Erabaru.net. Ada orang yang mengeratkan giginya (bruxers) saat tidur. Sekitar 8% orang-orang punya kebiasaan mengeratkan giginya, sedangkan 70% memiliki gangguan kecemasan dan stress emosional, demikian pernyataan Chi-Mei Medical Center, Tainan, Taiwan.

Lin Zhe-yi, dokter Bedah Mulut dan Maksilofasial (Oral & Maxillofacial Surgery) di Chi Mei Medical Center mengatakan, kebanyakan dari penderita bruxism tidak sadar mereka mengeratkan gigi, dan sulit dirasakan/diketahui ; gejala akibat dari mengerat gigi meliputi gigi sensitif, sakit kepala, telinga dan leher, nyeri otot-otot wajah, rahang dan bahu kaku, tidak bisa membuka mulut secara maksimal, dan mempengaruhi kualitas tidur, nyeri wajah, otot wajah dan rahang menegang serta terganggunya tidur orang di sekitarnya dan sebagainya.

Umumnya sekitar 8% orang-orang punya kebiasaan mengeratkan gigi. Mengeratkan gigi bahkan akan diiringi dengan komplikasi penyakit terkait lainnya, seperti mendengkur, sleep apnea syndrome, mengigau (berbicara saat tidur), menyakiti diri sendiri atau perilaku kekerasan, dan Sleep paralysis atau kelumpuhan tidur (keadaan ketidakmampuan bergerak ketika sedang tidur ataupun ketika bangun).

Komunitas penderita bruxism sebagian besar adalah anak-anak muda, kaum intelek, perokok, penikmat kopi atau peminum minuman beralkohol, pemakai pil tidu. Mereka yang selalu merasakan kecemasan dan stres emosional juga diduga berhubungan dengan bruxism, sekitar 70% mereka yang terbiasa mengeratkan gigi itu memiliki gangguan kecemasan atau stres emosional . Mereka yang perfeksionis jauh lebih sering mengeratkan gigi daripada umumnya, namun, tidak ada perbedaan yang signifikan antara pria dan wanita terkait bruxism.

Dari sisi pengobatan bruxism, ada yang menggunakan pil tidur atau obat kardiovaskular lainnya, namun, hanya sebatas pada sekelompok kecil dan percobaan jangka pendek, tidak cukup untuk membuktikan efek terapeutik yang signifikan.

Lin Zheyi merekomendasikan terapi biteplate, yakni suatu perangkat intraoral, biasanya terbuat dari resin transparan, dipasang di gigi rahang atas atau bawah, melindungi gesekan gigi yang berlebihan, dan mengurangi motilitas otot, dengan begitu suara gemeretak juga akan berkurang, tapi biteplate tidak bisa menghentikan gerakan gemeretak gigi, hanya bisa mengatasi gejalanya, tidak bisa mengobati sampai ke akarnya.

Penyebab yang pasti dari kebiasaan mengerat gigi belum dapat ditentukan. Namun dari berbagai penelitian dan pendapat nara sumber, “bruxism” dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kesehatan tubuh, faktor lokal, sistemik, dan psikologis.

Faktor lokal penyebab bruxism antara lain adalah posisi dan hubungan gigi rahang atas dan bawah yang tidak normal atau tidak rata (maloklusi). Bisa juga karena sakit yang dirasakan penderita di sekitar gigi atau wajah, sehingga mengerat gigi dilakukan secara tidak sadar sebagai upaya untuk mengurangi rasa sakit.

Walaupun kebiasaan ini tidak disengaja, namun stres yang berlebihan dan tipe kepribadian tertentu seringkali diduga sebagai penyebab tipikal bruxism. Bruxism mempengaruhi orang-orang dengan ketegangan saraf seperti cepat marah, gusar, kesakitan, frustasi, dan atau orang-orang yang agresif, tergesa-gesa dan kecenderungan kompetitif yang berlebihan. Kontak yang tidak normal antara gigi atas dan bawah, dan posisi tidur juga berhubungan dengan bruxism.(Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular