Erabaru.net. Orang modern sekarang mempunyai sebuah perkataan yang populer yang disebut “kebahagiaan”, maksud dari “kebahagiaan” tersebut tingkat respon langsung dari tingkat kesenangan dan kepuasan hidup fisik dan mental dari orang tersebut.

Namun sangat disayangkan, masyarakat modern sekarang tingkat kebahagiaan umumnya tidak tinggi, terutama masyarakat yang tinggal di Tiongkok daratan, meskipun kondisi material bisa terjamin, tapi kondisi spiritual sangat langka, yang menyebabkan sebagian besar orang “hidup dengan tidak bahagia.”

Analisis lebih lanjut faktor-faktor apa yang menyebabkan orang tidak bahagia, kita akan menemukan beberapa hal penting. Sekarang semua lapisan masyarakat mempunyai kehidupan yang sibuk, sehingga orang tidak bisa berhenti untuk menikmati alam dan ketenangan pikiran yang membawa kebahagiaan.

Dan sekarang banyak orang sibuk dengan berbagai hal, makna dan nilai dari hal-hal yang tidak layak, jadi ketika orang menaruh kehidupan dan waktu yang terbuang pada hal-hal yang tidak layak, secara alami akan merasa kekosongan jiwa, tidak nyaman, jadi apa yang bisa disebut kebahagiaan lagi.

Beberapa orang berbicara tentang topik karena miskin sehingga tidak merasa bahagia. Hampir semua dari mereka dalam mengejar kepentingan material, kebanyakan orang merasa bahwa mereka adalah orang-orang “miskin” selalu terjadi persaingan dalam perluasan keinginan material mereka sendiri, setelah memiliki rumah ingin memiliki mobil, setelah ada mobil masih ingin mobil yang lebih mewah …… kemudian kebanyakan orang ini karena ketidak puasan menjadi tertekan, kehilangan kebahagiaannya sendiri.

Namun “miskin” apakah yang benar-benar menjadi akar penyebab ketidakbahagiaan? Jika demikian, mengapa anak-anak orang kaya dan bintang film membius diri sendiri dengan penggunaan narkoba, melarikan diri dari hidup tetapi jauh dari kehidupan yang bahagia?

Terlihat, sebenarnya penyebab ketidakbahagiaan manusia bukan karena kemiskinan materi, tetapi kekosongan spiritual. seseorang jika tahu bagaimana menggunakan hadiah yang diberikan Tuhan, merasa bersyukur, berpuas dengan apa yang didapatnya, baru layak disebut sebagai”kebahagiaan”.

Mari kita lihat hampir semua wabah yang menyebabkan masalah emosional wanita modern sekarang. Karena latar belakang budaya dan lingkungan sosial yang berbeda, sehingga wanita Asia tidak seperti wanita Barat yang independen, sehingga cinta dan perkawinan menjadi faktor penting yang menyebabkan kebanyakan wanita bahagia atau tidak.

Apakah wanita tersebut menikah atau tidak, alasan yang mengarah ke tekanan mereka adalah tidak dapat menemukan pasangan yang baik terhadap mereka, sehingga layak bagi mereka untuk mencintainya.

Kelompok ” perempuan yang tidak menikah” atau “janda (wanita yang bercerai)”akan menghadapi pandangan berbeda dari keluarga besar dan lingkungan. Menghadapi fenomena canggung seperti ini, bagaimana mungkin wanita bisa bahagia?

Jika situasi direfleksi kita akan menemukan bahwa hal paling mendasar yang menyebabkan hal yang menyebabkan percintaan dan pernikahan dapat hancur karena keegoisan manusia, setelah pernikahan saling tidak mau mengalah dan tak saling menghormati, hanya karena hal sepele bisa bertengkar dengan sengit.

Saya pernah melihat di sekitar saya karena merenovasi rumah karena ketidaksepakatan terjadi perceraian; masalah pengasuhan anak, pembagian pengeluaran rumah tangga, bisa bertengkar dan bercerai.

Mereka lupa bahwa dalam pernikahan diperlukan adalah saling menghormati, saling toleransi, pernikahan adalah komitmen, tanggung jawab, pria dan wanita modern sekarang karena moral yang merosot berangsur-angsur melupakan hal ini.

Untuk mengatasi masalah ini, hanya menyingkirkan konsep ego, meningkatkan moral, menjadi orang yang beriman, dan memahami nilai kehidupan.

Jika semua orang menerapkan standar Sejati, Baik, Sabar untuk diri mereka sendiri, ketika menemui kontradiksi mencari masalah dari diri sendiri, maka keluarga dan masyarakat akan berubah menjadi harmonis.

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular