Oleh:  Lin Yan

Sebuah penelitian astronomi mengatakan, bahwa galaksi mungkin meniupkan “angin super kuat” dan menghempaskan elemen berat yang akan membentuk bintang itu ke jarak satu juta tahun cahaya jauhnya di angkasa.

Benjamin Oppenheimer, astronom dari University of Colorado dan rekannya menemukan, bahwa kandungan oksigen, unsur karbon dan besi serta unsur berat lainnya di sekitar galaksi itu jauh lebih banyak daripada kandungan di internal galaksi. Hal ini disebabkan galaksi meniup keluar “badai angin super” dengan kecepatan 1500 km per detik, menghempaskan materi yang dapat membentuk bintang dan planet itu ke ruang angkasa, dengan jarak hingga satu juta tahun cahaya jauhnya, demikian dikutip dari Journal of Cosmology, Senin (6/6/2016).

Galaksi tersebut di atas telah membuang unsur-unsur itu, karena unsur atau elemen tersebut sebenarnya bisa membentuk lebih banyak bintang dan planet.

“Fakta telah membuktikan bahwa galaksi itu tidak bisa mendaur ulang dengan baik unsur-unsur itu,” kata Oppenheimer, astronom dari University of Colorado, Amerika Serikat.

Menurut laporan, bahwa ruang di sekitar galaksi bukan benar-benar hampa tanpa sesuatu, umumnya mengandung materi gas yang sangat tipis, yang biasanya disebut “zantara galaksi cincin,” dimana zantara-zantara ini dapat masuk dan keluar dari galaksi.

Dalam rangka untuk memastikan materi apa sebenaranya zantara itu, Oppenheimer dan rekan-rekannya melakukan simulasi mengunakan CosmicOrigins Spectrograp pada teleskop Hubble.

Jika mereka mensimulasikan sebuah galaksi spiral seperti Bima Sakti, atau galaksi elips, maka keistimewaan zantara galaksi cincin di sekitar galaksi yang didapat itu tidak menonjol. Artinya, zantara galaksi cincin akan dipenuhi dengan unsur berat, tapi kandungannya hanya lebih dari setengah dari kandungan galaksi itu sendiri.

Ketika terjadi “badai angin super” dari ledakan sebuah bintang dan lubang hitam supermasif di pusat galaksi, akan terjadi hasil yang mengejutkan, unsur berat yang jumlahnya sangat besar itu akan dihempaskan oleh angin yang berkecepatan minimal 1500 km per detik ke ruang angkasa sejauh satu juta tahun cahaya.

“Proses ini berlangsung sengit dan lama, mungkin memakan waktu hingga lebih dari 10 miliar tahun, ini berarti bahwa oksigen dan unsur berat lain yang sedang kita amati di galaksi seperti Bima Sakti itu, sudah ada di ruang angkasa jauh sebelum lahirnya matahari,” ujar Oppenheimer.

Penelitian terkait dipublikasikan di jurnal “Monthly Notices of the Royal Astronomical Society,” Inggris. (epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular