Oleh: Cao Changqing

Membandingkan Insiden Gwangju di Korea Selatan dengan Pembantaian Tiananmen di Tiongkok, bisa dilihat perbedaan dan persamaan latar belakang politik dan situasi perkembangannya di kedua negara. Dari Insiden Gwangju dan Pembantaian Tiananmen terdapat sedikitnya 3 kemiripan.

Kemiripan dan Perbedaan

Pertama, memiliki kemiripan karakter, adalah rakyat dan pelajar menuntut demokrasi, oleh pemerintah sama-sama didefinisikan sebagai kerusuhan dan ditindas dengan kekuatan militer. Pasukan militer Korsel kala itu sempat melepaskan tembakan langsung ke arah massa. Tentara Pembebasan Rakyat (RRT) juga melepaskan tembakan ke arah massa yang mundur, bahkan menghujani kediaman di sekitar lokasi dengan tembakan. Banyak orang yang menyaksikan peristiwa di pinggir jalan juga tertembak mati. Insiden Gwangju terjadi pada 1980, Pembantaian Tiananmen terjadi pada 1989. Kedua peristiwa ini adalah dua tragedi terbesar yang terjadi di Asia pada akhir abad ke-20 silam.

Kedua, pemerintahan melanjutkan penindasan itu pasca kejadian. Setelah Insiden Gwangju, ribuan orang di Korsel ditangkap, lebih dari 800 wartawan dihukum. Setelah Pembantaian Tiananmen di Tiongkok, ribuan orang dipenjara, hanya dari surat kabar “People’s Daily” saja sebanyak 132 orang editor dan wartawan dipecat atau dipindah-tugaskan. Menurut data pemerintah, selama 4 tahun pasca Pembantaian Tiananmen, lebih dari 200 kantor surat kabar ditutup oleh pemerintah.

Ketiga, setelah kedua peristiwa itu, pemerintahan yang berkuasa merasa bersalah, penyebutan tentang kasus itu pun terus diturunkan gradasinya. Pemerintahan Chun Doo-hwan Korsel awalnya menyebutnya “Kerusuhan Gwangju.” Kemudian dilunakkan menjadi “Insiden Gwangju.” Pihak Beijing juga terus mengubah sebutan, awalnya disebut “Kerusuhan Anti-Revolusi,” kemudian menurun menjadi “gejolak,” lalu berubah lagi menjadi “insiden,” setelah itu sempat disebut “krisis” dan terakhir disebut “kejadian itu.” Lima kali perubahan sebutan yang nadanya terus diturunkan artinya partai komunis pun merasa malu dan tak mampu berbicara lantang.

Keterangan foto: Kini di Korea Selatan, tidak ada lagi orang yang mengecam tindakan warga Gwangju pada 1980 itu anarkis, justru dipandang sebagai gerakan demokrasi menentang anarkis (atas). Sebaliknya di Tiongkok, cukup banyak tokoh gerakan rakyat menyerukan anti-anarkis, itu berarti jika Tentara Beijing datang meredam, rakyat tinggal menunggu dibantai saja (bawah).
Keterangan foto: Kini di Korea Selatan, tidak ada lagi orang yang mengecam tindakan warga Gwangju pada 1980 itu anarkis, justru dipandang sebagai gerakan demokrasi menentang anarkis (atas). Sebaliknya di Tiongkok, cukup banyak tokoh gerakan rakyat menyerukan anti-anarkis, itu berarti jika Tentara Beijing datang meredam, rakyat tinggal menunggu dibantai saja (bawah).

Tentu saja juga banyak perbedaan antara kedua kejadian itu. Yang pertama jumlah korban tewas tidak sama. Pada Insiden Gwangju korban tewas 191 orang. Sedangkan dalam Pembantaian Tiananmen hingga saat ini pemerintah RRT belum pernah mengumumkan jumlah korban tewas. Waktu itu wartawan surat kabar “New York Times” bernama Nicholas Kristof sempat mewawancara dokter di Beijing, memperkirakan jumlah korban tewas antara 400-800 orang. Kristof mengatakan, anggap saja korbannya 400 orang, ini sudah jauh melampaui jumlah pelajar yang dibunuh oleh dinasti-dinasti di Tiongkok sebelumnya.

Zhang Wanshu yang di saat peristiwa Pembantaian Tiananmen menjabat sebagai Kepala Divisi Berita Dalam Negeri di kantor berita Xinhua, pada 2015 menerbitkan buku di Hongkong yang berjudul “Big Bang History: June Incident Panoramic Record.” Dalam buku itu dikutip data menurut Tan Yunhe selaku Sekjend PMI Tiongkok waktu itu, bahwa korban tewas dalam Pembantaian Tiananmen adalah 727 orang. Anggap saja hanya 700 orang, jumlah itu adalah lebih dari tiga kali lipat korban tewas dalam Insiden Gwangju.

Satu hal lagi yang berbeda, saat terjadi Insiden Gwangju, warga kota dan pelajar angkat senjata untuk melawan, dan terlibat bentrok langsung dengan aparat militer, serta konflik tersebut sempat berlangsung selama 10 hari. Warga bahkan sempat satu kali berhasil menghalau pasukan militer mundur hingga ke luar kota. Karena tidak puas terhadap media cetak dan radio pemerintah yang tidak memberitakan fakta, warga Gwangju bahkan membakar kantor surat kabar, lalu menerbitkan surat kabar sendiri mewartakan fakta kejadian itu pada dunia.

Sedangkan di RRT, saat terjadi Pembantaian Tiananmen, banyak sekali kaum intelek yang waktu itu meneriakkan seruan “Hentikan anarkis, kami bukan musuh, cara damai adalah tujuan utama” dan lain sebagainya. Ini sangat berbeda dengan kondisi di Korsel, mereka tidak berkoar-koar, dan mereka sangat sadar bahwa kedatangan pasukan pemerintah adalah untuk menindas, artinya untuk membunuh. Rakyat memiliki hak untuk membela diri secara militer, ini bukan tindakan anarkis, dan justru merupakan perlawanan untuk mengakhiri anarkis (pemerintah otoriter), suatu pertaruhan hidup dan mati untuk melindungi kehormatan dan nyawa manusia.

Kini di Korea Selatan, tidak ada lagi orang yang mengecam tindakan warga Gwangju yang pada waktu itu mengangkat senjata melakukan perlawanan sebagai tindakan anarkis. Sebaliknya tindakan itu justru dipandang sebagai gerakan demokrasi menentang anarkis. Tapi di Tiongkok, termasuk tidak sedikit tokoh gerakan rakyat menyerukan anti-anarkis, yakni tidak memperbolehkan rakyat untuk angkat senjata membela diri. Itu berarti jika ada PLA (tentara pembebasan rakyat) datang meredam, rakyat tinggal menunggu dibunuh saja.

Dalam sejarah modern ada dua tokoh terkenal yang menyerukan anti anarkis dan berhasil. Yang pertama adalah Gandhi di India, dan yang kedua adalah Martin Luther King di Amerika Serikat, namun keduanya menghadapi pemerintahan demokratis.

Gandhi menhadapi Inggris yang memiliki sistem pemilihan umum. Martin Luther King menghadapi AS yang demokratis, sehingga ketika mereka menyerukan perdamaian dan anti anarkis, seruan itu efektif. Tapi pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama saat menyerukan anti anarkis pada pemerintahan otoriter Partai Komunis Tiongkok/ PKT, sampai saat ini telah lebih dari setengah abad lamanya, sama sekali tidak berguna. Dalam menghadapi diktator, masyarakat seharusnya lebih menegaskan haknya, termasuk rakyat memiliki hak untuk mempersenjatai diri demi melindungi diri, dan bukan seruan anti anarkis.

Tentunya perbedaan terbesar antara kedua peristiwa itu adalah, Insiden Gwangju telah sepenuhnya direhabilitasi, para korban mendapat ganti rugi dan pihak yang bertanggung jawab telah diadili. Pada Pembantaian Tiananmen di Tiongkok, sampai sekarang belum terlihat pengungkapan faktanya. Mengapa akhir dari kedua peristiwa ini begitu bertolak belakang?

Ini erat kaitannya dengan kaum intelek kedua negara, terutama perbedaan pola pikir para pemimpin gerakan rakyat, serta pemerintahan yang berkuasa di kedua negara. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular