Ilmuwan terkenal Inggris, Stephen Hawking dan CEO Tesla, Elon Musk pernah menyampaikan surat terbuka, yang berpendapat bahwa perkembangan AI (Artificial Intelligence: intelijensi atau kecerdasan buatan) harus dibatasi. Menurut Musk, ini ibarat “memanggil iblis”, yang mungkin akan mendatangkan bahaya ekstrim.

Robot akan berdampak pada lapangan kerja

Meskipun robot bisa menggantikan manusia melakukan pekerjaan yang tidak disukai dan manusia menempati posisi jabatan yang mementingkan pemikiran, namun dalam jangka pendeknya mungkin akan mengakibatkan terjadi PHK dan pergolakan ekonomi. Menurut riset oleh Oxford University dan kantor akuntan publik Deloitte & Touche LLP, sebelum tahun 2033 sebanyak 45% pekerjaan akan digantikan oleh robot, yang akan berimbas terhadap 10 juta orang. Oxford University mengemukakan 10 macam pekerjaan yang akan mengalami nasib ini, termasuk para pencatat transaksi keuangan, pekerja jalur produksi, sekretaris, pengacara non-perkara, pelayan restoran, bartender, pasukan pengintai, sopir, astronot, apoteker, dan juru rawat.

Komisi Penasihat Ekonomi Gedung Putih bulan Februari lalu mengeluarkan laporan, diperkirakan kemungkinan 83% robot akan menggantikan pekerjaan yang berupah kurang dari 20 dollar AS per jam, kemungkinan robot akan menggantikan pekerjaan yang berupah antara 20 – 40 dollar AS per jam adalah 31%, dan kemungkinan robot akan menggantikan pekerjaan yang berupah lebih dari 40 dollar AS per jam hanya 4%. Sedangkan menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja AS tahun lalu, pekerja di seluruh AS berjumlah sekitar 130 juta jiwa, dengan gaji rata-rata 43.460 dollar AS per tahun, atau setara dengan 20,9 dollar AS per jam. Dan 18 juta pekerjaan berupah kurang dari 10 dollar AS per jam, termasuk pelayan, kasir, perawat; sebanyak 63 juta pekerjaan berupah antara 10 – 20 dollar AS per jam, di antaranya toko retail, konstruksi, sebagian pekerja administratif, dan pekerja kargo.

Robot bisa belajar berbohong

Di dalam film fiksi, robot memiliki kesadaran menyerupai manusia normal, dan bisa memrogram dirinya sendiri. Di dalam banyak film yang disebut “science fiction (sains fiksi)”, kini sudah cukup banyak yang berhasil diwujudkan, seperti Siri dari iPhone yang bisa berdialog dengan manusia, Google telah menemukan mobil yang bisa mengemudi sendiri, kacamata Google bisa menyimpan pengalaman penggunanya, dan lain sebagainya.

Dalam jangka pendek, robot mungkin akan menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan; untuk jangka panjang, robot lebih pintar daripada manusia. Selama ini, kecerdasan buatan (AI) akan dilakukan “pengujian Turing”: yakni jika bisa membuat orang merasa bukan robot, maka bisa disebut AI yang sebenarnya. Dengan kata lain, robot memiliki teori pembelajaran yang mendalam.

Pembelajaran mendalam adalah jaringan syaraf yang mampu membentuk dan meniru kemampuan otak manusia untuk belajar menganalisa. Profesor Geoffrey Hinton dari Fakultas Teknologi Informatika di Toronto University, Kanada, tahun 2006 menulis artikel di majalah Science, memberikan pemikiran baru dalam hal melatih jaringan mendalam. Sejak saat itu, kemampuan robot mengenali gambar rumit meningkat dari yang awalnya hanya 84,7% meningkat menjadi 95% di tahun 2015, dari makna tertentu telah setara dengan manusia.

Di Laboratorium Sistem Inteligensi pada Institut Teknologi Lausanne, Swiss, pada tahun 2009 dilakukan ujicoba pada robot untuk merancang pencarian sumber energi yang bermanfaat dan menghindari kerjasama berbahaya. Yang mengejutkan adalah, robot bisa berbohong, dan berusaha menimbun energi yang bermanfaat baginya.

AI adalah “Memanggil Iblis”

Ilmuwan Inggris Stephen Hawking pernah menyatakan, sekarang bukan saatnya untuk mengkhawatirkan siapa yang mengendalikan robot, melainkan mengkhawatirkan apakah robot bisa dikendalikan sepenuhnya; manusia akan menghadapi tantangan robot, dan mungkin akan dikendalikan oleh robot, bahkan dihabisinya, “Dalam 100 tahun mendatang, robot yang dipadu dengan AI akan lebih cerdas daripada manusia, pada waktu itu harus dipastikan tujuan robot dengan manusia adalah sama, masa depan kita ditentukan oleh kemampuan untuk terus meningkatkan teknologi dan kecerdasan menggunakan teknologi dalam berkompetisi”.

Surat edaran yang diterbitkan oleh Hawking maupun CEO Tesla, Elon Musk berpendapat bahwa perkembangan AI harus dikendalikan. Saat di Massachusetts Institute of Technology Elon Musk memperingatkan, paling cepat dalam 5 tahun ke depan robot mungkin akan mendatangkan bahaya ekstrim, dan AI akan seperti “memanggil iblis… kita harus selalu ekstra waspada terhadap kecerdasan buatan ini, jika saya diminta untuk memprediksi ancaman terbesar bagi eksistensi manusia, maka itu adalah AI”.

Ambang kehancuran manusia tak lama lagi

Teori Singularitas meyakini, suatu hari kelak kecerdasan robot akan melampaui manusia. Direktur Teknik Google Rae Kurzweil yang mengemukakan teori ini menyatakan, hingga tahun 2045 AI akan memasukkan seluruh pemikiran manusia ke dalam komputer, dan menjadikannya sebagai mesin hitung abadi. Di tahun 1990 ia telah memprediksi bahwa sebelum tahun 1998 komputer akan bisa mengalahkan juara catur internasional, akhirnya di tahun 1997 komputer super rakitan IBM bernama “Deep Blue” berhasil mengalahkan juara catur dunia kala itu yakni Kasparov.

Penulis buku AI Revolution, Louis Monte memprediksi, hingga tahun 2040 akan terjadi komputer lebih unggul daripada otak manusia, paling lambat akan terjadi di tahun 2045, “Pada masa awal dunia singularitas akhir, ada suatu kondisi dimana robot akan mengubah manusia menjadi manusia cyborg, ini sudah hampir terjadi saat ini: jika ada anggota badan yang rusak, digantikan dengan suku cadang buatan, sebagian besar manusia akan menjadi setengah robot di saat abad ini berakhir dan akan dianggap sebagai spesies yang tidak bisa diprediksi dan berbahaya”, ia akan memperlakukan manusia sama seperti halnya cara manusia memperlakukan serangga berbahaya, karena manusia telah menjadi “teman sekamar yang hampir tidak memiliki daya tarik”. (Epochtimes/Lie/Yant)

Share

Video Popular