Oleh: Su Yang

Para astronom mendeteksi keberadaan oksigen di galaksi jauh yang berjarak sekitar 13.1 miliar tahun cahaya dari bumi. Ini merupakan oksigen di galaksi terjauh yang pernah ditemukan di alam semesta. Karena galaksi tersebut memiliki galaksi muda yang terbentuk hanya 700 juta tahun setelah Big Bang, sehingga dapat membantu memahami lebih lanjut tahap awal pembentukan alam semesta.

Dengan menggunakan data dari Atacama Large Millimeter / submillimeter Array (ALMA) di Gurun Atacama di Chili, tim peneliti internasional yang dibentuk astronom dari Jepang, Swedia, Inggris dan European Southern Observatory (ESO), menemukan sinyal oksigen terionisasi di galaksi SXDF-NB1006-2 yang jauhnya sekitar 13.1 miliar tahun cahaya dari Bumi.

Ketika tim tersebut melakukan pengamatan dengan sensitivitas tinggi menggunakan ALMA, mereka menemukan cahaya oksigen terionisasi dari galaksi SXDF-NB1006-2. Ini merupakan oksigen terjauh yang pernah di temukan, membuktikan bahwa unsur oksigen telah ada pada 700 juta tahun lalu setelah Big Bang.

Para peneliti mengatakan, oksigen dalam galaksi SXDF-NB1006- 2 tersebut jumlahnya 10 kali lipat dari oksigen di matahari kita. Hal ini dikarenakan alam semesta kala itu masih sangat muda, dan sejarah pembentukan bintang juga relatif singkat.

Para peneliti mengatakan, bahwa pengamatan terhadap galaksi SXDF-NB1006-2 oleh tim tersebut adalah untuk menemukan keberadaan unsur berat. Mencari keberadaan unsur-unsur berat di alam semesta awal tersebut merupakan metode penting untuk mengeksplorasi proses pembentukan bintang pada periode itu. Ini dapat membantu memahami bagaimana proses pembentukan galaksi, dan faktor apa yang menyebabkan terjadinya reionisasi kosmik (cosmic reionization).

Menurut penuturan ilmuwan, alam semesta lahir dari Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Di masa awal kelahiran alam semesta ketika itu dipenuhi dengan gumpalan gas yang cukup untuk membentuk bintang-bintang dan galaksi pertama, namun, belum ada bintang yang terbentuk ketika itu. Setelah memancarkan sinar ultraviolet intens terionisasi dan menghancurkan sebagian besar hidrogen bermuatan netral, membelahnya untuk membentuk proton dan electron.

Rincian tentang zaman reionization sangat sulit untuk di kumpulkan karena mereka terjadi begitu lama. Untuk melihat cahaya dari zaman kuno tersebut, peneliti mencari objek-objek yang sangat jauh – semakin jauh mereka, semakin lama waktu cahaya untuk sampai ke Bumi. Obyek yang jauh tersebut hanya dapat dilihat dengan teleskop terbaik yang tersedia saat ini.

Masih banyak yang tidak diketahui tentang zaman reionization, contohnya seperti apa bintang-bintang pertama terlihat, bagaimana galaksi paling awal terbentuk dan apa sumber cahaya yang menimbulkan reionisasi. Beberapa pekerjaan sebelum menyarankan bahwa bintang-bintang masif yang sebagian besar bertanggung jawab untuk reionization, tetapi penelitian lain mengisyaratkan bahwa lubang hitam adalah pelaku utama dan berpotensi dominan di balik fenomena ini.

Sekarang, dengan melihat sebuah galaksi kuno, peneliti mungkin telah menemukan petunjuk tentang penyebab reionization. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular