Oleh: Denisse Moreno

Seorang wanita di Pennsylvania, AS, telah diuji positif untuk bakteri E. coli yang resisten terhadap antibiotik, kata peneliti pada 26 Mei lalu.

Wanita berusia 49 tahun yang membawa bakteri itu memiliki gejala infeksi saluran kemih (ISK), kata penelitian tersebut, yang telah diposting oleh Antimicrobial Agents Chemotherapy, sebuah publikasi dari American Society for Microbiology.

Wanita itu dinyatakan positif strain E. coli yang resisten terhadap antibiotic colistin, yang merupakan obat yang dipakai sebagai upaya terakhir melawan penyakit super termasuk Carbapenem-Resistant Enterobacteriaceae (CRE) yang juga disebut sebagai “bakteri mimpi buruk”.

Hingga 50 persen dari orang-orang yang membawa CRE meninggal dunia, menurut Centers for Disease Control. Dan kasus sang wanita itu pun membuatnya menjadi kasus bakteri resisten antibiotik pertama di AS.

“Pada dasarnya hal itu menunjukkan bahwa kami memiliki pasien di unit perawatan intensif, atau pasien yang mengidap infeksi saluran kemih dimana kami tidak memiliki antibiotic untuk menyembuhkannya,” kata Direktur CDC, Tom Frieden kepada Washington Post.

“Ini adalah sebuah perasaan ngeri dan tak berdaya. Seolah Anda menjadi orang tak berguna yang tidak dapat berbuat apa-apa,” tambah Frieden. Sementara itu, Senator Bob Casey menyatakan keprihatinannya dengan kasus bakteri resisten antibiotik pertama di AS itu.

“Saya sudah mendukung undang-undang dan berpartisipasi dalam dengar pendapat tentang masalah ini dan percaya bahwa bakteri resisten antibiotik menyajikan masalah kesehatan masyarakat yang mendesak bahwa kita harus berfokus secara intensif,” kata Casey dalam sebuah pernyataan.

Menurut CDC, seseorang tidak biasanya mendapatkan infeksi CRE, dan hal itu biasanya terjadi pada pasien di rumah sakit, panti jompo, dan fasilitas kesehatan lainnya, serta individu yang membutuhkan perangkat seperti mesin pernapasan, kateter urin, atau kateter intravena.

Bakteri resisten antibiotik ditemukan pada babi, daging babi mentah, dan sejumlah kecil orang di Tiongkok pada November 2015 lalu. Hal itu juga telah ditemukan di Eropa dan sejumlah lokasi lainnya. (Epochtimes/Osc/Yant)

Share

Video Popular