“Setiap kali orang bertanya berapa usia saya, saya akan mengatakan bahwa saya baru berusia 7 tahun sekarang. Itu adalah usia saya setelah memperoleh kebebasan yang sejati..

Kalimat dari seorang gadis Korea Utara yang bernama Lee Hyeonseo. Gadis ini memanfaatkan air sungai Yalu yang membeku di musim dingin untuk melarikan diri ke Tiongkok. Saat itu ia berusia 17 tahun. Namun setelah 10 tahun berada di rantau, ia terpaksa kembali ke kampung halamannya untuk membawa orangtuanya  keluar  dari Korut karena otoritas terus mengancam keluarganya.

Ia untuk kedua kalinya harus  melewati perbatasan antara Korut dengan Tiongkok yang penuh dengan risiko. Dari Tiongkok mereka lalu menggunakan jalan darat menuju Asia Tenggara hingga akhirnya bisa diterbangkan ke Korea Selatan.

New York Times baru-baru ini mengundang Lee Hyeonseo untuk wawancara video online di Seoul, meminta Lee menceritakan pengalamannya dalam pelarian, kehidupan di Korea Selatan termasuk pandangannya terhadap rezim Kim Jong-un.

Kembali ke kampung halaman kedua, Tiongkok

Dalam dialog, Lee menyinggung perasaannya ketika berkesempatan untuk mengunjungi kampung halamannya yang kedua yakni Tiongkok pada Maret tahun ini. Ia mengatakan bahwa saat pesawat udara mendarat di Beijing Capital International Airport, ia merasa ingin menangis.

“Meskipun Tiongkok pernah memberi saya banyak kepedihan, kehidupan pada waktu itu juga tidak begitu sesuai dengan harapan, tetapi saya tetap menganggap Tiongkok sebagai kampung halaman yang kedua. Karena selama 10 tahun saya hidup di sana. Saya melihat banyak warga Tiongkok, ada yang berhati baik dan ada pula yang jahat,” tuturnya.

Ia mengatakan bahwa tujuan untuk kembali ke Tiongkok adalah mengharapkan lebih banyak masyarakat Tiongkok memahami situasi yang dihadapi oleh para pembelot Korea Utara dan menghimbau pemberian dukungan kepada mereka. Sekarang di Tiongkok ada sekitar 300.000 orang warga pelarian Korut, mereka sedang hidup dalam kesengsaraan, ingin pergi ke Korea Selatan tetapi tidak ada cara.

Belajar dengan keras bahasa Mandarin untuk menghindari penangkapan

Menanggapi begitu fasihnya berbicara dalam bahasa Mandarin, Lee Hyenseo mengatakan, ia sudah menyadari pentingnya berkomunikasi dalam bahasa Mandarin di tahun pertama ia menginjak daratan Tiongkok. Kalau ia tidak bisa berbicara dalam bahasa Mandarin, maka polisi Partai Komunis Tiongkok/ PKT akan lebih mudah untuk menemukan identitasnya sehingga lebih cepat tertangkap. Setelah dideportasi kembali ke Korut.

Oleh karena itu, selama 2 tahun itu ia terpaksa hanya tidar 3 – 4 jam sehari untuk belajar bahasa Mandarin, berharap lebih cepat menguasai bahasa lisan maupun tulisan Mandarin.

Tahun ketiga, ia ditangkap polisi kota Shenyang karena dilaporkan oleh teman warga Tiongkok. Beruntung ia bisa berdialog secara fasih dengan polisi hingga polisi tidak yakin ia adalah warga pelarian dari Korut. Karena itu, ia langsung dibebaskan dari penahanan. Ini adalah mujizat pertama dalam hidup Lee.

Warga Korut tidak lagi mendukung Kim Jong-un dengan sepenuh hati

Saat Lee ditanya soal sejauh mana rakyat Korut mendukung pemimpin besar mereka Kim Jong-un, ia mengataka, “Pada masa lalu, semua orang menyebut Kim Il-sung (kakek Kim Jong-un) sebagai matahari, sebagai langit dan segalanya. Tetapi kelaparan besar tetap saja terjadi, dan sekarang semakin banyak orang Korea Utara mulai kurang percaya kepada pemerintah, walau itu tidak  mutlak, karena masyarakat sudah terkena cuci otak. Mereka sadar bahwa Korea Utara bukan negara paling kaya, namun mereka masih percaya pemerintah, atau mungkin saja takut dengan resiko yang harus mereka hadapi yaitu hukuman mati.”

Hari-hari di Korea Selatan, saya selalu belajar

Ketika ditanya soal bagaimana untuk mempercepat adaptasi dengan kehidupan di Korea Selatan, Lee menjawb, “Hari-hari di Korea Selatan, saya selalu belajar. Saya baru menemukan kebebasan yang sejati dan alam demokrasi sejak tujuh tahun lalu saya berada di Korea Selatan. Banyak hal yang masih asing bagi saya. Banyak orang bertanya apa arti kebebasan bagi saya? Lalu saya katakan bahwa itu terlalu sulit untuk saya lukiskan melalui kata-kata. Namun bagi saya, duduk dalam kedai kopi di bawah langit biru sambil menikmati secangkir kopi panas, saat itu saya akan  merasakan bahwa inilah kebebasan yang membawa rasa suka cita dalam lubuk hati saya.”

Ia melanjutkan.

“Selama 17 tahun saya hidup di Utara, saya tidak pernah membayangkan suatu hari kemudian saya akan mendatangi negara musuh bebuyutan mereka, menikmati secangkir kopi? Tidak, tidak pernah saya bayangkan. Ketika selama 10 tahun saya ‘bersembunyi’ di Tiongkok, apakah saya membayangkan akan memiliki hari-hari seperti sekarang ini? Juga tidak! Saat itu yang saya pikirkan hanyalah bagaimana melepaskan diri dari penangkapan atau pemeriksaan polisi. Oleh karena itu saat banyak orang bertanya tentang usia, saya akan menjawab : Baru 7 tahun, karena itu adalah usia setelah saya memperoleh kebebasan yang sejati.”

Mendengar suara keruntuhan rezim Pyongyang

Ketika ditanya tentang pandangan Lee terhadap situasi Korut saat ini, ia menjelaskan. “April tahun ini terjadi pelarian 13 orang staf restoran Korea Utara dari tempat kerja mereka di kota Ningbo, Tiongkok ke Korea Selatan. Setelah itu, 3 orang staf restoran Korut di kota lain juga melakukan hal yang sama. Saya senang mendengar berita itu, seakan-akan suara runtuhnya rezim Pyongyang sudah berkumandang di telinga. Saya pikir durasi rezim ini akan lebih pendek dari perkiraan kita semua. Mungkin tidak sampai 10 tahun Anda dan saya akan melihat hasilnya.” (sinatra/rmat)

Share

Video Popular