Oleh Qin Yufei

Sejak Bank Sentral Tiongkok pada Agustus tahun lalu mengumumkan penyesuaian nilai tukar Renminbi (RMB) terhadap Dollar AS, mereka sudah menghabiskan cadangan devisa hampir mendekati USD 500 miliar. Kritikus menyebut ini sebagai suatu pemborosan yang manfaatnya hanya berupa penundaan waktu devaluasi.

Berdasarkan data resmi yang diperoleh Financial Times memberitakan bahwa sejak Agustus tahun lalu, Bank Sentral Tiongkok sudah menghabiskan total USD 473 miliar cadangan divisa untuk mengatrol nilai tukar RMB yang jatuh. Pada saat itu, Bank sentral menerapkan kebijakan keuangan baru yang memungkinkan kurs tengah RMB bergerak sesuai paritas pasar. Langkah tersebut sempat membuat investor khawatir terhadap penurunan terus menerus nilai RMB yang memang dipacu oleh pemerintah. Karena itu terjadi penjualan RMB secara besar-besaran.

Sumber yang dekat dengan Bank Sentral Tiongkok memberitahu Financial Times bahwa meskipun harga invervensi sangat tinggi, tetapi untuk memelihara kepercayaan dalam perekonomian dan mencegah terjadinya reaksi berantai akibat devaluasi yang tak terkendali, itu dinilai masih perlu dilakukan. Biar mahal asal lebih aman.

Sumber mengatakan bahwa memelihara keyakinan masyarakat baik domestik maupun internasional itu tidak kalah penting. Meskipun intervensi menggerogoti cadangan devisa, tetapi kebijakan ini tidak seyogyanya diukur hanya dari nilai angkanya saja. Bayangkan bila kepercayaan sampai runtuh, maka pemerintah akan menghadapai lebih banyak kesulitan dalam pemulihannya. Belum lagi dampak buruknya yang juga akan ikut-ikutan muncul.

Walau pejabat Bank sentral sudah mengetahui resiko cara penetapan kurs tengah RMB sebagai nilai paritas pasar akan merilis beberapa tekanan terpendam untuk mendevaluasikan RMB, namun tanpa disadari mereka telah meremehkan intensitas reaksi dari pasar. Hanya dalam 2 hari sejak kebijakan itu diumumkan, nilai tukar tengah RMB sudah terdepresi sebesar 3.5 %. Gerakan tanpa terkendali seperti ini bisa berdampak lebih luas pada sistem keuangan. Dan situasi demikian makin mendorong investor untuk melepas RMB membeli Dollar AS.

Total cadangan devisa Tiongkok bulan lalu telah berubah dari USD 3.99 triliun pada 2014 menjadi USD 3.19 triliun. Kritikus beranggapan bahwa upaya Bank Sentral Tiongkok mengintervensi nilai tukar dengan harga yang begitu tinggi merupakan pemborosan yang manfaatnya hanya untuk menunda  waktu depresiasi lebih lanjut.

Ekonom umumnya setuju bahwa tekanan depresiasi terhadap nilai RMB akan makin kuat dan mungkin bisa terjadi lagi pada saat keputusan tentang kenaikan suku bunga the Fed lebih jelas. Meskipun Bank Sentral Tiongkok terus melakukan intervensi, nilai RMB tetap akan terdepresi sebanyak 5.3 %. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular