5 produsen terkemuka dunia hampir pada saat bersamaan di beberapa hari terakhir pada Mei mengumumkan rencana untuk divestasi dari daratan Tiongkok. Berdasarkan pengalaman di masa lalu, hengkangnya investor asing langsung berdampak pada sejumlah industri lokal, sehingga dalam beberapa bulan mendatang gelombang penutupan perusahaan lokal dan PHK karyawan diperkirakan akan terjadi lagi.

Pabrik lampu penerangan yang menguasai pasar pencahayaan dunia Philips Lighting telah menghentikan seluruh kegiatan pabriknya di kota Shenzhen pada 30 Mei 2016 lalu. Perusahaan tersebut dalam pengumuman pembubarannya mengatakan bahwa perusahaan dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami penurunan omzet penjualan, kenaikan biaya modal dan kesulitan lainnya. Meskipun berbagai langkah untuk mengatasinya telah dilakukan perusahaan, namun tidak berhasil membalikkan keadaan.

Zhuhai CHI CHENG Technology Co.Ltd. pada 30 Mei dengan resmi menyatakan kepailitan usaha dalam suasana ricuh karena dibarengi oleh protes para pemasok dan karyawan. Sejak itu, perusahaan OEM terbesar dunia yang memproduksi casing logam ponsel tersebut telah menghentikan seluruh kegiatan perusahaan mereka di Tiongkok.

Perusahaan asing milik orang Jerman yang cukup terkenal di kota Yancheng, Jiangsu, Triumph International Group  Co, Ltd.  pada 1 Juni menyatakan divestasi dari Tiongkok yang disambut dengan pemogokan kerja oleh sekitar 2.000 orang karyawan perusahaan tersebut.  Mereka juga  menuntut perusahaan untuk melakukan restrukturisasi dan menyelesaikan kewajiban kompensasi bagi pekerja.

Menurut ungkapan salah seorang staf  bahwa perusahaan Triumph berencana untuk memindahkan pabriknya dari Tiongkok ke Indonesia dan rencananya untuk memperluas skala produksi. Dengan demikian akan memberikan 6.000 lapangan kerja bagi penduduk Indonesia.

Produsen semikonduktor Fairchild diakuisisi oleh ON Semiconductor AS pada akhir Mei, karena klaim kompensasi belum mendapat balasan, maka ribuan karyawan anak perusahaan Fairchild di Jiangsu Tiongkok melakukan mogok kerja dan unjuk rasa pada saat serah terima perusahaan yang diadakan pada 31 Mei.

Pada 10 Mei lalu, tersiar berita bahwa perusahaan Foxconn berniat membeli sekitar 1.200 hektar lahan di Maharashtra, sebuah daerah yang terletak di negara bagian India ketiga terbesar. Perusahaan akan menanamkan modalnya sebesar USD. 10 miliar untuk membangun pabrik yang memproduksi ponsel iPhone. Kabarnya Foxconn berencana untuk membangun 10 – 12 pabrik baru di India sebelum tahun 2020 dan merekrut lebih dari 1 juta karyawan.

CEO perusahaan Apple, Timothy D. Cook pada 21 Mei 2016 lalu mengungkapkan harapannya bahwa seluruh lini produksi dan pelayanan Apple yang sudah ada di Tiongkok akan dipindahkan ke India.

Menurut sumber yang berkecimpung dalam industri bahwa berdasarkan pengalaman di masa lalu, hengkangnya investor asing langsung berdampak pada sejumlah industri lokal, sehingga dalam beberapa bulan mendatang gelombang penutupan perusahaan lokal dan PHK karyawan diperkirakan akan terjadi lagi.

Dalam 4 tahun terakhir, sebagian besar perusahaan asing di Tiongkok terus melakukan perampingan, penutupan pabrik bahkan divestasi. Meskipun cara yang mereka gunakan bermacam-macam, tetapi alasan sesungguhnya hanyalah satu, yakni usaha tidak lagi menguntungkan.

Menurut laporan Beijing Licai Financial Consultants Ltd. pada 8 Juni bahwa Tiongkok sudah tidak lagi memiliki keunggulan dalam industri manufakturing, seperti biaya tanah sudah tinggi,  biaya tenaga kerja terus meningkat, beban pajak juga bertambah. Pasar yang kini sudah jenuh, membuat persaingan berjalan lebih keras, terpaksa menurunkan harga jual. Banyak produsen yang berada dalam kondisi makin berproduksi makin merugi.

Status Tiongkok adalah pabrik dunia telah menarik sejumlah besar pekerja migran untuk bekerja di perkotaan, dan pabrik-pabrik ini menggerakkan sejumlah usaha di bidang jasa, transportasi, lalu lintas, administrasi, pajak dan seterusnya.

Ini dapat tercermin dari banyaknya warga yang pulang kampung saat hari raya Imlek tiba. Yang menggerakan ini semua adalah puluhan juta perusahaan manufaktur. Bila tidak adanya perusahaan-perusahaan ini, maka pemerintah juga akan mengalami kesulitan untuk menyediakan lapangan kerja sebanyak itu kepada mereka. Selain itu bidang lainnya  juga akan terganggu.

Laporan Licai juga menyebutkan bahwa apa yang dialami Tiongkok saat ini adalah tertutupnya lapangan kerja dan krisis lingkungan hidup, bukannya kemerosotan pendapatan yang tajam dari kalangan kelas ekonomi menengah Tiongkok.

Coba pikirkan, sejumlah pemilik pabrik harus menerima kenyataan tentang lenyapnya pesanan secara tiba-tiba sehingga terdesak untuk menutup pabrik. Karena itu, jutaan pekerja migran yang menganggur terpaksa kembali ke desa.

Perdagangan di kota khususnya sektor jasa juga mengalami resesi karena menurunnya jumlah pekerja migran. Coba bayangkan, jika ratusan juta penduduk menganggur, harga properti jatuh, harga barang kebutuhan naik, bagaimana mereka harus mempertahankan hidup ?

Laporan Licai juga menyebutkan bahwa jangan sampai orang meremehkan pendapatan RMB. 3.000 yang mereka peroleh setiap bulannya, karena di balik itu tersembunyi harapan dari jutaan anak dan para orangtua yang sudah lanjut usia di kampung halaman. Mereka juga butuh makan. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular