Oleh: Yang Yi Hui

Di bawah tanah Beijing, ibukota Tiongkok ini masih dihuni satu juta warga kaum urban, percayakah Anda?

Patrick Saint-Paul, koresponden dari “Le Figaro” Perancis di Beijing ini membenarkan fakta tersebut setelah dua tahun menelusuriny. Ia merilis sebuah buku dalam bahasa Perancis yang berjudul “The Rat Tribe atau Kaum/suku Tikus” di Beijing, Tiongkok. Buku membeberkan tentang jutaan warga yang masih hidup di bawah lingkungan yang buruk di bawah rezim komunis Tiongkok, dan menjadi mesin penggerak ekonominya.

Dalam buku “The Rat Tribe” yang berjudul lengkap “Le peuple des rats Dans les sous-sols interdits de la Chine” dalam versi bahasa Perancis ini, menggambarkan para pekerja migran Tiongkok ini seperti kaum tikus yang hidup di bawah tanah.

Dalam wawancaranya dengan France 24 (stasiun televisi Perancis) baru-baru ini, koresponden Patrick Saint-Paul mengungkapkan pengalamannya yang tak terlupakan tentang kaum urban yang tinggal di bawah tanah Beijing, Tiongkok.

Kaum Tikus tinggal di bawah kaki saya”

“Awalnya, tidak ada yang percaya dengan cerita Anda, tak diduga ternyata benar-benar ada jutaan pekerja migran yang tinggal di bawah tanah Beijing?” Tanya wartawan televisi.

“Ya, saya sendiri awalnya juga tidak percaya.” Ujar Saint-Paul menjawab pertanyaan wartawan televisi.

“Karena sebuah laporan, saya menemukan masalah pada pekerja migran, bayangan mereka ada di mana-mana di jalanan Beijing, lalu saya bertanya dalam hati, apakah di bawah lantai rumah saya ini juga dihuni para pekerja migran?” Tambahnya.

Inset : Patrick Saint-Paul, wartawan dari harian Le Figaro, Perancis saat diwawancarai France 24 / stasiun televisi Perancis. (internet)
Inset : Patrick Saint-Paul, wartawan dari harian Le Figaro, Perancis saat diwawancarai France 24 / stasiun televisi Perancis. (internet)

Kemudian, bak seorang “petualang,” Saint-Paul akhirnya menemukan sebuah asrama yang dihuni lebih dari 100 pekerja migran di lapangan parkir bawah tanah tempat tinggalnya. Di antara mereka ada yang menghuni secara berdesakan bersama 30 orang dalam satu ruangan besar, suasana lingkungan yang tidak layak, tidak ada jendela,  tidak ada air, tidak ada pemanas juga tidak ada penerangan (lampu).

“Ada warga Perancis lain atau warga asing yang tinggal selantai dengan saya, tapi mereka sama sekali tidak tahu kalau ada yang tinggal di tempat parkir bawah tanah,” kata Saint-Paul.

Waktu saya hanya beberapa detik” untuk membujuk pekerja migran menerima wawancara.

 

Inset : Sampul buku “Le peuple des rats Dans les sous-sols interdits de la Chine”. (Internet)

“Bagaimana Anda meyakinkan para pekerja migran itu untuk wawancara ? Karena itu sangat berisiko bagi mereka kalau dibeberkan, karena bagaimanapun itu sama saja mengekspos sisi gelap Tiongkok,” tanya wartawan televisi pada Saint-Paul.

Di lorong asrama tempat tinggal para kaum urban di bawah tanah itu terdapat kamera di mana-mana, ada petugas keamanan yang memantau setiap saat, jika melihat ada orang asing yang mendekat, mereka akan langsung mengusirnya.

Karena itu, ketika mengetuk pintu salah satu dari mereka, saya hanya punya waktu beberapa detik untuk meyakinkan penghuni bersangkutan agar mengizinkan saya masuk,” ujar Saint-Paul menceritakan.

Saint-Paul kembali menjelaskan, karena ia pernah ngobrol dengan salah satu pekerja migran di sekitar pemukiman, dan setelah cukup mengenal, Saint-Paul lalu menjelaskan kepadanya bahwa ia berencana menulis sebuah buku tentang pengalaman hidup buruh migran Tiongkok, dan pekerja itu pun langsung mendukung rencananya lalu membawa Saint dan memperkenalkannya pada pekerja lain, perlahan-lahan, Saint-Paul akhirnya berkesempatan masuk ke dalam lingkaran hidup para buruh migran, dan mendapatkan kepercayaan mereka.

Melihat fakta yang menyedihkan saat mengunjungi pedesaan.

Dalam penelusurannya, Saint-Paul telah mengunjungi beberapa kampung halaman para buruh migran, dan mengetahui lebih dalam tentang pengorbanan di balik keluarga para buruh migran yang bekerja di luar. Dalam bukunya, Saint-Paul menyebutkan, bahwa ada 61 juta anak-anak migran di seluruh Tiongkok yang kehilangan perawatan dari orang tua, sehingga memicu kasus kekerasan yang serius, bunuh diri dan masalah sosial lainnya.

“Karena sistem kependudukan, sehingga anak-anak dari pekerja migran tidak bisa bersekolah di Beijing. Mereka ditinggalkan di desa, ada yang sesama saudara saling merawat satu sama lain, ada yang kakek dan neneknya hidup bersama, ditinggal pergi demi menghidupi keluarga. Banyak pekerja migran bekerja di luar daerah, jarang pulang kampung, hanya dua kali dalam setahun,” tutur Sait-Paul.

Saint-Paul menceritakan salah satu contoh yang tragis seperti ini, ada seorang anak yang kedua orang tuanya bekerja di luar, dan sudah bertahun-tahun tidak pernah pulang, dimana setiap saat pihak sekolah membagikan transkrip. Dia adalah satu-satunya siswa di kelasnya yang tidak pernah dihadiri oleh orang tuanya. Suatu ketika, saat ia menerima sendiri transkripnya, ia pulang ke rumah kakek-neneknya, namun, tak disangka, siswa ini gantung diri di toilet, tapi, segenap keluarganya tidak tahu apa sebabnya ia bunuh diri.

“Tragedi keluarga seperti buruh migran ini sangat banyak, sama sekali tidak bisa distatistik, sementara di bawah rezim komunis juga tidak ada statistiknya,” kata Saint-Paul.

Selain itu, Saint-Paul juga menyebutkan bahwa sejak reformasi dan membuka diri, ada 400 juta petani di Tiongkok yang bekerja di luar daerah dan menjadi “pekerja migrant.” Saat ini, selain Beijing, jumlah pekerja migran di kota-kota lain di Tiongkok juga ada jutaan banyaknya.

“Boleh dikata, migrasi yang sedemikian besar ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia,” kata Saint-Paul menambahkan.

Dalam buku yang berjudul “Le peuple des rats Dans les sous-sols interdits de la Chine,” Saint-Paul menjelaskan secara lengkap tentang kehidupan yang tragis dari para pekerja migran tersebut. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular