Korea Utara sejak Maret menjalani sanksi ekonomi berat dari Dewan Keamanan PBB akibat melanggar hukum internasional dengan uji coba senjata nuklir dan peluncuran rudal balistik. Sanksi internasional menyebabkan pundi-pundi Kim Jong-un menyusut tajam.

Kondisi tersebut membuat mayoritas rakyat Korea Utara yang selama ini kurang gizi karena pembagian jatah makanan yang minim, kembali harus menerima kenyataan bahwa beras yang dibagikan pemerintah sekarang akan dipotong lagi sehingga menjadi 360 gram per orang per hari.

Resolusi PBB menyebutkan, kekayaan milik individu atau lembaga yang berkaitan dengan program pengembangan nuklir dan rudal balistik wajib dibekukan. Media Korea Selatan ‘Daily NK’ melaporkan bahwa sejumlah nama perusahaan Korut telah dimasukkan ke dalam daftar menerima sanksi.

Akibatnya, pemerintah Korut dan perusahaan perdagangan yang menjadi afiliasinya sedang menghadapi fenomena kekurangan devisa yang parah. Dan banyak dari perusahaan itu gagal dalam membayar hutang kepada perusahaan mitranya yang ada di Tiongkok. Pembayaran  hutang terus ditanguhkan.

Rekening yang juga terkena sanksi pembekuan asset internasional adalah milik Room 39 Partai Buruh Korut yang dananya lebih banyak dipakai untuk membiayai kebutuhan pribadi Kim Jong-un dan keluarga. Karena Kim Jong-un sendiri yang mengawasi pengeluaran, maka rekening milik biro ini dapat disebut sebagai pundi-pundi Kim Jong-un. Namun, pundi sekarang sedang kekurangan devisa.

Selain lembaga Korut terkena sanksi ekonomi, seluruh rakyat Korut juga terpaksa ikut membayar kesalahan Kim Jong-un. Sejak April sampai Juni, jatah makan rakyat yang dibagikan pemerintah telah menurun menjadi 360 gram per orang per hari. Angka tersebut sudah jauh di bawah angka 600 gram yang direkomendasikan oleh PBB. Juga target 573 gram yang ditetapkan oleh pemerintah Korea Utara sendiri.

Suara Amerika pada Kamis (16/6/2016) memberitakan, pemerintah Korut sekarang sedang mengalami kesulitan untuk mempertahankan pasokan minimal yang 360 gram per orang per hari tersebut.

Organisasi Pangan dan Pertanian melaporkan bahwa jumlah konsumsi pangan per orang Korea Utara sekarang sudah menurun sebanyak 12 % dibandingkan pada 2015. Akibat alasan curah hujan yang rendah dan menurunnya persediaan air untuk irigasi, panen pangan Korut tahun 2015 adalah 5.42 juta ton, menyusut sebanyak 9 % dibandingkan pada 2014.

Analisa Suara Amerika, kekeringan pada 2015 adalah penyebab utama berkurangnya produksi beras dan jagung Korut. Sejak produksi beras yang menjadi makanan utama orang Korut menurun sekitar 26 %, tanaman kecil lainnya seperti kedelai terpaksa digunakan untuk menebus kekurangan pangan negara itu.

Akibat menyusutnya persediaan pangan Korut, ada sekitar 18 juta orang dari 25 juta total penduduk Korut yang mengalami kekurangan gizi. Tingkat penduduk kekurangan gizi sudah mencapai 41.6 % sekarang. Naik 6.1 % dari tahun antara 2005 – 2007 yang 35.5 %. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular