Oleh Dhyana Pramana

New York – Budi pekerti erat kaitannya dengan akhlak atau moral. Budi Pekerti berasal dari dua kata yang secara harfiah berarti “sadar” (Budi)  dan “tabiat, watak, kelakuan” (Pekerti). Di Indonesia, pendidikan Budi Pekerti sudah sejak lama terpinggirkan. Namun di Amerika Serikat, negeri dengan deretan perguruan tinggi ternama, materi ini justru mulai dilirik.

Pendidikan membentuk masa depan dan budaya bangsa, dan ujian perguruan tinggi adalah salah satu faktor pentingnya. Amerika Serikat paham betul kondisi ini.

Pada 11 Juni 2016, Classic Learning Test (CLT), sebuah tes masuk perguruan tinggi, diaplikasikan untuk pertama kali. Ini adalah alternatif dari Scholastic Aptitude Test (SAT) dan American College Testing (ACT).

Target CLT adalah menyertakan unsur budi pekerti dan etika dalam peningkatan intelektual. Selain itu, CLT bertujuan untuk mendorong pendidikan moral, serta menekan “edukasi netral” terhadap moral yang dirasakan mencederai generasi muda.

CLT dikembangkan oleh David Wagner dan Jeremy Tate, seorang konsultan dan konselor perguruan tinggi. Tate menjelaskan kepada Epoch Times masalah yang dihadapi dunia pendidikan dan solusi yang ia harapkan dari CLT.

“Apa yang kami lihat dalam dunia pendidikan modern adalah [pendekatan] cepat saji. Mahasiswa menjadi roda penggerak mesin ekonomi. Tujuan utama adalah untuk mengembangkan seperangkat keterampilan dan dipekerjakan, bahkan mungkin menjadi partisan dalam demokrasi,” katanya.

Namun menurut Tate, secara historis, pendidikan menekankan pada pembentukan karakter, menciptakan manusia dengan watak tertentu. Tujuan yang ingin ia capai adalah mengembalikan kembali tujuan klasik dari pendidikan. Hal ini ternyata banyak didukung oleh warga Amerika.

Awal tahun ini, Harvard University mengumpulkan dekan-dekan dari berbagai perguruan tinggi ternama untuk membuat sebuah laporan berjudul “Turning the Tide: Inspiring Concern for Others and the Common Good”. Laporan ini menyerukan untuk memberi penekanan lebih banyak pada pengembangan karakter dan mengurangi unsur akademis dalam ujian masuk perguruan tinggi.

Hingga sekarang, ada 13 perguruan tinggi yang sudah menerima CLT. Jumlahnya mungkin akan meningkat cepat seiring kepopuleran homeschooling di Amerika. Menurut Tate, dukungan kuat CLT datang dari orang tua murid yang menerapkan homeschooling.

Salah satu perguruan tinggi yang baru menerima CLT dalam sistem pendidikannya adalah The King’s College New York. Vice President The King’s College, Kimberly Thornbury, menyatakan kepada Epoch Times via email, “Standar ujian masuk perguruan tinggi ini mencerminkan nilai dan semangat yang merupakan inti dari visi – misi perguruan tinggi kami.”

Northeast Catholic College adalah perguruan tinggi pertama yang mendukung CLT. Katie Moffett, direktur penerimaan mahasiswa di Northeast Catholic College, mengatakan kepada Epoch Times, “Kami baru saja memutuskan bahwa nilai ACT dan SAT adalah opsional karena mereka tidak menggambarkan informasi yang paling penting bagi kami ketika mengevaluasi kandidat.

“Kami merasa CLT benar-benar merefleksikan berbagai nilai dan latar belakang pendidikan yang ingin kami lihat dari calon siswa kami,” tambahnya.

Ia mengatakan ini dapat membantu Northeast “untuk benar-benar memahami mereka sebagai pribadi, sebagai mahasiswa, dan sebagai pelamar.”

Tes CLT terdiri dari tiga bagian, yakni penalaran verbal, tata bahasa/tulisan, dan penalaran kuantitatif. Tate mengatakan bahwa tes ini didesain untuk memberi dampak pada mahasiswa.

”Ketika siswa keluar ruangan tes, target kami adalah mereka tidak hanya mengatakan soalnya sulit, ujiannya mudah, atau berapa kira-kira nilai saya? Ujian ini sendiri akan menantang mereka untuk berpikir tentang bagaimana mereka menjalani hidup,” pungkas Tate. (wid/rmat)

Share

Video Popular