Peralihan pekerja manusia ke pasukan robot sudah dimulai Foxconn sejak tahun lalu, operasional tenaga robot di pabrik Foxconn yang berlokasi di Kunshan, provinsi Jiangsu, Tiongkok ini, akan menggantikan sekitar 60.000 karyawan. Meskipun dapat menekan biaya tenaga kerja, tetapi juga sekaligus menimbulkan kekhawatiran dengan gelombang pengangguran. Dampak atas gempuran robot terhadap pasar tenaga kerja, serta potensi bahaya yang mengendalikan manusia ini sekali lagi menjadi topik yang hangat dibicarakan.

Fisikawan terkemuka asal Inggris, Stephen Hawking dan CEO Tesla Motor, Elon Musk sebelumnya pernah menyatakan secara terbuka, bahwa pengembangan teknologi Artificial intelligence-AI atau kecerdasan buatan sebaiknya dikontrol. Ini tak ubahnya seperti “membangkitkan setan”, yang dapat menimbulkan bahaya ekstrim, kata Elon Musk.

Perusahaan Taiwan berinvestasi di bidang teknologi robot

Gelombang pertama pasukan robot merampas mangkuk nasi (Mata pencaharian) manusia kini benar-benar telah tiba. Foxconn, perusahaan pemasok komponen Apple mengumumkan memangkas 60.000 karyawannya, atau lebih dari setengah dari 110.000 karyawan yang dipekerjakan di pabrikan Kunshan, Tiongkok, dan pekerjaan terkait akan digantikan oleh pasukan robot. Ini adalah sebagian dari PHK besar-besaran di Kunshan, banyak produsen Taiwan mendirikan pabrik mereka di sana. Tapi, Foxconn yang mempekerjakan lebih dari 1,2 juta karyawan Tiongkok berjanji, akan tetap mempekerjakan mereka di sana

Foxconn mengonfirmasikan bahwa mereka akan menerapkan sistem otomatisasi secara besar-besaran pada lin produksinya, tapi membantah telah menyebabkan hilangnya pekerjaan karyawan, Foxconn beralasan bahwa penggunaan robot dapat menggantikan tugas karyawan dari pekerjaan berbahaya dan berulang.

Sementara karyawan akan dialihkan pada pekerjaan yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi melalui pelatihan internal, misalnya riset, kontrol kualitas, manajemen mutu dan sejenisnya yang tidak bisa ditangani oleh tenaga robot. Foxconn dikenal sebagai penyuplai komponen untuk produsen perangkat elektronik, seperti iPhone dan iPad-nya Apple Inc, ponsel seri galaxy Samsung, dan PlayStation milik Sony dan sebagainya.

Data dari pemerintah daerah Kunshan menunjukkan, bahwa sekitar 600 perusahaan kini sedang mempertimbangkan menggunakan tenaga robot sebagai pengganti tenaga kerja manusia, untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya. Dari 2.5 juta penduduk di Kunshan, sekitar 2/3-nya adalah pekerja asing.

Sementara itu, sebanyak 35 perusahaan Taiwan tahun lalu secara total telah menginvestasikan sekitar $ 610 juta di bidang kecerdasan buatan, di antaranya termasuk Foxconn Technology Group yang menginvestasikan sekitar $ 50 juta untuk transisi otomatisasi pabrik Foxconn di Kunshan, dan telah mendatangkan lebih dari 2.000 unit lengan robot.

Meskipun pengembangan kecerdasan buatan akan meningkatkan biaya produksi pada masa-masa awal, tetapi dalam jangka panjang, robot secara relatif dipandang memiliki prediksi dan stabilitas yang lebih tinggi. Seiring dengan produsen Tongkok yang menghadapi tekanan tinggi atas perakitan dari produk teknologi konsumen global, tenaga robot dinilai telah mengurangi masalah etika terkait jam lembur pekerja. Selama bertahun-tahun Foxconn dikritik karena lingkungan kerja yang buruk, menyebabkan serangkaian kasus bunuh diri pekerjanya. Para karyawan Foxconn mengeluhkan kelebihan beban kerja, dan gaji yang tidak adil (terlalu rendah).

Perusahaan Amerika meningkatkan pembelian robot.

Tenaga robot yang efisien sebagai pengganti tenaga manusia tidak hanya sebatas pada Tiongkok. Menurut data Asosiasi Industri Robotic, bahwa hingga Februari 2016, lebih dari 260.000 tenaga robot dipekerjakan di pabrik-pabrik di Amerika. Tahun lalu, North American Corpo memesan 31.464 unit robot, meningkat 14%. Sementara Amazon Logistik Center memiliki ribuan robot yang bolak-balik sibuk menyortir barang, bahkan berencana menggunakan drone untuk mengirim barang pesanan. Sedangkan produsen mobil juga selama bertahun-tahun menggunakan robot dalam perakitan mobil.

Robot akan menyerbu pekerjaan manusia.

Mekipun robot menggantikan manusia untuk melakukan pekerjaan yang tidak menyenangkan, sementara pekerjanya/manusia fokus pada pkiran (pekerjaan yang menguras otak) sebagai posisi yang paling utama, namun,  kemungkinan dalam jangka pendek tetap akan memangkas karyawan secara besar-besaran dan menimbulkan gejolak ekonomi.

Penelitian di Deloitte Touche Tohmatsu dan Oxford University memperkirakan, bahwa jelang tahun 2033 nanti, sebanyak 45% dari pekerjaan manusia akan digantikan oleh robot, dan ini melibatkan mangkuk nasi (mata pencaharian) 10 juta orang. Oxford University menderetkan 10 jenis pekerjaan yang akan menghadapi nasib malang ini, diantaranya adalah pekerja perakitan, sekretaris, pengacara non-litigasi, pelayan restoran dan bartender, prajurit pengintai, supir, astronot, apoteker dan perawat/baby sitter. (Jhon/asr)

Share

Video Popular