Oleh: He Qinglian

Pada 20 Mei 2016 lalu Presiden Taiwan Tsai Ing-wen setelah dilantik menyampaikan pidato pelantikannya, Beijing bersikeras menagih pernyataan sikap Tsai Ing-wen terhadap “Konsensus 1992”. Tapi di sisi lain sama sekali tidak sungguh-sungguh memikirkan mengapa daya pikat RRT bagi Taiwan kian hari kian merosot. Tsai Ing-wen mengemukakan kebijakan “Arah Baru ke Selatan” yang walaupun hanya mengikuti arus hengkangnya investasi Taiwan di RRT berpindah ke Asia Tenggara dan India, tapi jika berhasil, berarti kerja sama ekonomi kedua daratan akan semakin melemah dan cenderung terputus.

Kemunduran politik Partai Nasionalis (Kuo Min Tang) mengisyaratkan telah terputusnya belenggu politik kedua daratan, sedangkan belenggu budaya kedua daratan hanya eksis sebatas karena garis rumpun bahasa yang sama semata. Jika ikatan politik, ekonomi dan budaya kian hari kian melemah, maka yang dimaksud dengan “Konsensus 1992”  tidak akan ada artinya.

Konsensus 1992  adalah sebuah istilah yang merujuk pada hasil pertemuan tidak resmi antara perwakilan Republik Rakyat Tiongkok dari daratan Tiongkok dan Republik Tiongkok dari Taiwan. Kedua pihak mengakui bahwa hanya ada satu Tiongkok, namun kedua belah pihak dibebaskan untuk menginterpretasikan definisi dari “satu Tiongkok” tersebut.

Hubungan RRT-Taiwan: Prioritas Ekonomi, Kedua Politik

Hubungan ekonomi RRT-Taiwan diawali di masa pemerintahan Li Denghui sebagai presiden Taiwan (1988-2000) ketika pengusaha Taiwan masih dilarang berinvestasi di daratan Tiongkok. Tokoh yang membangun kembali hubungan kedua daratan adalah Chen Xiangmei (Anna Chan Chennault), istri dari Kapten Flying Tigers AS yang bernama Claire Lee Chennault yang diperbantukan di Tiongkok semasa PD-II (Perang melawan agresi Jepang).

Wanita berdarah Tionghoa bernama Anna Chan Chennault ini sangat luar biasa, setelah mengikuti sang suami hijrah ke AS, dengan kemampuannya sendiri dia mencapai keberhasilan sendiri menjadi salah seorang wanita etnis Tionghoa paling berpengaruh di pentas politik Amerika Serikat. Sebanyak 8 periode presiden AS mulai dari John F. Kennedy sampai Clinton telah memberikannya misi politik. Beijing selalu menghormati Anna sebagai tamu agung, karena Anna telah melakukan 3 hal besar bagi Tiongkok.

Pertama, di awal era 80-an, Anna menjadi “utusan khusus Reagan.” Dia berkunjung diam-diam ke Tiongkok untuk memenuhi undangan pamannya, dengan membawa surat yang ditulis sendiri oleh Presiden Ronald Reagan untuk diserahkan pada Deng Xiaoping. Isinya adalah mendesak agar hubungan RRT-AS dihangatkan kembali.

Kedua, terinspirasi oleh para purnawirawan tentara Kuo Min Tang yang rindu kampung halaman, Chen membujuk Presiden Taiwan Chiang Ching Kuo agar mempertimbangkan memberi ijin warga Taiwan agar bisa pulang ke daratan Tiongkok menjenguk sanak saudara mereka di sana.

Ketiga, menjembatani para pengusaha Taiwan berinvestasi di Tiongkok.

Pada Desember 1989, pada saat negara Barat mengutuk RRT karena peristiwa Pembantaian Tiananmen dan memberlakukan sanksi ekonomi terhadap RRT, Anna diam-diam malah mengorganisir para pengusaha Taiwan untuk berkunjung ke RRT dalam suatu “tour menggemparkan Tiongkok,” membuka gerbang investasi bagi para pengusaha Taiwan di Tiongkok.

Kini sejumlah riset membuktikan, investasi Taiwan di luar negeri tidak sedikit yang mengalir ke Kepulauan Virgin serta Kepulauan Cayman yang merupakan “surga menghindari pajak,” yang kemudian sebagian mengalir lagi ke Tiongkok. Ini berarti nilai investasi Taiwan di Tiongkok yang sesungguhnya mungkin lebih tinggi daripada data pemerintah Taiwan. Pakar memrediksi, dewasa ini investasi pengusaha Taiwan di RRT yang sebenarnya mencapai lebih dari USD 200 milyar (2.723 triliun Rupiah).

Ikatan Politik Berlandaskan Ikatan Ekonomi 

Fakta di atas menunjukkan, hubungan kedua daratan sesungguhnya adalah ikatan politik yang dibangun di atas landasan ikatan ekonomi. Menurut data Taiwan News Online, investasi pengusaha Taiwan berbagai bidang di RRT mencapai lebih dari 80.000 perusahaan, dan warga negara Taiwan yang bekerja dan menetap di RRT termasuk keluarga mereka mencapai hampir 2,3 juta jiwa atau sekitar 10% dari total populasi Taiwan. Bahkan pemerintah Tsai Ing-wen pun tidak bisa meremehkan kekuatan dan pengaruh kelompok ini. Faktanya, dalam Pilpres Taiwan 2012 silam Tsai Ing-wen kalah dalam “putaran terakhir.” Pasalnya Beijing bergegas mencarter pesawat memulangkan para pengusaha Taiwan kembali ke Taiwan untuk memberikan suara. Hasilnya, Tsai Ing-wen kalah sebanyak 800.000 suara.

