Oleh: Zhou Huixin

Di sebuah warnet di kota Liuzhou propinsi Guangxi, Tiongkok, seorang pelajar sekolah menengah mengisi ulang baterai ponselnya lewat komputer warnet tersebut sambil menggunakan ponsel, lalu terjadi korslet yang menyebabkan kematiannya. Kamera CCTV merekam seluruh peristiwa itu.

Dalam rekaman terlihat teman sekelasnya berusaha menyelamatkannya, namun orang-orang di sekitar mereka hanya diam menonton dan berpangku tangan, kemudian meneruskan bermain internet kembali. Netizen mengecam “sikap dingin yang mengerikan” itu.

Pada 10 Mei 2016, peristiwa terjadi di sebuah warnet di kota Liuzhou. Cuplikan yang terekam CCTV itu memperlihatkan, ketika pejalar duduk di depan komputer dengan tangan menggenggam ponsel, yang sepertinya terhubung ke komputer.

Tiba-tiba seluruh tubuhnya tersentak ke belakang, dan tergeletak di atas kursi. Teman sekelasnya yang duduk bersebelahan dengannya segera mencabut kabel pengisi daya ponsel, seketika itu juga api terlihat memercik keluar. Pelajar yang tersengat listrik itu terlihat sempat sedikit bereaksi, namun kehilangan kesadarannya setelah itu.

Dalam rekaman terlihat kejadian itu menarik perhatian orang-orang sekitar, namun mereka hanya menonton dan berpangku tangan saja selama beberapa detik, lalu kembali terhanyut dalam kesibukan di depan komputer seolah tidak terjadi apa-apa. Pelajar yang tersengat listrik itu dilarikan ke rumah sakit namun sudah tidak tertolong lagi. Setelah peristiwa itu teman sekelas korban mengatakan, pihak warnet juga tidak segera menelepon polisi, juga tidak segera menelepon 120 untuk meminta pertolongan, sehingga waktu berharga untuk pertolongan pertama pun terlewatkan.

Mengapa Warga RRT Begitu Dingin?

Entah sejak kapan, warga RRT telah terbiasa menonton keramaian, yang seolah tanpa henti mementaskan berbagai adegan tragedy. Orang yang terjatuh sakit di jalanan tidak ada yang peduli, terjadi kecelakaan lalu lintas tidak ada yang menelepon 110, pemuda yang mencoba menangkap seorang pencopet tidak ada yang membantu.

Seorang manula di provinsi Jiangsu bangun subuh pergi ke pasar untuk membeli sayur murah, sialnya ia terjatuh dengan tubuh melorot perlahan dan roboh ke lantai, lalu meninggal dunia akibat sesak nafas, dan tidak ada yang menolong. Seorang manula di Chengdu mendadak tewas, teman-temannya bermain mahjong tidak peduli dan permainan jalan terus dengan mayat berada di samping mereka.

Di Guilin, setelah mobil menabrak orang, seorang wisatawan asing membantu mengatur lalu lintas sambil menolong korban, di sekitarnya banyak warga lokal yang hanya melihat saja.

Seorang wanita dari luar kota jatuh pingsan di Shanghai, tidak seorang pun memapahnya selama hampir setengah jam, padahal jarak mereka dari korban hanya beberapa meter.

Seorang wanita di Wenzhou melompat ke sungai, ribuan orang menyaksikannya, tapi tidak seorang pun menolongnya, dan hanya menonton wanita itu mati tenggelam.

Seorang wanita di Shenyang melompat dari gedung tinggi, ribuan orang menonton dengan dingin, bahkan ada yang sempat berteriak, “Ayo, cepat loncat!”

Pada 2011 kecelakaan “kereta komuter Yongwen” mengakibatkan banyak korban tewas, aparat terkait bukannya focus untuk mengevakuasi korban, tapi justru sibuk mengubur gerbong kereta.  Ilmuwan pendukung berat PKT He Zuoxiu saat ditanya mengenai kecelakaan tambang yang kerap terjadi mengatakan, “Siapa suruh Anda begitu sial terlahir di RRT?”

Dan lain sebagainya.

PKT Telah Membentuk Warga RRT Menjadi Tidak Berperasaan

Mengapa warga Tiongkok kini begitu dingin? Perasaan dingin ini, adalah semacam sikap, yang saling bertolak belakang dengan kehangatan, persahabatan, dan seiring dengan dendam dan kebencian. Mengapa sikap dingin warga RRT semacam ini tidak pernah ada dalam sejarah, juga tidak ada di negara lain?

Pada ajaran Konfusius di dalam kebudayaan tradisional Tiongkok diajarkan tentang “orang baik mencintai sesama” dan harus “memiliki belas kasih” terhadap kaum lemah. Ajaran Buddha mengatakan “jangan lakukan kejahatan apa pun, lakukanlah sebanyak mungkin kebajikan.” Inti kebudayaan Barat juga menekankan kebebasan, kesetaraan dan kasih sayang.

Lalu, di tengah ajaran dan budaya seperti ini moral dan etika bagaimanakah yang akan terbentuk? Apakah orang yang hatinya penuh dengan kebajikan, ramah dan belas kasih akan dingin seperti itu?

Seorang komentator bernama Li Jiran mengatakan, kebudayaan tradisional Tiongkok yang dulunya cemerlang telah “direvolusi” oleh PKT, rakyat Tiongkok telah kehilangan “belas kasih,” unsur “damai” di tengah masyarakat juga telah pudar, dan telah tergantikan oleh budaya partai. Budaya partai yang sesat mengutamakan perseteruan, berkuasa secara otoriter, harus dingin terhadap musuh laiknya angin musim gugur yang meniup rontok dedaunan, harus memegang teguh benci dan dendam agar bisa menghabisi musuh.”

PKT mendoktrin kebencian dan dendam untuk membuka jalan bagi gerakan politik dan pembantaian yang dilakukannya, maka jadilah berbagai gerakan mulai dari tahun 50-an: Anti Tiga, Anti Lima, Penindasan Kontrarevolusi, pemberantasan oposan, Bunuh Kapitalis, Bunuh Tuan Tanah dan Lompatan Besar. Pada 1960-1980: Revolusi Kebudayaan. 1989: Pembantaian kaum muda di Tiananmen. Sejak 1999: Penindasan Falun Gong, Gereja Rumahan, Tibet dan Uighur.

Pembantaian sepanjang sejarah yang diiringi dengan propaganda akan kebencian dan dendam, menjadikan tidak seorang pun rakyat Tiongkok yang luput dari doktrin kebencian ini. Lewat kekerasan selama puluhan tahun pemerintahan PKT ini, warga Tiongkok telah “terlatih” menjadi dingin dan tidak berperasaan. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular