Bagi Anda yang suka menyeruput minuman panas sebaiknya waspada, laporan studi yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia-WHO mengatakan bahwa minuman panas dapat menyebabkan kanker kerongkongan.

Faktornya adalah suhu, bukan dari minuman itu sendiri

Laporan penelitian kanker terbaru yang dirilis International Agency for Research on Cancer, IARC (Badan Internasional untuk Penelitian Kanker, IARC-WHO) menyebutkan, bahwa konsumsi minuman yang sangat panas di atas 65 derajat celsius diklasifikasikan sebagai karsinogenik (zat penyebab kanker). Dan sekadar catatan, kanker kerongkongan merupakan kanker peringkat kedelapan dunia yang umum ditemui, demikian dikutip dari laman CNN, Rabu (15/6/2016).

Minuman panas lebih dari 65 derajat celsius termasuk air, kopi, teh, dan minuman lainnya rentan menyebabkan luka bakar pada saluran kerongkongan, di mana lama kelamaan dapat berkembang menjadi kanker kerongkongan. Menurut American Burn Association (Asosiasi Luka Bakar Amerika), bahwa suhu untuk minuman teh, kopi dan minuman panas lainnya biasanya lebih dari dari 65 derajat Celcius, dimana hal ini dapat menyebabkan luka bakar pada kulit jika sering terkontak dengan suhu setinggi ini.

Penikmat minuman panas di Tiongkok, Iran, Turki, Amerika Selatan dihimbau sebaiknya waspada

IARC mengatakan, penelitian ini melibatkan 23 ahli kanker terkemuka yang mendapatkan hasilnya dengan mengumpulkan dan menganalisis data karsinogenesis terkait minuman panas secara global. Meskipun bukti yang dikumpulkan itu terbatas, namun, “studi di negara-negara seperti Tiongkok, Iran, Turki, dan Amerika Selatan, di mana teh dan kopi seringkali disajikan pada suhu 70 derajat Celsius.

“Hasil penelitian terkait menyebutkan bahwa minum minuman panas lebih dari 65 derajat Celcius adalah salah satu penyebab kanker esophagus, tapi ini disebabkan karena suhunya, bukan karena minuman itu sendiri,” kata Dr Christopher Wild, direktur IARC.

Untuk itu, minuman panas seharusnya didiamkan beberapa saat hingga suhunya sesuai dengan suhu ruang, atau didinginkan dulu.

Menurut statistik, bahwa sekitar 400 ribu orang tewas pada 2012 karena kanker kerongkongan (Menduduki 5 persen dari total kematian akibat kanker). Merokok dan minum alkohol juga dapat menyebabkan kanker esofogus, terutama di negara-negara maju. Namun sebagian besar kanker esofagus terjadi di bagian Asia, Amerika Selatan, dan Afrika Timur.

LARC bahkan telah menggolongkan minuman panas ke dalam daftar bahan beracun (karsinogen) berbahaya, bersama timbal (Pb), chloroform, dan timbal.

Sementara itu, penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa untuk menikmati minuman panas sebaiknya pada kisaran suhu 57,8 derajat Celcius (136 derajat Fahrenheit).

Mengesampingkan kemungkinan kopi sebagai karsinogenik

WHO melalui Badan Penelitian Kanker Internasional (IARC) sebelumnya memasukan kopi sebagai “kemungkinan karsinogenik”. Kesimpulan yang dimunculkan sejak tahun 1991 itu akhirnya diklarifikasi pada Rabu (15/6/2016). Seperti diketahui, dengan berdasarkan bukti yang terbatas, LARC pada tahun 1991 memasukan kopi sebagai karsinogenik, namun, setelah mengkaji lebih dari 1.000 studi ilmiah terhadap manusia dan hewan. Hasilnya, tidak ada bukti cukup untuk mengklasifikasikan kopi sebagai karsinogenik maupun non-karsinogenik.

Meski demikian peminum kopi juga masih tetap diimbau waspada. Karena IARC mengatakan bukti ilmiah lain menunjukkan bahwa minum apa pun sangat panas, sekitar 65 derajat Celsius atau lebih, termasuk air, kopi, teh, kemungkinan dapat menyebabkan kanker esofagus atau kerongkongan.

Terlepas dari itu, Perhimpunan Kopi Nasional AS menyambut baik perubahan klasifikasi IARC itu. Mereka menyebutnya sebagai “Berita baik bagi peminum kopi”.

Menurut laporan penelitian tersebut, banyak studi epidemiologi menunjukkan bahwa minum kopi tidak akan menyebabkan kanker pankreas, kanker payudara dan kanker prostat, justeru berkhasiat menurunkan risiko kanker hati dan kanker endometrium.

70%-90% Zat karsinogen berasal dari lingkungan eksternal

Sebuah studi 2015 lalu menyebutkan, 10 % – 30 % faktor kanker itu berasal dari tubuh manusia, artinya 70%-90% zat karsinogen itu berasal dari lingkungan eksternal. Sementara pada Oktober di tahun yang sama, laporan yang dirilis WHO menyebutkan bahwa daging olahan seperti sosis, ham dan zat karsinogenik lainnya, serta daging merah yang belum diolah dikategorikan sebagai kemungkinan karsinogenik.

Sementara itu, sebuah studi lain menyebutkan bahwa makanan ala Barat cenderung lebih rentan menyebabkan kanker usus besar dan kanker prostat. Bagi kaum pria yang suka dengan makanan Barat, angka kematian akibat kanker prostat meningkat 2,5 kali. Makanan ala Barat ini umumnya mengacu pada makanan rendah serat dan kaya akan gula halus, lemak jenuh dan makanan yang mengandung protein hewani.

Laporan yang dirilis Environmental Working Group-EWG pekan lalu mengatakan, di dalam tubuh warga Amerika mengandung 420 jenis zat kimia yang diketahui dapat menyebabkan zat karsinogen, dan 9 di antaranya itu melebihi batas yang ditetapkan U.S. Environmental Protection Agency – EPA atau Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: Headline KESEHATAN

Video Popular