Karena Beijing terlalu mendesak agar kesepakatan dagang kedua daratan (Cross-Strait Service Trade Agreement yang ditandatangani pada 2013) diberlakukan, dengan harapan jalan untuk menyatukan ekonomi kedua daratan bisa segera terlaksana. Sialnya, pemilu yang diinginkan warga Hongkong mengalami pukulan keras, warga Taiwan terutama kaum muda pun menyadari jika, bahwa “Taiwan tidak berupaya, maka akan bernasib seperti Hongkong,” maka berkobarlah gerakan yang disebut “Sun Flower Movement” pada 2014. Inilah yang memberikan peluang bagi Partai Progresif Demokrat (DPP) pimpinan Tsai Ing-wen bangkit kembali di pentas politik Taiwan.

Mampukah Pemerintahan Tsai Ing-wen Terlepas dari “Ketergantungan akan RRT?”

Kebijakan “Arah Baru ke Selatan” ala Tsai Ing-wen sebenarnya adalah ‘pekerjaan rumah’ yang ditinggalkan oleh pemerintah Ma Ying-jeou terdahulu. Sejak 2008, puluhan ribu investasi Taiwan hengkang dari Tiongkok, bahkan investor kelas berat seperti Terry Guo juga memindahkan pabriknya ke India dan Asia Tenggara. Kejadian hengkangnya pengusaha Taiwan ini bukan lantaran sejalan dengan orientasi politik di Taiwan, melainkan terjadinya perubahan ekstrim pada lingkungan investasi di RRT.

Pertama, melonjaknya upah buruh, selain itu buruh generasi baru tidak polos dan patuh seperti generasi sebelumnya, malah sering melakukan mogok kerja, seperti pada September 2014 ribuan buruh di pabrik yang memproduksi Apple di daerah Dongguan mogok kerja hanya karena masalah yang dianggap hal sepele oleh para pengusaha Taiwan yakni tidak diberikan kue bulan dan bonus hari libur pada Festival Terang Bulan.

Kedua, harga lahan di RRT terlalu tinggi, tidak hanya lebih tinggi daripada India dan juga Asia Tenggara, bahkan lebih tinggi daripada wilayah tengah dan barat AS.

Ketiga, sejak 2008 RRT menerapkan penggabungan dua pajak, pungutan pajak terhadap investasi asing maupun dalam negeri menjadi sama, tidak ada lagi insentif pajak bagi investor asing.

Industri OEM Taiwan yang tadinya hanya untung tipis makin sulit bertahan karena adanya kebijakan tersebut. Proses hengkangnya pengusaha Taiwan secara berduyun-duyun dari RRT adalah proses melemahnya landasan strategi Beijing terhadap Taiwan yang disebut “Pengepungan melalui jurus perdagangan.”

Pasca “Sun Flower Movement” 2014 di Taiwan, jalan terpilihnya Tsai Ing-wen sebagai presiden pun menjadi lancar, hubungan Taiwan dan RRT yang semakin hambar bahkan semakin memburuk adalah hal yang sudah terduga sebelumnya. Opini Taiwan juga terus menegaskan ketergantungan perdagangan Taiwan terhadap RRT terus menurun, dan akan meningkatkan peta ekonomi luar negeri yang lebih majemuk, serta meninggalkan fenomena ketergantungan terhadap pasar tunggal daratan Tiongkok.

Defisit perdagangan antara RRT dengan Taiwan masih cukup tinggi yakni USD 98,7 milyar dan Taiwan tetap merupakan rekan dagang ke-7 terbesar RRT, juga sebagai pasar ekspor ke-9 terbesar dan sebagai sumber impor ke-6 terbesar. Oleh karena itu bicara soal masa depan pemerintahan Tsai Ing-wen, RRT berharap agar pemerintahan Tsai Ing-wen tidak mampu melepaskan ketergantungan terhadap hubungan ekonomi dengan Tiongkok ini.

Selain pertimbangan bagi Taiwan maupun Beijing, masih ada dua faktor variabel yang tidak bisa dihindari dalam hal hubungan kedua daratan di masa mendatang. Pertama, ekonomi RRT telah memasuki dasar lembah berbentuk L, dan lembah berbentuk L ini akan membentuk tren menurun, dalam kondisi seperti ini meskipun tidak ada faktor politik, pengusaha Taiwan tetap akan memikirkan kelangsungan hidupnya sendiri dan mencari “daerah biaya rendah.”  Kedua, perubahan kebijakan diplomasi presiden AS mendatang tergantung pada siapa yang akan terpilih.

Dilihat dari kondisi saat ini, taraf ketergantungan ekonomi Taiwan dari RRT memang benar terus menurun, semakin renggangnya hubungan politik pun telah terjadi. Sikap dan komentar Beijing terhadap Taiwan seperti mengecam status Tsai Ing-wen yang belum menikah, hanya akan semakin memperkuat rasa benci warga Taiwan terhadap saudara tua RRT. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular