Rezim Kim Jong-un terus menciptakan ancaman kepada dunia, karena itu, bagian penelitian dari badan intelijen swasta AS, STRATFOR baru-baru ini menerbitkan sebuah laporan yang diberi judul ‘Removing the Nuclear Threat’ (Menghapus Ancaman Nuklir). Laporan tersebut sempat membuat tegang saraf Kim Jong-un.

Media ‘Chosun Ilbo’ memberitakan, laporan STRATFOR itu dibagi menjadi 5 bab. Isinya termasuk upaya untuk menghancurkan kemampuan pengembangan nuklir dan senjata nuklir Korea Utara. Melakukan serangan udara yang gencar dengan menggunakan rudal, peluru kendali, juga panduan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan balas dendam Korut dan penanganan para korban.

Skenario tentang serangan udara yang gencar pada bab ketiga merupakan inti dari laporan tersebut. Di sana dijelaskan bahwa Amerika akan memulai serangan dengan memobilisasi lebih dari 10 buah pesawat pembom siluman B-2 dan 24 buah pesawat tempur juga siluman F-22 ke Korea Utara untuk menghancurkan fasilitas militer yang berada di Yongbyon. Bab ini juga menjelaskan jenis dan banyaknya bom yang akan digunakan.

Menurut evaluasi dari laporan itu, besarnya kekuatan perusak dari bom yang dibawa B-2 diperkirakan cukup untuk menghancurkan markas komando pertempuran Kim Jong-un. Selain itu, serangan udara yang gencar juga diharapakan dapat dalam waktu singkat membumihanguskan seluruh fasilitas militer utama yang dimiliki oleh Korut.

Bab 4 dan 5 memberikan analisa tentang ‘untung rugi’ bila serangan AS dilakukan dengan tindakan militer. Karena Korut akan mengerahkan rudal balistik dan senjata biologi, rudal jarak pendek dan pasukan khususnya untuk menyerang Korea Selatan dan Jepang, termasuk juga serangan cyber.

Berkaitan dengan jumlah korban warga Korea Selatan yang mungkin timbul akibat serangan rudal Korut. Analisa dalam laporan itu menyebutkan bahwa beberapa orang beranggapan, senjata tua dan bom bisu (tidak meledak) milik Korea Utara bisa langsung berpengaruh pada efektivitas senjata.

Namun analisa para pakar menunjukkan bahwa serangan itu masih memiliki kelayakan yang terbatas dan beban resiko yang tidak kecil. Sementara itu, badan-badan intelijen Kore Selatan maupun AS masih gagal untuk memahami seberapa besar persediaan uranium dan fasilitas produksi bawah tanah Korut. Karena itu hasil serangan udara AS jadi terbatas.

Namun demikian, rezim Korea Utara sempat dibuat terkejut dan tegang saraf oleh laporan ini, Kim Jong-un takut kalau AS bermain sungguhan. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular