Erabaru.net. Apakah anak Anda akan mencemaskan hal-hal yang sepele ? Gampang kecewa atau frustrasi ? Menunjukkan simpati atau rasa setia kawan yang melampaui usianya ? Jika demikian, maka besar kemungkinan anak Anda adalah sesosok pribadi yang sensitif.

Anak yang sensitif akan mendekap erat kaki ibunya ketika berhadapan dengan orang asing atau tak dikenal.

Akan menangis di pesta ulang tahun, akan merasa cemas dengan kurang baiknya performa yang ditunjukkan dalam kegiatan di seolah.

Sementara selaku orangtuanya anak yang sensitif, dimana karena merasa serba salah atau canggung akan mencari alasan mengatakan “anak saya itu hanya agak malu” atau “ia gampang merasa sedih”, lalu sambil tersenyum berharap kepala keluarga lainnya bisa memakluminya.

Mendidik anak yang sensitif merupakan sebuah tugas yang berat dan merepotkan, setiap langkah harus selalu hati-hati, sangat sulit untuk menangani segala sesuatunya itu dengan baik. Namun, ada beberapa cara sederhana yang dapat membuat anak itu lebih tenang saat menghadapi sesuatu.

Yvette Vignand, seorang ahli pendidikan anak mengatakan bahwa kunci dalam bergaul dengan anak yang sensitif itu tergantung bagaimana kita membuatnya merasa aman dan sentuhan kasih sayang, serta bisa berhubungan satu sama lain dengan batin orang yang merawatnya.

Kalau begitu, apa yang harus dilakukan dan bagaimana konkretnya ?

Pertama, Anda bisa bicarakan dulu dengan anak-anak mengapa mereka merasa khawatir, apa yang dicemaskan, dan situasi “paling buruk” yang bagaimana menurut mereka. Di sela-sela bincang-bincang, Anda bisa yakinkan mereka, bahwa hal-hal yang membuatnya khawatir itu sebenarnya tidaklah seburuk seperti yang mereka bayangkan.

Kedua, Anda harus menjadi seorang pendengar yang baik. Biarkan anak-anak menyampaikan perasaan mereka. Biasanya, hanya bila ada yang mendengarkan dengan sabar apa yang mereka sampaikan itu dapat mencairkan kecemasan mereka. Selama mereka merasakan rasa aman dan sentuhan kasih sayang (perhatian), dan tahu ada yang mau mendengarkan mereka, maka mereka akan menjadi lebih rileks ketika berada dalam lingkungan atau situasi yang pernah membuat mereka merasa tegang.

Dalam kehidupan sehari-hari atau di lingkungan yang baru, sebagai orangtua sebaiknya terus memberinya dukungan, dorongan semangat dan apresiasi. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri anak. Ketika anak Anda keluar dari zona kenyamanan mereka, jangan lupa untuk memuji usaha mereka, hargai mereka, dan akui prestasi yang mereka capai.

Berikan kesempatan pada anak-anak untuk melakukan apa yang mereka inginkan, dan biarkan mereka saat melakukan kesalahan. Hal ini mungkin sulit bagi orangtua, tapi ini sangat penting. Jangan tiba-tiba intervensi, dan jangan coba-coba membuat segalanya menjadi lebih mudah bagi mereka untuk mengatasinya. “Bagaimanapun juga, anak Anda perlu belajar mendorong (semangat) diri sendiri dalam lingkungan yang membuat mereka cemas,” kata Yvette Vignand menjelaskan.

Selain itu, suasana hati orangtua juga sangat penting. Jangan biarkan kecemasan Anda memengaruhi mereka. Perasaan cemas sangat mudah mempengaruhi anak yang sensitif.

Yvette Vignand mengatakan : “Anak Anda mungkin selamanya akan memiliki hati yang sensitif, tapi ini tidak berarti mereka tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan apa pun. Simpati Anda, pemahaman dan keyakinan Anda terhadap perasaan mereka, serta dorongan Anda akan sangat membantu mereka dalam perjalanan di masa depan.”

Sebagai orangtua juga harus menyadari, bahwa meskipun perasaan yang dimanifestasikan anak-anak sekarang mungkin agak emosional, tapi ini tidak berarti mereka akan selalu begitu selamanya. Ingatlah, bahwa setiap anak yang sensitif memiliki sekeping hati yang mengasihi dan bersimpati pada orang lain. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular