Oleh: DR. Frank Tian, Xie

PKT (Partai Komunis Tiongkok) akan musnah dengan segera atau secara bertahap? Hal ini merupakan suatu tema yang bermanfaat untuk dipelajari. Karena dewasa ini diskusi tentang musnahnya PKT, masyarakat umum pada dasarnya sudah mencapai pandangan yang sama.

Mundurnya PKT dari arena sejarah secara tidak terhormat, atau terwujudnya Tuhan memusnahkan PKT, sekarang sudah bukan lagi masalah bisa atau tidak bisa terjadi. Hal mana sudah merupakan pandangan yang sama dari kalangan akademisi, dunia politik dan media massa, juga sudah disadari dalam hati oleh rakyat jelata di jalan-jalan besar maupun gang-gang di Tiongkok, sudah merupakan kesimpulan akhir yang tidak diragukan lagi.

Hal ini semakin bisa disadari oleh mereka yang bertengger dalam kekuasaan internal partai komunis tingkat tinggi, semakin tinggi semakin dapat merasakannya. Kader tingkat menengah PKT, dilihat dari kegilaan mereka dalam berkorupsi, dan kecepatan mereka melarikan dana, pada dasarnya juga kelihatannya sudah sangat jelas. Hanya sebagian orang di tingkat menengah bawah, dan orang Tionghoa di luar negeri yang masih kelihatan kabur terhadap hal ini. Itu sebabnya PKT akan musnah atau tidak, sejak lama sudah bukan masalah lagi. Hal yang sekarang menjadi perhatian masyarakat adalah kapankah PKT akan musnah?

Lagi pula, proses keluarnya dari arena sejarah, bagaimana fenomenanya, seberapakah ia akan mengalami kesulitan, kejelekan, buruknya reputasi, tidak terhormat dan lain-lain. Hal-hal ini barulah masalah yang paling mendapat perhatian dari masyarakat.

Namun, kapankah PKT akan mundur dari pentas sejarah, menetapkan titik waktu ini, bukan sesederhana sebagai masalah akademisi atau pertimbangan prediksi. Hal ini sesungguhnya bukanlah logika filsafat ataupun ilmu politik, melainkan masih terdapat penilaian moralitas dan akal budi. Karena, kapan membiarkan PKT runtuh, sebenarnya berkaitan dengan masalah seberapa banyak orang yang akan dicelakai, seberapa banyak orang dapat diselamatkan, seberapa banyak orang dapat melepaskan diri dari kesengsaraan. Karena keberadaan kekuasaan PKT, bukan sekedar pergantian suatu kekuasaan politik, ia justru merupakan kertas ujian suatu moralitas dan keadilan.

Kekuasaan PKT dapat bertahan lebih lama satu hari di Daratan Tiongkok, akan ada lebih banyak kekayaan yang dicaplok, akan ada semakin luas lingkungan yang tercemar, akan semakin banyak keluarga yang dibuat berantakan dengan berdarah-darah, akan ada lebih banyak orang yang dijebloskan ke penjara karena penyelewengan hukum, akan ada lebih banyak orang yang dirampas organ tubuhnya secara hidup-hidup, juga akan ada lebih banyak orang yang dirampas berbagai kebebasannya.

Seorang ilmuwan Amerika Serikat kenamaan tentang masalah Tiongkok baru-baru ini mengemukakan, kekuasaan PKT sudah memasuki masa kemerosotan yang berkepanjangan. Ia beranggapan, 10 – 15 tahun yang akan datang, “revolusi bersifat reformasi” akan mengakhiri kediktatoran sebuah partai PKT.

Perlu diketahui, penulis pernah bertemu sekali di Chicago dengan ilmuwan tersebut. Pada tahun itu, kebetulan bertepatan dengan peristiwa 4 Juni 1989, hampir semua mahasiswa Tiongkok yang sedang studi di AS dan ilmuwan yang sedang berkunjung telah berdiri, mendukung para siswa yang protes di Tiananmen (Gerbang Perdamaian Langit), menentang ketiranian / kekuasaan lalim PKT.

Pasca peristiwa 4 Juni, setelah lewat bertahun-tahun, para aktivis ada yang studi di luar negeri, ada yang menghentikan semua kegiatan, ada yang pulang keTiongkok, ada yang bernaung pada PKT, ada yang tetap menentang Komunis, ada yang mencurahkan perhatian sepenuhnya untuk melakukan riset, ada yang menjadi pengusaha dan menjadi kaya, ada yang masuk ke jalur agama, ada yang menempuh jalur ajaran kultivasi sejati. Pokoknya, jalan hidup manusia adalah sedemikian berbeda, dan terdapat sedemikian banyak pilihan.

Dari sudut pandang analisa ilmuwan tersebut, baik ekonomi, tingkat pendidikan kebudayaan masyarakat, dan sejarah sistem komunisme Tiongkok, ataupun sejarah kebengisan PKT, merosotnya sistem kekuasaan PKT, sudah lama melampaui batas ambruknya kekuasaan dan tidak akan dapat kembali ke keadaan semula. Runtuhnya pemerintahan partai komunis Uni Soviet dan Eropa Timur masa lalu, telah menjelaskan dengan rinci kecenderungan ini dalam sejarah dan realita.

PKT dapat bertahan hidup sampai sekarang ini, bukanlah keadaan yang normal, bukan pula suatu kelaziman, melainkan adalah suatu hal khusus. Tentu saja, PKT sampai-sampai masih dapat bertahan sedemikian lama, ini juga merupakan misteri yang sangat membingungkan manusia. Jawaban teka-teki ini sebenarnya telah ada, mungkin, tak lama kemudian, orang-orang akan tiba-tiba tersadarkan, oh, ternyata itulah sebabnya.

David Shambaugh, ahli permasalahan Tiongkok dari AS, pada 2015 telah menyatakan, dominasi PKT di Tiongkok telah memasuki babak akhir, perjalanan yang ditempuh PKT pada hari kiamatnya adalah lebih jauh daripada yang dibayangkan manusia. Gao Zhisheng pengacara pembela keadilan Tiongkok juga meramalkan, PKT akan runtuh pada 2017, dimana ia juga menyebutkan bahwa ini merupakan hal yang diilhamkan Tuhan kepadanya. Tentu saja, cerita gaib Gao Zhisheng ada orang yang bisa percaya, ada pula yang tidak percaya, semuanya tidak penting, karena penggenapannya sudah tidak terlalu lama lagi. Di dalam buku Gao Zhisheng yang akan terbit, kita akan melihat “ilham yang mendebarkan hati,” dan “seluk beluk yang gaib dan menggetarkan.”

Mengamati pergerakan PKT di masa mendatang, sering kali adalah teman-teman PKT, terutama mantan teman yang paling akrab, “teman seperjuangan yang dikokohkan dengan darah.” Merekalah yang melihat paling jelas. “Pyongyang Daily news” Korea Utara menerbitkan sebuah komentar panjang, mencaci maki Tiongkok sebagai “socio-imperialism,”  merupakan sebuah negara super besar di bawah kekuasaan “kelompok pengkhianat.”

Dalam artikel juga mencantumkan statistik dan contoh-contoh dalam jumlah besar, menuding PKT dengan kedok memberi bantuan dan kerja sama ekonomi, men-dumping perlengkapan mesin-mesin yang sudah usang, merampok bahan baku negara-negara dunia ke tiga. Bantuan Tiongkok kepada Korea Utara, sesungguhnya merupakan “pemerasan biadab” terhadap Korea Utara. PKT pada masa perang Irak melakukan “spekulasi” besar-besaran, begitu perang Irak selesai, segera mencari seribu satu akal, mengangkangi proyek konstruksi Irak untuk mendapatkan keuntungan super.

Serangan Korea Utara pada PKT, muncul karena ketakutan bahwa dirinya akan runtuh. Situasi krisis Korea Utara yang menyeluruh dalam politik, ekonomi dan militer juga merupakan cermin bagi PKT. Korea Utara sudah tidak mampu bertahan, PKT juga tidak memiliki terlalu banyak kemampuan untuk bertahan. PKT tentu saja mengharapkan kekuasaan negaranya abadi, namun kelanjutan perampasan yang mereka lakukan, masih ada berapa banyak ruang/ peluang?

Tentu tidak sampai 10~15 tahun! Karena kekayaan Tiongkok sudah dirongrong habis melalui kekuasaan, melalui inflasi, melalui harta tetap, melalui perusahaan milik negara. Ekonomi Tiongkok atas dasar kemacetan bahkan kemunduran, sekarang sudah memasuki inflasi yang cepat, Consumer Price Index sudah berturut-turut meningkat selama 5 bulan. Stagflation (inflasi yang disertai kemandekan ekonomi) yang paling membuat PKT panik, sudah benar-benar datang, runtuhnya Tiongkok Komunis, setiap saat bisa saja terjadi. (pur/whs/rmat)

Share

Video Popular