Kanselir Jerman, Angela Merkel bersama anggota kabinetnya akan berada di Beijing pada 12 – 14 Juni untuk mengikuti pertemuan konsoltasi keempat antar pemerintah Jerman – Tiongkok. Ini akan merupakan kunjungannya yang kesembilan ke Beijing selama Angela Merkel menjabatan sebagai kanselir.

Tekanan yang diberikan kepada para aktivis HAM dan organisasi non pemerintah di daratan Tiongkok, serta perdagangan antara negara-negara Uni Eropa dengan Tiongkok yang mengalami berbagai kendala, menarik perhatian dunia. Pihak luar berpendapat bahwa isu perdagangan dan HAM akan menjadi isu utama pertemuan kali ini.

Jerman dan Tiongkok adalah mitra dagang penting. Hal tersebut secara luas dilaporkan RFI bahwa meskipun transaksi perdagangan kedua negara cukup banyak, namun ekspor Jerman ke Tiongkok telah menurun cukup drastis sejak tahun lalu. baik Jerman maupun negara Uni Eropa lainnya banyak mengeluhkan soal kondisi bidang perdagangan di Tiongkok.

Birokrasi yang tinggi di Tiongkok, kompleksitas dalam pengurusan lisensi, perlindungan terhadap kekayaan intelektual yang kurang memadai, pemaksaan untuk melakukan transfer teknologi, persaingan yang tidak adil dan sebagainya merupakan keluhan yang akan dibawa Angela Merkel ke pertemuan untuk dibahas  bersama delegasi Tiongkok.

Dilaporkan oleh Suara Amerika bahwa perusahaan Tiongkok Midea Group berencana untuk mengakuisisi Kuka Goup, sebuah perusahaan Jerman produsen robot industri. Hal ini memicu kontroversi di Jerman dan Uni Eropa. Banyak orang khawatir bahwa akuisisi tersebut dapat membuat Jerman kehilangan teknologi kuncinya.

RFI melaporkan, Wakil Kanselir merangkap Menteri Ekonomi Jerman Sigmar Gabriel menentang dilakukannya akuisisi Kuka Group dan pemberian status ekonomi pasar Tiongkok oleh Uni Eropa. Tetapi ia tidak ikut dalam rombongan Merkel.

Sementara itu, tekanan-tekanan terhadap organisasi non pemerintah, para aktivis HAM, pengacara, seniman dan lainnya yang belakangan ini masih terus dilakukan pihak berwenang Tiongkok menimbulkan kekhawatiran negara-negara Barat.

Menteri Kehakiman Jerman Heiko Maas yang juga ikut ke Beijing baru-baru ini dalam wawancara dengan Deutsche Welle mengatakan, seniman membutuhkan lebih banyak ruang kebebasan untuk berkarir dan pengacara HAM tidak perlu merasa tertekan dalam menjalankan profesinya. Namun,  kondisi seperti itu tidak ada di Tiongkok.

Maas selanjutnya mengatakan, pihak Jerman seperti biasanya akan memanfaatkan kesempatan konsultasi dengan pihak Tiongkok untuk mengangkat isu-isu tersebut. Salah satu alasannya adalah karena hukum dan kondisi HAM secara langsung memiliki kaitan dengan perdagangan.

“Kami sangat jelas bahwa penegakan hukum adalah kondisi yang merupakan prasyarat, dan semua perusahaan yang beroperasi di Tiongkok perlu memperoleh kepastian hukum,” katanya.

Menurut Daily Mirror di Berlin, ada 2 tuntutan politik yang akan diajukan oleh delegasi Jerman pada kesempatan konsultasi kali ini.

Pertama adalah soal tingkat elastisitas dari undang-undang tentang organisasi non pemerintahan atau LSM yang baru diumumkan bulan Mei. Hal ini diperlukan untuk meredakan kekhawatiran yang timbul antara lembaga keuangan Jerman dengan LSM yang beroperasi di Tiongkok.

Kedua, untuk keperluan penandatanganan kesepakatan menjamin keamanan jaringan internet dan kontra spionase ekonomi dengan pihak Tiongkok. Namun, ahli urusan Tiongkok dari Jerman mengatakan bahwa keberhasilan untuk poin kedua ini tampaknya tidak besar karena Tiongkok akan menolak untuk mengalah dalam perundingan. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular