Erabaru.net. Sepertiga waktu sebagian besar orang digunakan untuk tidur dalam sehari, kualitas tidur juga memengaruhi kesehatan tubuh.

Mendengkur keras, meneteskan air liur atau berbicara dalam tidur dan perilaku tidur lainnya bisa menjadi sinyal bahaya bagi kesehatan yang patut diperhatikan.

1. Melelehkan air liur (ngiler)

Dalam keadaan normal, orang dewasa ketika tidur tidak akan meneteskan air liur (ngiler). Jika ketika tidur meneteskan air liur, bisa disebabkan oleh postur tidur yang tidak benar, juga dapat disebabkan oleh beberapa penyakit.

Jika fungsi pencernaan lemah, maka zat cair dalam tubuh akan menumpuk di pencernaan, hal itu akan menyebabkan sewaktu tidur air liur yang berlebihan akan meluap dari mulut. Peradangan mulut juga dapat menyebabkan peningkatan sekresi air liur, saat tidur dalam keadaan tidak sadar ia akan menetes keluar dari mulut.

Jika dalam keadaan tidur meneteskan air liur, dan disusul dengan keesokan pagi ketika bangun terdapat gejala mulut miring atau sakit kepala, kemungkinan adalah tanda-tanda stroke serta segera memerlukan pemeriksaan medis. Selain itu, jika kaum manula menderita arteriosklerosis, dapat menyebabkan kendornya otot wajah, juga dapat menyebabkan air liur meluber ketika tidur, sebaiknya lekas diperiiksakan ke dokter.

2. Mendengkur

Banyak orang berpikir bahwa mendengkur itu adalah normal dan tidak mewaspadai gejala itu. sebetulnya, mendengkur sangat berbahaya bagi kesehatan, hal itu bukanlah wujud kualitas tidur yang baik, ada kemungkinan merupakan tanda-tanda dari penyakit.

Jika suara dengkuran berfluktuasi (tinggi rendah) dengan interfal diam 10 detik hingga beberapa menit, maka orang itu kemungkinan menderita sindrom apnea, harus selekasnya ke rumah sakit bagian pengobatan penyakit pernapasan.

Selain itu mendengkur juga menyebabkan otak dan darah un¬tuk waktu yang lama kekurangan oksigen (hipoksia) dan kondisi tekanan darah rendah, sehingga meningkatkan viskositas (keken¬talan) darah, dalam jangka pan¬jang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan penyakit kardio¬vaskular. Jadi penelitian menemukan bahwa kemungkinan pen¬dengkur terkena stroke adalah 3-6 kali lebih tinggi dari pada orang sehat.

Pengaturan posisi tidur, penu¬runan berat badan dan pengurangan stres bermanfaat meringankan gejala mendengkur.

3. Mengigau

Pengontrolan tidur tidak sepenuhnya menyebar ke seluruh permukaan kulit otak (korteks), daerah pusat bahasa di otak terkadang masih bergerak, disaat itu muncullah fenomena mengigau. Sesekali mengigau tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Tetapi jika terlalu sering, dapat menyebabkan lesu dan lelah pada siang hari, maka hal itu mungkin menunjukkan tekanan yang terlalu besar, perlu penenangan suasana hati.

Selain itu, khususnya mengigau bagi orangtua harus berhati-hati, mungkin terjadi masalah pada sistem saraf, sebaiknya melakukan pemeriksaan medis.

4. Mengerat gigi (bruxism)

Sejumlah orang ketika tidur, akan mengeratkan gigi yang menimbulkan suara kerot-kerot, setelah bangun akan merasa otot-otot wajah tegang dan sakit, terkadang disertai sakit kepala kronis, istilah medisnya gejala bruxism.

Mengeratkan gigi di malam hari selain terkait dengan cacing di dalam saluran usus, juga berkaitan dengan penyakit gigi, infeksi dan kekurangan kalsium. Beberapa penyakit sistem saraf, seperti psychomotor epilepsi, gangguan histeris juga dapat menyebabkan munculnya disfungsi korteks serebral maka terjadi gerakan kerot gigi disaat tidur. Selain itu, kelelahan di siang hari, stres emosional dan faktor psikologis lainnya juga menyebabkan kerot di malam hari.

Oleh karena itu, setelah tertidur lelap masih sering kerot gigi maka harus selekasnya mencari pengobatan yang tepat.

5. Kaki berkedut

Sejumlah orang ketika tertidur dan selama proses tidur kadang-kadang kakinya akan terlihat berkedut, tetapi pada umumnya dengan frekuensi sangat rendah, tidak akan berdampak pada kualitas tidur, hal seperti ini tidak memerlukan perawatan medis. Namun, jika berkedut lebih dari 5 kali per jam, meskipun terjadi penurunan kualitas tidur, tetapi tidak menyebabkan kelelahan di siang hari, adalah “kaki berkedut periodik ketika tidur”, maka tidak perlu ke rumah sakit untuk perawatan.

Jika kaki kedutan itu secara serius memengaruhi tidur, dan memengaruhi kehidupan serta pekerjaan di siang hari, itu adalah “penyakit kaki berkedut periodik”, maka dibutuhkan berkonsultasi ke “ahli terapi tidur”.

Memperbaiki fenomena kedutan kaki bisa dengan cara merendam kaki dalam air hangat sebelum tidur, sehingga berefek merelakskan otot kaki. (Epochtimes/Hui/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular