JAKARTA – Isu komunis kembali bangkit menjadi pembicaraan dalam skala luas belum lama ini pada berbagai media. Dua simposium pun menjadi wadah mengungkit tema lama bak lirik senandu lawas ‘luka yang lama berdarah kembali.’ Keberadaan PKI pada zamannya sebagai Partai Komunis terbesar ketiga di dunia memang memiliki hubungan dekat dengan PKT, lantas seperti apa kaitannya dengan PKI?

Akhir 2004, editorial Epoch Times menerbitkan buku Jiu ping gong chan dang atau  9 Komentar Tentang Partai Komunis. Buku ini telah mengungkap sifat asli dan kejahatan Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang justru memicu ratusan juta jiwa warga Tiongkok beramai-ramai melakukan San Tui yakni pernyataan pemunduran diri dari Partai, Liga dan Barisan yang dinaungi oleh Partai Komunis.

Bahkan tak tanggung-tanggung, saat ini jumlah orang yang menyatakan dirinya “San Tui” telah mencapai lebih dari 230 juta orang di seluruh dunia. Walaupun fenomena San Tui masih belum tersentuh oleh media luas, justru peristiwa ini merupakan pernyataan pemunduran diri yang terus menyebar dari mulut-mulut hingga ke pelosok Tiongkok.

Buku 9 Komentar

Buku 9 Komentar Tentang Partai Komunis ini sesuai dengan judulnya terdiri dengan sembilan komentar yang pada awal peredaran menjadi buku paling dicari-cari di Tiongkok. Pada Komentar pertama, Jiuping membahas tentang apa itu partai komunis mulai teror dan kekerasan yang dilakukan untuk merebut dan mempertahankan kekuatan. Bab pertama menjelaskan bagaimana PKT menerapkan “Manifesto Komunis” pada pernyataan Marx “Sebuah Roh, Roh Komunis, sedang berkeliaran di Eropa.”

Isi buku ini dilanjutkan dengan Komentar Kedua yang menceritakan tentang awal partai komunis Tiongkok. Pada bab ini diantaranya menceritakan tentang mengapa Partai Komunis bisa muncul dan akhirnya merebut kekuasaan di Tiongkok? Bahkan PKT terus menanamkan ke dalam orang Tionghoa bahwa sejarah telah memilih PKT, rakyat telah memilih PKT dan tanpa PKT tidak ada akan Tiongkok hingga meracuni benak banyak orang.

Buku Jiuping pada Komentar Ketiga membahas tentang kekuasaan tirani PKT mulai langkah Landreform dengan slogan tanah untuk penggarap, menghapus kelas kapitalis dengan gerakan “Kampanye Tiga Anti” dan “Kampanye Limat Anti”, membubarkan “Kelompok Takhayul”, Lompatan Jauh ke Depan hingga Revolusi Kebudayaan.

Komentar Keempat membahas Komunis merupakan kekuatan yang menentang alam. Disebutkan bagaimana kepercayaan tradisonal diberangus dengan teori marx bahwa agama ibarat candu yang melumpuhkan semangat rakyat. Ditegaskan dalam buku Dialektika Alam oleh Engels yang mengkritik hal-hal mistik.

Pada Komentar Kelima dibahas bagaimana Jiang Zemin berkolusi dengan Partai Komunsi Tiongkok untuk menindas Falun Gong. Saat Falun Gong berbicara tentang Sejati-Baik-Sabar maka PKT berbicara tentang Dusta-Jahat-Tempur.

Bagian Komentar Keenam dari Buku 9 Komentar tentang PKT merusak kebudayaan bangsa. Pada bab ini dibahas bagaimana falsafah PKT berbalikan dengan kebudayaan Tionghoa sebenarnya. Mao Zedong sendiri berujar “Saya adalah biksu yang menggunakan payung-tak mengenal aturan dan tak mengenal langit.” Sedangkan pada Komentar Ketujuh mengomentari sejarah pembunuhan dari PKT dengan menjunjung tinggi “Diktator Proletariat dan ‘Di bawah diktator proletariat tidak hentinya mengadakan revolusi.” Pada gerakan “Tiga Menentang dan Lima Menentang”  pada 1951 ratusan ribu orang ditangkap.

Lebih dalam tentang PKT Komentar Kedelapan dibahas mengenai Mengulas Hakekat Agama Sesat PKT. Pada prinsipnya Marxisme dianggap sebagai ajaran agama sebagai kebenaran yang tak terbantahkan. Dalam PKT doktrin yang ditanamkan adalah Marxisme-Leninisme, pikiran Mao Zedong, teori Den Xiaoping, teori tiga wakil Jiang Zemin dan Konstitusi Partai.

Komentar Kesembilan yang merupakan bagian terakhir dari Jiuping membahas tentang Watak Dasar Kejahatan dari PKT. Pada bagian ini dibahas tentang tujuan PKT hanya ingin demi mempertahankan kepentingan kelompoknya dan kekuasaan otoriternya secara matian-matian. Cuci otak seperti “Tanpa Partai Komunis, Tiongkok akan bagaimana jadinya” dijadikan cara meracuni logika-logika rakyat.

Relasi PKT dan PKI

Mengutip dari Buku 9 Komentar pada Komentar Pertama, Partai Komunis dunia yang pertama didirikan beberapa tahun setelah kematian Karl Max. Tahun kedua setelah Revolusi Oktober 1917, “Partai Komunis Rusia (Bolshevik)”, yang nantinya dikenal sebagai “Partai Komunis Uni Soviet”, didirikan secara resmi. Sedangkan PKT pertama kali didirikan sebagai cabang Komunisme Internasional Ketiga yang dikendalikan oleh Partai Komunis Soviet, maka dengan sendirinya telah mewarisi kekerasan model Bolshevik.

Sejak tahun 1949, angka kematian akibat pembunuhan secara kejam oleh PKT telah melebihi jumlah kematian selama masa perang 30 tahun sebelumnya. Dalam hal ini, yang mencapai rekor adalah Khmer Merah Kamboja yang didukung sepenuhnya oleh PKT, setelah merebut kekuasaan lantas membunuh seperempat penduduk Kamboja, termasuk di antaranya mayoritas perantauan Tionghoa dan warga asing keturunan Tionghoa.

PKT mempunyai hubungan dekat dengan rejim-rejim tirani dan pasukan revolusioner bersenjata yang paling brutal di dunia. Selain Khmer Merah, juga Partai Komunis di Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam, Burma, Laos, dan Nepal – semua didirikan atas dukungan PKT. Banyak di antara pemimpin Partai Komunis ini adalah orang Tionghoa, sebagian dari mereka sampai hari ini masih bersembunyi di Tiongkok. Partai komunis lain yang menganut ideologi Mao adalah Shining Path dari Afrika Selatan dan Tentara Merah Jepang.

PKT Berbuat Rakyat Dikorbankan

Saat di Indonesia marak razia simbol komunis, berita ini dikutip dan disiarkan ulang oleh berbagai media massa di RRT. Ada netter di Tiongkok menyatakan, “Jika paham komunis ibarat tikus got atau wabah dunia, maka hampir seluruh negara dunia akan menghindarinya. Dulu ketika terjadi kerusuhan rasialis anti-RRT di banyak negara Asia Tenggara sebenarnya adalah untuk menghancurkan partai komunis yang telah merasuk ke dalam negara tersebut hingga ke akar-akarnya, karena takut berubah menjadi komunis, partai komunis yang berbuat, etnis Tionghoa yang menanggung akibatnya.”

Jumlah anggota Partai Komunis Indonesia menempati posisi ketiga di seluruh dunia pada waktu itu, yakni mencapai lebih dari 2 juta orang. Zhou Enlai yang menjabat sebagai Perdana Menteri Partai Komunis Tiongkok/ PKT, pada 1965 menyatakan pada Uni Soviet dan negara komunis lainnya, “Di Asia Tenggara terdapat begitu banyak etnis Tionghoa, pemerintah komunis Tiongkok mampu mendoktrinkan paham komunis lewat para etnis Tionghoa tersebut, dan dalam satu malam saja Asia Tenggara akan berubah warna.” Berbagai kalangan berpendapat, pernyataan inilah yang memicu perlawanan di Indonesia dan memvonis partai komunis sebagai organisasi terlarang.

Puluhan tahun silam, Pol Pot sebagai anak ideologis Mao Zedong dengan Khmer Merah sejak 1975 sampai 1978 sebanyak 200.000 orang Tionghoa terbunuh.  Partai Komunis Kamboja yang membunuh ratusan ribu warga Tionghoa namun PKT tak keberatan. Pada waktu itu, orang Tionghoa Kamboja mendatangi Kedubes Tiongkok untuk meminta pertolongan tapi diabaikan.

Pada 13-16 Mei 1998, peristiwa kerusuhan rasialis anti-Tionghoa di Indonesia banyak yang menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan. Pada saat itu, ternyata Jiang Zemin yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi PKT menurunkan instruksi rahasia: peristiwa kerusuhan di Indonesia adalah urusan dalam negeri Indonesia, terhadap peristiwa ini media massa RRT tidak boleh memberitakannya.

Sebagai orang yang berdarah-berdarah dan pelaku utama penindasan terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok yakni genosida hingg berupa pengambilan organ paksa secara hidup-hidup, mantan pimpinan PKT itu Jiang Zemin kini sedang menghadapi tuntutan massal dari rakyat Tiongkok agar diseret ke Pengadilan. Bahkan poster penuntutan terhadap Jiang sudah bisa dilihat pada sejumlah kota di daratan Tiongkok. (asr)

Share

Video Popular