Tiga kepala negara dari Tiongkok, Rusia dan Mongolia pada Kamis (23/6/2016) Juni bertemu dalam KTT SCO (Organisasi Kerjasama Shanghai) di Tashkent, Uzbekistan dan menandatangani perjanjian untuk membentuk  koridor ekonomi.

Presiden Xi Jinping memimpin pertemuan itu dengan Presiden Vladimir Putin dan Presiden Tsakhiagiin Elbegdorj di Tashkent. Pertemuan ini merupakan pertemuan ketiga bagi mereka untuk membahas masalah yang berkaitan dengan pembentukan koridor ekonomi yang oleh kalangan luar disebut sebagai jalur sutera ekonomi Timur-Barat.

Seperti yang dilaporkan oleh media Tiongkok bahwa ketiga kepala negara tersebut telah menandatangani Perjanjian Pembuatan Rancangan untuk Membentuk Koridor Ekonomi Tiongkok – Mongolia – Rusia, Perjanjian antar Pajak dan Bea Cukai Tiongkok, Rusia dan Mongolia untuk Saling Mengakui Hasil Pengawasan Kepabeanan terhadap Produk Tertentu serta beberapa dokumen kerjasama lainnya.

Laporan menyebutkan bahwa dalam pertemuan pertama ketiga kepala negara itu yang terjadi pada tahun 2014, Presiden Xi Jinping telah melontarkan gagasan untuk menyatukan jalur KA Eurasia milik Rusia dengan jalur padang rumput milik Mongolia sampai ke Tiongkok. Koridor transnasional yang dapat membuat lancar transportasi barang dan jasa diharapkan mampu membawa pertumbuhan ekonomi bagi ketiga negara tersebut.

Jalan bebas hambatan pertama di Mongolia yang menghubungkan kota Zamyn Uud – Ulaanbaatar – Altanbulag telah resmi dioperasikan pada 29 Mei 2015, sebagai tanda dimulainya rencana pembangunan proyek jalur sutera.

Pada saat yang sama, pembangunan infrastruktur lintas perbatasan juga dikerjakan oleh pihak Tiongkok juga Rusia. Selain KA Yuxinou jurusan Tiongkok – Eropa pp yang melewati Rusia, Rusia dan Tiongkok saat ini sedang merancang pembangunan jalur KA antara kota Suifenhe – Manzhouli – Rusia – Eropa. Juga jalur KA Suifenhe – pelabuhan Timur Jauh Rusia. Kanal transportasi strategis berbasis laut-darat tersebut diharapkan menjadi jalur transportasi penting pada koridor ekonomi bagian Tiongkok dan Rusia.

Mongolia menerapkan strategi diplomatik 3 negara tetangga

SCO atau Organisasi Kerjasama Shanghai sudah ada pada 2001, dibentuk bersama oleh Tiongkok, Kazakstan, Kyrgyzstan, Rusia, Tajikistan dan Uzbekistan. Namun Mongolia yang negaranya berada di antara Rusia dengan Tiongkok waktu itu hanya berstatus sebagai pengamat.

Menurut laporan BBC, Mongolia sudah menerapkan strategi diplomatik 3 negara tetangga sejak awal tahun 90-an. Mereka menempatkan Amerika, Jepang dan kekuatan NATO sebagai 3 negara tetangga untuk mencari keseimbangan antara kekuatan dunia dan kekuatan regional Rusia dan Tiongkok.

Strategi diplomatik Mongolia itu mendapat dukungan dari AS, Mongolia sejak 2012 mulai menjadi pemimpin bergilir Aliansi Demokrasi Global dan menjadi model untuk AS memperagakan demokrasi di Asia. Belum lama ini, Menteri Luar Negeri AS John Kerry saat berkunjung ke Mongolia, ia memuji Mongolia adalah sebuah oase bagi demokrasi Asia. Menlu Mongolia juga merespon dengan mengatakan bahwa AS adalah tetangga ketiga di luar Rusia dan Tiongkok.

Melalui strategi diplomatik 3 negara tetangga itu Mongolia aktif mengembangkan kerjasama militer dengan AS dan NATO. Setelah serangan 11 September, Mongolia membuka wilayah udara  dan fasilitas militernya untuk digunakan AS. Setelah pecah Perang Irak pada 2003, Mongolia mengirim pasukannya ke Irak untuk membantu AS berperang. Pada 2005, Mongolia mengajukan kepada NATO permintaan unttuk bergabung menjadi “Program Kemitraan Global.”

Pada 2012, status Mongolia di NATO di tingkatkan dari anggota ‘Negara Kontak’ menjadi anggota ‘Negara mitra Global’, dan menikmati perlakuan yang sama seperti Australia, Korea Selatan, Jepang dan New Zealand.

Namun, dalam pertumbuhan ekonomi Mongolia sangat tergantung pada Tiongkok dan Rusia. 75 % dari energi mereka disuplai oleh Rusia, sedangkan 90 % transaksi perdagangan dan keuangan dilakukan melalui Tiongkok..

BBC melaporkan, sama halnya dengan perusahaan multinasional bersaing untuk tujuan memperoleh sumberdaya alam. Mongolia juga menjadi lapangan kompetisi politik dan diplamatik negara-negara seperti Tiongkok, Rusia, SGO dengan AS dan NATO.  (sinatra/rmat)

Share

Video Popular