Oleh Li Lin

Dialog Tingkat Tinggi Pertahanan Pertemuan ke 15 tahun 2016 akan diselenggarakan di Hotel Shangri-La Singapore pada 3 – 5 Juni 2016. Isu sengketa di Laut Tiongkok Selatan akan dijadikan salah satu agenda penting dalam pertemuan tersebut. Meskipun pemerintah Tiongkok mengklaim telah memperoleh dukungan dari lebih banyak negara, tetapi pejabat pertahanan senior AS mengatakan bahwa pernyataan Tiongkok itu sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Suasana dilematis tidak mendapat dukungam karena ketidakadilan mungkin akan ditemui lagi oleh Tiongkok dalam pertemuan itu.

KTT Pertahanan tersebut diselenggarakan atas kerjasama antara International Institute for Strategic Studies (IISS) Inggris dengan Departemen Pertahanan Singapura Kantor KTT Keamanan Asia di Hotel Shangri-La Singapura.

Selama dialog mengenai isu sengketa laut tahun lalu, tidak ada negara yang secara terbuka membela perilaku Tiongkok  di Laut Selatan. Namun demikian, pemerintah Tiongkok selain mengabaikan himbauan masyarakat internasional bahkan mempercepat reklamasi terumbu menjadi pulau guna dijadikan pangkalan militer, dan terus menentang, mendiskreditkan arbitrase yang menyangkut penanganan masalah sengketa di Laut Tiongkok Selatan dari Mahkamah Internasional Den Haag.

Pejabat Psenior AS mengatakan bahwa meskipun pemerintah Tiongkok mengklaim memperoleh banyak dukungan internasional, namun kenyataaannya sangat berbeda.

Menurut Suara Amerika bahwa Setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi ke Brunei, Kamboja dan Laos pada April lalu, ia mengklaim telah mencapai konsensus dengan ketiga negara itu mengenai isu di Laut Tiongkok Selatan. Namun Deputi Asisten Menteri Pertahanan AS Amy Searight yang ketika itu juga menghadiri pertemuan tingkat tinggi pertahanan ASEAN yang diadakan di Laos justru mengatakan, tidak melihat ada negara yang tampil untuk mendukung Tiongkok.

Menteri Pertahanan AS Ashton Carter dalam pidatonya di Akademi Angkatan Laut AS pada 27 Mei mengatakan, “Tiongkok kadang-kadang melakukan pembenaran dengan caranya sendiri yang merusak norma-norma internasional, cara seperti itu tidak sejalan dengan langkah perkembangan yang diinginkan oleh kawasan tersebut, tetapi justru sebaliknya, akan makin menjauhi situasi win-win. Hasil akhir dari perilaku ini akan berupa tembok besar yang dibangun Tiongkok untuk mengisolasi diri. Dan para negara sekutu di daerah sekitarnya, para pejabat senior dari baik negara mitra atau nonblok akan menyampaikan secara terbuka kekhawatiran terhadap perkembangan situasi di kawasan itu melalui pertemuan-pertemuan regional, forum diskusi publik dan global.” (sinatra/rmat)

Share

Video Popular