Oleh: J. D. Heyes

Jika Anda diberi resep obat untuk kondisi tertentu seperti kolesterol yang tinggi, asma atau jerawat atau wanita yang berencana untuk mengkonsumsi pil KB, Anda harus waspada terhadap tanda efek samping pada fisik Anda. Tapi yang mungkin tidak Anda harapkan adalah obat tersebut dapat menyebabkan efek samping yang jauh lebih berbahaya, yaitu menyebabkan Anda bersikap agresif, kasar, pencemburu, bunuh diri dan bahkan membunuh.

Seperti dilaporkan oleh Daily Mail Online, Inggris, baru saja diketahui efek samping yang baru sedikit dipahami, ketika para peneliti mengumumkan pada bulan April lalu bahwa mengonsumsi statin yang bertujuan untuk menurunkan kolesterol dan untuk mengobati masalah jantung, dapat benar-benar membuat beberapa wanita menjadi lebih agresif dan melakukan tindak kekerasan, menurut penelitian mereka yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah PLOS One.

Jutaan orang mengonsumsi statin setiap hari, dan beberapa lembaga kesehatan pemerintah seperti Layanan Kesehatan Nasional Inggris dan Food and Drug Administration di Amerika Serikat telah mengeluarkan beberapa peringatan mengenai statin, bahwa sebagian besar konsumen mengalami nyeri kepala, mual dan nyeri pada otot dan sendi.

Namun, dalam sebuah penelitian terhadap 1.000 orang, para peneliti di University of California, AS, menemukan hubungan antara statin dan sikap agresif, dan bahwa hal itu terjadi terutama pada wanita pasca-menopause yang berusia di atas 45 tahun. Konon, para peneliti juga menemukan sesuatu yang aneh bahwa wanita yang cenderung bersikap agresif biasanya bersikap lebih tenang daripada wanita yang cenderung tidak bersikap.

Obat yang paling menguntungkan sepanjang sejarah

Di antara pria yang diteliti, hanya tiga pria yang mengalami peningkatan sikap agresif, menurut Dr. Beatrice Golomb, seorang profesor kedokteran yang mengarahkan penelitian.

Lebih lanjut dilaporkan oleh Daily Mail Online seperti:

  • Hubungan antara statin dan sikap agresi telah dikenal selama lebih dari sepuluh tahun berkat peneliti Amerika Serikat dan Italia (meskipun hal ini tidak disebutkan akibat efek samping statin pada halaman web NHS Choices), tetapi belum dimengerti mengapa hal ini terjadi.
  • Satu teori mengatakan bahwa hal ini diakibatkan oleh kadar kolesterol yang rendah dalam otak. Penelitian telah menunjukkan bahwa narapidana tindak kekerasan cenderung memiliki kadar kolesterol yang rendah dalam otak.
  • Kolesterol memungkinkan sel otak untuk saling berkomunikasi, sehingga kadar kolesterol yang rendah dalam otak akan mempengaruhi perilaku seseorang.

Golomb mengatakan bahwa statin meningkatkan kadar testosteron dan mengganggu tidur, yang cenderung meningkatkan iritabilitas dan sikap agresif.

Tim peneliti menemukan sejumlah kasus agresif, termasuk seorang pria berusia 59 tahun yang belum pernah menunjukkan tanda-tanda perilaku agresif sebelumnya. Ia dilaporkan telah mengejar istrinya dan mengancam akan membunuhnya, tapi enam minggu setelah ia berhenti mengonsumsi obat statin, pria tersebut kembali ke sikapnya yang normal dan tenang.

Pada kasus lain, seorang wanita berusia 46 tahun melaporkan bahwa ia memperlakukan suaminya dengan “sangat buruk” selama sembilan bulan ia mengonsumsi obat statin, tapi ia kembali ke dirinya semula yang baik hati setelah enam minggu berhenti mengonsumsi obat statin.

Dalam blog Dr. David Brownstein, seorang dokter keluarga bersertifikat dan salah seorang praktisi pengobatan holistik terkemuka, mencatat bahwa statin adalah salah satu obat yang paling menguntungkan dalam sejarah, di mana sepertiga orang dewasa di Amerika Serikat saat ini mengonsumsi obat statin.

Dr. David Brownstein menambahkan bahwa jika kekuasaan Big Pharma dan komunitas medis tradisional mendukung pemakaian statin, maka semua orang dewasa yang berusia di atas 50 tahun akan mengonsumsi statin.

“Mengapa begitu banyak orang mengonsumsi obat statin? Statin diresepkan untuk penderita kadar kolesterol yang tinggi dengan tujuan bahwa penggunaan statin akan menurunkan angka kematian akibat penyakit jantung. Sebagian besar penyedia layanan kesehatan dan penderita tidak tahu bahwa penelitian selama dua puluh tahun telah gagal membuktikan penggunaan statin menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung secara nyata “, tulis Brownstein.

Pendapat Dr. David Brownstein adalah benar, karena: Penyakit jantung adalah pembunuh No 1 di Amerika Serikat selama beberapa dekade.

“Anda akan perlu mengonsumsi obat statin —yang meracuni enzim penting dalam tubuh anda—selama dua tahun sampai enam tahun hanya untuk hidup beberapa hari saja,” tulis Brownstein, mengutip bukti dari penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal. “Saya kira tidak masalah mengonsumsi statin selama beberapa hari jika statin itu murah dan tidak terkait dengan efek samping yang serius. Namun, sayangnya statin mengakibatkan efek samping yang serius. “(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular