bergabung dengan tim yang bergerak kembali ke kampung halaman. Di atas batu cadas, mereka berbaris menyongsong angin, siap untuk menghadapi semua kesulitan dan mara bahaya. Layar keadilan mengembang dan sangat mengharukan. Meski mengetahui bahwa semua ini adalah cerita fiksi, namun alur pikiran penonton toh sempat bergejolak mengiringi semangat dan derap langkah para penuntut keadilan yang maju ke medan laga membela kebajikan.

“The Lion King” setelah dirilis 22 tahun silam, masih saja tertanam di dalam memori para penonton seluruh dunia. Ada sejumlah orang terus menontonnya sejak masa kanak-kanak hingga dewasa, tapi selalu saja mendapatkan inspirasi baru dari film itu. Karya seni klasik, selalu menyampaikan ketulusan dan kehangatan, melampaui batas-batas geografis dan budaya, memunculkan resonansi sanubari serta menciptakan keindahan yang bernuansa beda. (hui/whs/rmat)

Share

Video Popular