Pesawat tempur F-35 Lightning II buatan AS disebut senjata generasi baru yang tercanggih dan termahal, yang mampu bermulti fungsi seperti perang udara – udara, perang udara – darat, intelijensi, pemantauan, dan pelacakan. Komentator mengkritik jet tempur yang biaya produksinya mahal dengan cacat desain dan niat memiliki multi fungsi ini justru sangat merepotkan. Bahkan helm pelindung pilot pesawat ini pun menuai kritik.

Jet tempur F-35 memilik dua keunikan. Pertama, jet ini adalah jet tempur siluman yang memiliki teknologi menghilang dari pantauan radar. Kedua, adalah teknologi gambar “fusion” dengan sensor yang ada di seputar badan pesawat yang memberikan pandangan sampai 360o kepada pilot.

Pesawat tempur ini rencananya akan digunakan di AU, AL, dan Marinir di Amerika Serikat serta 10 negara sekutu lainnya. Belanda telah membeli pesawat tempur F-35 siluman tipe terbaru ini dan beberapa waktu silam telah diserahterimakan dua unit F-35, menjadikannya sebagai negara Eropa pertama yang memiliki F-35. Tapi pesawat tempur ini termasuk helmnya juga menuai kritik di dalam negeri AS.

Menurut berita di VoA, jet pancar gas berteknologi siluman tipe F-35 itu bernilai sekitar USD 100 juta (1,3 triliun rupiah) per unit, ini belum termasuk harga mesinnya. Hingga saat ini, keseluruhan biaya mulai dari biaya desain, inisiasi, dan biaya produksi diperkirakan mencapai USD 350 milyar (4.678 triliun rupiah), dan angka ini masih terus meningkat.

Akan tetapi, kontroversi terbesar mungkin ada pada helm pilot yang bernilai lebih dari USD 400 ribu (5,3 miliar rupiah). Helm ini adalah satu bagian yang tidak boleh tidak ada dalam sistem persenjataan pesawat tempur. Seorang perwira AU Amerika yang memiliki pengalaman tempur yakni Mayor Will Andre Horta adalah kapten unit armada tempur F-35, pilot, sekaligus juga pelindung proyek ini.

Keterangan foto: Helm F-35 memiliki informasi penggunaan semua senjatanya, tapi fungsi ini pun dikritik. (internet)
Keterangan foto: Helm F-35 memiliki informasi penggunaan semua senjatanya, tapi fungsi ini pun dikritik. (internet)

Helm Miliki Informasi Penggunaan Semua Senjata

Menurut VoA, Andre Horta, “Helm ini memiliki semua informasi penggunaan senjata yang kami miliki, baik menoleh ke depan atau menoleh ke kiri dan kanan, semua informasi itu akan ada. Di dalam helm telah diunduh semua informasi sistem di dalam pesawat, semuanya bisa saya lihat lewat helm ini. Jadi, ini bukan sekedar helm biasa.

Dalam hal ini, di bagian ubun-ubun, sebenarnya adalah letak sentral komputer helm. Semua informasi akan diproses disini dan diputuskan informasi apa yang ditampilkan pada kita. Kaca pelindung mata di depan ini kami sebut dengan kaca monitor, dengan kata lain, semua informasi tersebut ditampilkan di kaca ini.”

Surat kabar “Washington Post” pernah memberitakan, ketika pilot pesawat tempur F-35 terbang dengan kecepatan supersonic pada ketinggian 50.000 kaki, kondisi peperangan aktual di darat seluas 360º  bisa terlihat dari pesawat. Karena di badan pesawat telah dipasang 6 buah kamera yang menerima sinyal dari gerakan kepala pilot.

Ditambahkan bahwa pilot pesawat F-35 memiliki keunggulan tak tertandingi. Masker depan helm itu tidak hanya melindungi mata sang pilot, juga memberitahu kondisi pesawat kepada pilot, seperti sisa bahan bakar dan ketinggian terbang, serta memberikan kemampuan pandangan malam kepada pilot. Pemasok senjata mengatakan, “Pilot F-35 memiliki kemampuan kesadaran situasional yang tak tertandingi.”

Helm generasi ketiga F-35 ini memiliki sistem tampilan yang mampu mengurangi tingkat kebisingan, lebih dapat memenuhi kebutuhan pilot serta memiliki kemampuan fitur video.

Helm Picu Kontroversi

Berita VoA menyebutkan, bahwa menurut Greetsiel dari Pengawasan Proyek Pemerintah, helm yang sangat mahal ini adalah satu sinyal yang merefleksikan masalah yang lebih besar, yakni menempatkan terlalu banyak benda di satu tempat.

“Berawal dari keinginan menempatkan semua teknologi dalam satu helm, mereka telah menaikkan biaya dan tingkat kerumitannya, yang kemudian akan menimbulkan beban maintenance, karena berarti pesawat ini bertambah lagi satu macam suku cadang yang mungkin akan mengalami kerusakan di kemudian hari,”  kata Greetsiel  melalui Skype kepada VoA.

F-35 tidak terlepas dari kamera pada helm, karena posisi duduk pilot lebih rendah daripada jenis jet tempur lain. Greeiter mengatakan, ini adalah salah satu kelemahan desain.

“Bagi para wajib pajak, ini berarti kita tidak hanya harus membayar untuk desain kokpit tempat pilot saja, tapi sekarang bertambah lagi kerumitan desain helm harus membayar USD 500 ribu (6.7 miliar rupiah) lagi, untuk mengatasi kendala yang seharusnya diatasi dengan desain teknis sederhana,” katanya.

Pesawat F-35 didesain untuk penggunaan selama 50 tahun, yang akan diproduksi sebanyak 2500 unit untuk AU, AL, dan Marinir AS, sejumlah negara sekutu yang berpartisipasi dalam proyek ini juga akan memesan ratusan unit. Negara lain yang ikut ambil bagian dalam proyek ini tengah mengirim para pilotnya ke Arizona untuk mendapat pelatihan terbang dengan F-35. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular