Peradaban Maju Lembah Indus Ada Sebelum Mesir Kuno

929
peradaban lembah indus india
Diperkirakan peradaban tersebar di seluruh bagian yang sekarang disebut Pakistan dan barat laut India di Zaman Perunggu dan pada puncaknya, sekitar lima juta orang tinggal di area satu juta mil persegi di sepanjang benteng-benteng yang dibangun di dekat lembah Sungai Indus

Kisah hancurnya peradaban yang telah maju sudah banyak mendapatkan pembuktian, misalnya adanya piramida yang mengesankan dan aturan yang rumit, tampaknya Mesir Kuno melambangkan suatu peradaban awal yang canggih, atau kemegahan peradaban Yunani kuno, maupun peradaban  Atlantis.

Dan kini adanya bukti-bukti baru menunjukkan Peradaban Lembah Indus di India dan Pakistan, yang terkenal karena adanya kota yang terencana dan kerajinan yang mengesankan, telah mendahului peradaban Mesir dan Mesopotamia.

Setelah dianggap salah satu dari peradaban tertua di dunia, para ahli sekarang percaya itu adalah berusia 8.000-2.500 tahun lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya.

Studi mereka juga memberi penerangan baru tentang mengapa peradaban yang tampaknya maju itu telah runtuh.

Sebuah tim peneliti dari Archaeological Survey of India (ASI), Institute of Archaeology, Deccan College Pune, dan IIT Kharagpur, telah menganalisis fragmen tembikar dan tulang hewan dari Bhirrana di utara negara itu dengan menggunakan metode penanggalan karbon.

“Berdasarkan usia radiokarbon dari parit yang berbeda dan tingkat pemukiman di Bhirrana telah disimpulkan sebagai peradaban tertua di bagian benua India,” tulis para ahli dalam jurnal “Scientific Reports Nature”.

peradaban tertua
Bukti baru menunjukkan Peradaban Lembah Indus di India dan Pakistan, terkenal karena pembangunan kota yang terencana dan kerajinan yang mengesankan, mendahului Mesir dan Mesopotamia.

Mereka pernah juga menggunakan metode optically stimulated luminescence (OSL) untuk memeriksa penanggalan dan menyelidiki apakah iklim berubah ketika peradaban itu berkembang, untuk mengisi ‘kesenjangan kritis dalam informasi tentang peradaban Harappa (Lembah Indus).

Walaupun lebih banyak lagi pengujian yang dibutuhkan, penelitian ini menunjukkan Peradaban Lembah Indus ada sebelum penanggalan Mesir kuno dan Mesopotamia, yang juga terkenal karena kemampuan mengesankan mereka dalam membangun kota yang teratur dan terencana.

Diperkirakan peradaban tersebut tersebar di bagian dari yang sekarang disebut Pakistan dan barat laut India di Zaman Perunggu dan pada puncaknya, sekitar lima juta orang tinggal dalam satu juta mil persegi di sepanjang benteng-benteng yang dibangun di dekat lembah Sungai Indus.

Tembikar dan logam yang ditemukan di berbagai situs kuno di wilayah tersebut menunjukkan masyarakat tersebut adalah pengrajin terampil dan ahli metalurgi, mampu membuat tembaga, perunggu, timah dan timah, seperti membakar batu bata dan mengontrol pasokan dan drainase air.

“Penelitian kami mendorong kembali ke zaman tua seperti milinium ke-8 sebelum sekarang dan akan memiliki implikasi besar untuk evolusi pemukiman manusia di bagian benua India,” kata Anindya Sarkar, seorang profesor di departemen geologi dan geofisika di IIT Kharagpur, mengatakan kepada International Business Times.

Situs arkeologi di Harappa dan Mohenjo-daro di Pakistan, menunjukkan orang-orang kuno merupakan perencana kota dan petani mahir. Ditemukan pada tahun 1920-an, situs Mohenjo-daro adalah salah satu pemukiman terbesar dan paling maju dari Peradaban Lembah Indus, dengan jalan-jalan diatur memutar persegi mengelilingi rumah-rumah terbuat dari batu bata, dua aula besar untuk pertemuan, tempat pasar, pemandian umum dan sebuah sumur pusat .

kota terencana di jaman perunggu
Seorang pengawas situs, Hirabhai Makwana, sedang membersihkan tungku kuno.

Rumah tangga mendapat air dari sumur kecil dan air limbah disalurkan ke jalan-jalan utama, dengan beberapa barang yang lebih mewah kebanggaan mereka pada kamar mandi dan lantai kedua.

Para ahli sebelumnya telah menyatakankan peradaban yang tampaknya sukses dan maju tersebut secara bertahap tersapu ketika Sungai Indus kering sebagai akibat dari perubahan iklim. Selain itu, termasuk invasi bangsa Arya, bencana banjir, perubahan permukaan air laut, kekerasan sosial dan penyebaran penyakit menular.

Namun begitu, tim telah datang dengan teori baru, yang mengatakan bahwa iklim mungkin bukan penyebab merosotnya Harappa.

Saat itu masyarakat kuno mengandalkan musim hujan lebat dan teratur antara 9.000 dan 7.000 tahun yang lalu untuk mengairi tanaman mereka, setelah periode ini, bukti di Bhirrana menunjukkan orang terus bertahan meskipun terjadi perubahan pola cuaca.

Menurut para peneliti, dengan meningkatnya bukti-bukti yang diperoleh menunjukkan bahwa masyarakat saat itu telah bergeser pola tanam mereka dari sereal butiran besar seperti gandum dan barley selama bagian awal musim hujan intensif menjadi spesies tahan kekeringan, jawawut dan padi, di bagian akhir dari penurunan musim hujan, dengan demikian mengubah strategi nafkah mereka.

Namun, perubahan tanaman yang mereka tanam dan yang dipanen mengakibatkan ‘de-urbanisasi’, menurunnya migrasi ke pusat kota dan meningkatnya migrasi menuju wilayah pinggiran kota, dan tidak memerlukan fasilitas penyimpanan makanan besar. Sebaliknya, masyarakat menggantinya ke ruang penyimpanan pribadi untuk menjaga keluarganya.

“Karena tanaman ini umumnya memiliki hasil yang jauh lebih rendah, sistem penyimpanan besar yang terorganisir secara matang periode Harappa ditinggalkan sehingga menimbulkan proses penanaman serta sistem penyimpanan berbasis perumahan yang lebih individual dan hal ini dapat bertindak sebagai katalis untuk deurbanisasi peradaban Harappa daripada keruntuhan yang tiba-tiba,” ungkap tim menulis.

Bagaimanapun pendapat diusulkan mengenai bagaimana suatu peradaban yang pernah gemilang telah lenyap, bahkan peradaban-peradaban yang lebih maju dibanding jaman sekarang juga ditemukan di dasar lautan, kenyataannya kini semua telah mengalami kehancuran hanya tertinggal sisa-sisa yang ditinggalkan untuk dikaji kembali oleh generasi sekarang, agar peradaban sekarang tidak mengulangi kejadian yang telah mereka alami.

Mengenai pemikiran tentang kaitannya antara kemajuan teknologi yang dicapai manusia saat itu dan saat sekarang, apakah telah berpengaruh besar pada perubahan iklim dan kemunduran lingkungan alam, mengingatkan kita pada pesan-pesan yang disampaikan orang-orang bijak zaman dahulu bahwa kemajuan teknologi berarti suatu kemunduran bagi manusia karena memanjakan sisi keserakahan manusia yang berakibat menimbulkan merosotnya etika kehidupan yang pada akhirnya berdampak balik pada kehancuran manusianya sendiri. (ran)